Hukum Menangkal Hujan Menurut Islam

0
31

BincangSyariah.Com – Datangnya hujan di permukaan bumi membawakan banyak kemanfaatan bagi masyarakat, namun di balik kemanfaatan tersebut tidak sedikit menyimpan dan dianggap sebagai pengahalang kelangsungan aktivitas sehari-hari. Demi kelansungan aktivitasnya, mereka berupaya menangkal hujan agar tidak menghalangi hajatnya. (Baca: Shalat di Bawah Guyuran Hujan, Apakah Shalat dalam Kondisi Seperti Itu Sah?)

Setiap daerah memiliki adat-istiadat yang berbeda. Sebagaimana yang terjadi di sebagian penduduk Indonesia, ketika akan mengadakan acara seperti resepsi pernikahan, khitanan dan lain sebagainya, masyarakat setempat berupaya menangkal hujan demi kelancaran acara. Sebagian media yang digunakan untuk menangkal hujan di antaranya bacaan doa, memasang sapu lidi dalam keadaan terbalik, memasang azimat di atas pohon sekitar halaman rumah, menaburkan garam di atap rumah dan lain sebagainya. (Baca: Pesan Simbolik dalam Tradisi Islam Nusantara)

Islam mengimbau kepada pemeluknya untuk menghilangkan kesulitan yang dialaminya dalam berbagai aspek. Sampai-sampai pada saat nabi Saw. merasa kesulitan akibat turunnya hujan, beliau Saw. mengeluh dan berdoa kepada-Nya:

اللهم حوالينا ولا علينا اللهم على الآكام والظراب وبطون الأودية ومنابت الشجر

 Allahumma Hawalaina Wala’alaina Allahumma ‘alal Akami Wadz-dzirobi Wabuthunil Audiyati Wamanabitisy-syajari

 “Ya Allah, turnkanlah hujan disekitar kami dan jangan di atas kami. Ya Allah, Turunkanlah di atas bukit-bukit, dataran tinggi, jurang lembah dan tempat tumbuhnya pepohonan” (HR. Bukhari dan Muslim).

Syaikhul Islam Zakariya al-Anshori dalam karyanya Asna al-Mathalib fi Syarhi Raudl al-Thalib juz satu vol.293 menyampaikan:

وإن تضرروا بكثرة المطر بتثليث الكاف أو دام الغيم عليهم بلا مطر وانقطعت الشمس عنهم وتضرروا به سألوا الله تعالى ندبا رفعه فيقولوا ما قاله صلى الله عليه وسلم لما شكي إليه ذلك اللهم حوالينا ولا علينا اللهم على الآكام والظراب وبطون الأودية ومنابت الشجر رواه الشيخان

Baca Juga :  Pandangan Ibnu Arabi Mengenai Keberimanan Fir’aun

 Bila mereka merasa kesilutan dengan adanya hujan yang banyak atau menyelimutinya mendung (tanpa hujan) dan hilangnya sorotan matahari, mereka mengalami kerugian sebab hal tersebut maka disunahkan untuk memohon kepada Allah Swt. agar menghilangkannya, lalu berdo’a sebagaimana do’a rasul saat mengeluh akan hal tersebut “Allahumma Hawalaina Wala’alaina Allahumma ‘alal Akami Wadz-dzirobi Wabuthunil Audiyati Wamanabitisy-syajari”.

 Doa merupakan salah satu kunci untuk menggapai keberhasilan. Doa yang dilantunkan untuk kepentingan seperti menangkal hujan seringkali disebut dengan ruqyah atau mantra.

