Hukum Menasihati di Kolom Komentar

2
1921

BincangSyariah.Com – Pembaca yang budiman barangkali tahu atau pernah mengalami langsung menerima ucapan “sekedar mengingatkan” di teras jejaring sosial, terutama di bagian komentar netizen. Biasanya ujaran tersebut ditulis di bawah postingan yang kurang menjiwai nilai islam –entah itu tutorial, iklan produk, model pakaian, ceramah ustaz, sampai kelakuan public figure (selebgram). Ketika ada perkara ‘non-syar’i’ terdeteksi, jari dan keyboard segera beradu mengutip ayat al-Qur’an, hadis Nabi, pendapat pribadi, lalu diakhiri dengan kata sakti tadi, sekedar mengingatkan.

Memang, setiap muslim memang dianjurkan untuk mendakwahkan agama Islam yang diyakininya.. Jadi boleh dibilang, fenomena di atas adalah bentuk living Qur’an dan mikro-spirit dari perintah Allah SWT dalam Q.S. Ali Imran ayat 110:

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ

“Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang mungkar”

Namun, akibat penyalahgunaan dan spamming –bahkan terhadap hal-hal sepele, kalimat “sekedar mengingatkan” akhirnya mengalami disfemia dan lebih bermakna peyoratif. Belakangan malah dipakai untuk menyindir (sarkasme) orang-orang yang sok berdakwah.

Supaya tidak terjadi lagi perkara serupa, kiranya kita perhatikan poin penting dari Syekh Abu Fattah Abu Ghuddah, ulama besar dan masyhur dari Suriah.

Dalam bukunya ar-Rasul al-Mu’allim beliau menegaskan, agar seorang muslim hanya menunjukkan kesalahan saudaranya (taubikh) secara personal/empat mata. Mengingat dampak psikologis dari sebuah aib yang terekspos bervariasi, ada yang biasa-biasa saja, ada juga yang merasa bangunan citranya runtuh. Tergantung pribadi dan karakter orang tersebut.

Meskipun nasihat beliau ini dalam konteks ruangan kelas, mafhum muwafaqoh (pemahaman lebih luasnya) dari penjelasan tersebut adalah, apalagi jika itu terjadi di  di jagat maya –yang sangat mungkin membuat kita berinteraksi dengan siapapun, meskipun sama sekali belum pernah bertatap muka.

Baca Juga :  Interaksi Rasulullah dengan Pemuda yang Ingin Berzina

Cukuplah sabda Rasulullah SAW sebagai rem kita dari ketergesa-gesaan bertindak sebagai ‘polisi moral’ di media sosial:

مَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Barangsiapa menutupi (aib) seorang muslim, maka Allah akan menutup aibnya pada hari kiamat”. (HR. Bukhari no. 2262, Muslim no. 4867)

Andai kekeliruan dalam suatu postingan –Youtube, Facebook, Instagram dan lain-lain memang fatal dan belum ada orang lain yang mengingatkan akan hal itu, seyogyanya kita hubungi akun tersebut bukan di kolom komentar, melainkan via pesan langsung (direct message, private chat, dsb.) – demi menjujung tinggi kredibilitas dan martabat yang bersangkutan.

Karena dakwah hukumnya fardhu kifayah, kritik saran ini tetap perlu disampaikan sekurang-sekuranya oleh satu orang. Nabi SAW bersabda:

مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ , فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ , وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإيمَانِ

“Barangsiapa di antara kamu melihat kemungkaran hendaklah ia mencegah kemungkaran itu dengan tangannya. Jika tidak mampu, maka dengan lisannya. Jika tidak mampu, maka dengan hatinya. Dan itulah selemah-lemah iman”. (HR. Muslim no. 70)

Berdakwah memang kepada siapapun, kapan pun, dimana pun. Tapi harus tetap memperhatikan situasi-kondisi dan implikasinya. Agar kita tidak berbisik kepada orang tuli atau tersenyum kepada orang buta. Saya ingin menutup dengan pesan yang biasa disampaikan oleh almarhum K.H. Zainuddin MZ, bahwa mengemban tugas dakwah itu, mata harus setajam rajawali, hati sepeka radar, kaki sekuat bionic dan tangan sehalus seniman.

2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here