Hukum Mencabut Uban

0
378

BincangSyariah.Com – Beruban umumnya menandakan bertambahnya usia pemiliknya. Terkadang, orang yang beruban berusaha untuk mencabut atau menyemir ubannya tersebut dengan semir rambut berwarna hitam. Mencabut uban juga biasa dilakukan masyarakat di kampung sambil mengobrol ngalor-ngidul. Uban biasanya juga terasa gatal di kepala jika tidak dicabut. Namun, tidak sedikit yang berkata pada orang yang mencabut uban, “Awas, ubannya jangan dicabut nanti kan jadi cahaya di surga.”

Perkataan tersebut memang ada dasarnya, yaitu Hadis Nabi Saw. berikut ini:

لَا َتْنتَفوا الشَّيْبَ، مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَشِيْبُ شَيْبَةً فِى اْلِإسْلَامِ». قَالَ عَنْ سُفْيَانَ « إِلَّا كَانَتْ لَهُ نُوْرًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ ». َوقَالَ فىِ حَدِيْثِ يَحْيَى « إِلَّا كَتَبَ اللُه لَهُ بِهَا حَسَنَةٌ وَحَط عَنْهُ بِهَا خَطِيْئَة ً»

“Jangan kamu cabut ubanmu, karena seorang yang beruban ketika sudah beragama Islam, – dalam riwayat dari Sufyan – maka ubannya akan menjadi cahaya baginya di hari kiamat. Dalam riwayat Yahya – melainkan Allah akan ganjarkan baginya kebaikan dan menghapus kesalahannya.”

Hadis ini diriwayatkan oleh Abu Dawud, al-Tirmidzi, Ibn Majah, Ahmad, dan al-Baihaqi. Dalam riwayat ini, perawinya adalah ‘Amru ibn Shu’aib dari ayahnya dan dari kakeknya. Dalam disiplin ilmu hadis, hadis yang seperti ini dikenal sebagai riwayatu al-Abna ‘an al-Abaa’ (riwayat anak dari orangtua). Selain itu, dengan penggunaan lafal ‘an (dari), menjadikan hadis ini disebut hadis mu’an’an. Hadis dengan tipe mu’an’an ini perlu ditinjau kembali, karena adanya kemungkinan antara satu rawi dengan  yang lain tidak bertemu.

Hadis dengan tipe mu’an’an ini perlu ditinjau kembali, karena adanya kemungkinan antara satu rawi dengan  yang lain tidak bertemu.

Meskipun begitu, banyak ulama yang mensahihkannya. At-Tirmidzi menyatakan hadis ini sebagai hadis yang hasan. Sementara itu, ulama kontemporer semisal al-Albani menyatakan hadis ini sebagai hadis sahih. Dalam hadis lain, Rasulullah menyatakan bahwa mencabut uban sebagai salah satu tindakan yang tidak disukai Rasulullah Saw. Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud Ra.:

Baca Juga :  Benarkah Mengurung Burung untuk Dipelihara Terlarang?

أَنَّ نَبِىَّ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ يَكْرَهُ الصُّفْرَةَ يَعْنِى الْخَلُوقَ وَتَغْيِيرَ الشَّيْبِ يَعْنِى نَتْفَ الشَّيْبِ وَجَرَّ الإِزَارِ وَالتَّخَتُّمَ بِالذَّهَبِ وَالضَّرْبَ بِالْكِعَابِ وَالتَّبَرُّجَ بِالزِّينَةِ وَإِفْسَادَ الصَّبِىِّ غَيْرَ مُحَرِّمِهِ

“Nabi Saw. tidak suka orang yang menggunakan wewangian kuning (yang menyengat), mencabut uban, menjulurkan kain bawahan hingga ke tanah, menggunakan cincin emas, menyangga payudara (bagi budak, untuk mengelabui), bersolek (dengan menor), dan merusak anak dengan” (HR Baihaqi).

Adalah Imam al-Baghawi, dalam kitabnya yang berjudul Sunan al-Kubra menghadirkan seluruh hadis-hadis tentang hukum mencabut uban. Seluruh hadis-hadis yang disajikan al-Baghawi juga menggambarkan bahwa mencabut uban itu dilarang. Namun, selain al-Baghawi, tidak ada ulama yang menggunakan redaksi haram, hanya menggunakan lafazh karahiyyah (dimakruhkannya). Meskipun perlu dicatat, bahwa penggunaan karahiyyah dalam kitab hadis, terkadang sama seperti haram dalam tingkatan derajat larangan untuk dikerjakan.

Selain itu, al-Baghawi menyajikan satu riwayat dari Sa’id bin al-Musayyab bahwa Nabi Ibrahim As. adalah orang yang pertama kali dikhitan, dan orang yang pertama kali beruban. Lalu, ia bertanya langsung kepada Allah: Rabbi, Ma Hadza ? (Tuhanku, apa ini ?). Allah pun menjawab: Wiqaarun (tanda kepantasan untuk dihormati). Ibrahim pun berdoa, rabbi zidnii wiqaara (Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku tanda yang menjadikanku pantas dihormati).

Al-Ghazali dalam Ihya ‘Ulum al-Din menyajikan cerita bahwa dimasa Umar bin Abdul Aziz pernah ada seorang pemuda yang menikahi perempuan. Pemuda ini rupanya menggunakan cat rambut berwarna hitam, lalu kemudian luntur. Keluarga perempuan pun melaporkan peristiwa ini ke kehakiman, lalu pernikahan mereka dibatalkan dan pemuda ini diberi hukuman dera Begitu peristiwa ini didengar oleh Umar bin Abdul Aziz, ia menyatakan bahwa “Anda telah menipu masyarakat dengan menutupi ubanmu sehingga orang lain mengira Anda masih muda!”

Baca Juga :  Hukum Memakan Hewan Pemakan Kotoran Manusia

Jadi, sebenarnya pelarangan pencabutan uban adalah sebagai perintah agama kepada manusia untuk menyadari kalau uban ternyata adalah bagian dari tanda menuanya usia. Orang yang sudah tua usianya, diharapkan untuk semakin bijak, arif, dan terwujud lewat tumbuhnya uban. Meskipun, agama juga menyuruh untuk menjaga kebersihan dengan tidak membiarkan uban terlihat tidak rapih dan pantas. al-Ghazali pun menegaskan dalam Ihya bahwa beruban yang diniatkan agar terlihat zuhud, atau terlihat orang saleh, maka hukumnya haram. Wallahu A’lam

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here