Hukum Menceritakan Hubungan Intim kepada Orang Lain

0
5512

BincangSyariah.Com – Tidak jarang, pengantin baru menjadi bulan-bulanan keluarga bahkan tetangga. Selain itu, media sosial mereka (jika ada) juga akan  dibanjiri ucapan selamat. Bahkan mungkin ada pertanyaan usil dari orang terdekat, misalnya ingin tahu apa yang dilakukan pasangan tersebut di malam pertama. Lantas, bagaimana hukumnya pasangan suami istri menceritakan hubungan intim kepada orang lain?

Sebelum menanggapi pernyataan dan pertanyaan di atas, penting menyimak hadis berikut ini

ان شر الناس منزلة عند الله يوم القيامة الرجل يفضي الى امرأته وتفضي اليه ثم ينشر سرها – رواه مسلم

Inna syrronnasi manzilatan ‘indallahi yaumal qiyamati arrojulu yufdhi imroatahu watufdhi ilaihi, tsumma yansyuru sirroha.

Paling buruknya kedudukan manusia di sisi Allah nanti di akhirat adalah orang laki-laki yang berhubungan badan dengan istrinya, lalu ia menceritakan rahasianya pada orang lain. (HR. Muslim)

Melalui hadis di atas maka dapat disimpulkan bahwa menceritakan aib atau rahasia pasangan hukumnya haram. Keharaman ini melihat pada ancaman dari Allah untuk orang yang melakukannya. Bahkan dicap sebagai manusia terburuk kelak di akhirat.

Namun, aib atau rahasia ini bermakna umum. Baik yang berhubungan dengan fisik atau psikis pasangan. Maka, bisa jadi termasuk di dalamnya saat berhubungan di dalam atau di luar kamar. Namun titik tekannya pada hal yang berkaitan langsung dengan hubungan di atas ranjang. Misalkan ditanya tentang bagaimana, berapa kali, berapa lama, siapa yang kalah, dan lain sebagainya.

Hemat penulis, Jika terpaksa menjawab, maka menjawab sekedarnya saja. Tidak perlu terlalu detail. Terpaksa ini dalam artian jika dituduh tidak-tidak oleh pasangan. Misalkan dituduh lemah syahwat atau impoten, padahal tidak. Dijelaskan oleh Syaikh Muhammad Luqman al-Salafi dalam karyanya Tuhfatul Kirom Fisyarhi Bulughil Marom disebutkan:

Baca Juga :  Hikmah Pagi: Air Mata yang Dirindukan Langit

وجوازه للحاجة كان تدعي المرأة عليه العجز عن الجماع فيذكر ذلك.

Boleh menceritakan hubungan di atas ranjang sekedar kebutuhan. Misalkan dituduh tidak mampu berjima’ (impoten) oleh sang istri, kemudian ia meluruskannya.

Oleh karena itu, urusan dalam kamar tak perlu diumbar ke khalayak ramai. Cukup menjadi cerita manis berdua sepasang suami istri. Ghibah tetangga saja hukumnya haram, apalagi keluarga sendiri? Na’udzubillah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here