Dalam persoalan mantra, para ulama menyampaikan:

)و( لا بأس ب (الرقى) جمع رقية (بكتاب الله)– (بالكلام الطيب) من غير القرآن — وكان الإمام ابن عرفة يقول إن تكرر النفع به تجوز الرقية به ولا شك أن تحقق النفع به لا يكون كفرا

Tidak dipermasalahkan (memakai) mantra dengan ayat al-Qur’an atau selain ayat-ayat al-Qur’an. Imam Ibnu Rif’ah berkata “Bila telah teruji kemanfaatan (mantra yang tidak dipahami artinya) maka diperbolehkan memakainya. Dan terbuktinya kemanfaatan (mantara) tersebut berarti bukan (mantra yang) menyimpan kekufuran” (al-Fawakih al-Diwani juz.dua vol.370)

نعم إن وجدناها في كتاب من يؤثق به علما ودينا فإن أمر بكتابها أو قراءتها احتمل القول بالجواز حينئذ

 “Bila menemukan mantra yang tidak diketahui artinya dalam kitab karya seorang yang terpercaya keilmuan dan agamanya dan sang-pegarang memerintahkan untuk menulis atau membacanya maka diperbolehkan” (Fatawa al-Imam al-Nawawi vol.200).

Upaya fisik seorang insan tidak akan terlepas dari pengaruh hati. Oleh karenanya perlu diperhatikan pula bahwa perputaran alam semesta berada dalam genggaman Tuhan. Kebaikan dan keburukan yang melanda seseorangpun tidak akan terlepas dari kuasa-Nya. Sehingga semua kejadian yang muncul di muka bumi harus tetap diyakini bahwa hal tersebut adalah rencana dan kuasa Tuhan. Dan semua upaya atau tindakan hanya sebagai menyebabkan keberhasilan atau kegagalan.

Baca Juga :  Agama dan Negara dalam Kacamata Mahfud MD

Syekh Ibrahim al-Baijuri dalam karyanya Tuhfah al-Murid menyampaikan:

ومن اعتقد أن المؤثر هو الله وجعل بين الأسباب والمسببات تلازما عاديا بحيث يصح تخلفها فهو مؤمن الناحي إن شاء الله. إهـ 

“Barang siapa menyakini bahwa Muatsir (yang mencipatakan segala sesuatu) adalah Allah Swt. dan sebab-akibat hanya sebatas kebiasaan yang masih bisa gagal, maka dia adalah seorang mukmin yang selamat”.

 Satu hal penting yang perlu diketahui lagi bahwa Tuhan memberikan harta benda kepada manusia agar mereka membelanjakannya untuk kebaikan dan kemaslahatan. Dalam arti, pemakaian harta benda yang tidak menyimpan kemaslahatan dunia maupun agama merupakan larangan dan masuk dalam kategori Idlo’atul Mal atau menyia-nyiakan harta.

Taqiyudin Abu al-Fath Muhammad bin Ali bin Wahb bin Muthi’ al-Qusyairi yang dikenal dengan Ibnu Daqiq al-Id dalam karyanya Ihkam al-Ahkam juz pertama vol.215 menyampaikan:

وأما “إضاعة المال” فحقيقته المتفق عليها بذله في غير مصلحة دينية أو دنيوية وذلك ممنوع لأن الله تعالى جعل الأموال قياما لمصالح العباد وفي تبذيرها تفويت لتلك المصالح

“Menyia-nyiakan harta pada hakikatnya (sebagaimana kesepakatan ulama) adalah mengorbankan harta tidak dalam kemaslahatan dunia atau agama. Hal tersebut dilarang karena Allah Swt. menjadikan harta sebagai penunjang kemaslahatan hamba-Nya. Dan menyia-nyiakannya berarti menghilangkan kemaslahatan tersebut”.

 Dari pemaparan di atas, memberikan kesimpulan bahwa Hukum memasang atau melakukan penangkalan hujan dengan berbagai media adalah tindakan yang legal dengan syarat sebagai berikut:

Pertama, wiridan/doa dan mantra atau ruqyah tidak mengandung kekufuran. Kedua, wiridan/do’a dan mantra tidak diketahui artinya diperoleh dari orang-orang ‘arif. Ketiga, tetap berkeyakinan bahwa usaha dan hasil hanya sebatas sebab-akibat (kebiasaan) dan muatsir atau yang menciptakan hujan adalah Allah Swt. Keempat, tidak terdapat unsur menyia-nyialan harta.

Baca Juga :  Hikmah Pagi: Gila Yang Sesungguhnya (2)

Wallahu A’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here