Hukum Menalkinkan Mayat

2
2012

BincangSyariah.Com – Salah satu persoalan yang menjadi perdebatan di kalangan umat Islam hingga hari ini adalah masalah hukum menalkinkan mayat setelah ia dikebumikan. Ketika seseorang dalam kondisi sekarat, biasanya salah seorang dari keluarganya atau pun orang yang dianggap alim dalam agama dimintai untuk membimbing yang bersangkutan untuk membaca kalimat tauhid di telinganya.

Begitu juga setelah mayat selesai dikuburkan, salah seorang di antara mereka duduk sembari membacakan doa-doa khusus untuk mayat, yang sebagian di antaranya berisikan bimbingan dalam menjawab pertanyaan malaikat Munkar dan Nakir di dalam kubur. Pertanyaannya sekarang adalah apakah amalan tersebut boleh dilakukan?

Salah satu riwayat yang menyinggung masalah tersebut terdapat dalam riwayat Ibnu Majah dalam kitab Sunan-nya seperti berikut :

لقننوا موتاكم لا إله إلا الله

Ajarilah orang yang meninggal di antara kalian (dengan) kalimat la ilaha illallahu

Hadis dengan redaksi yang serupa juga dikutip oleh beberapa ahli hadis lain seperti Imam Muslim dalam Shahih Muslim-nya, Imam Abu Daud, al-Tirmidzi, serta Ibnu Majah dalam kitab Sunan mereka. Imam Ahmad bin Hambal dalam kitab Musnad-nya, dan juga diriwayatkan dalam kitab-kitab hadis lain seperti Shahih Ibnu Hibban, al-Muntaqa karya Ibnu Jarud, Sunan al-Baihaqi, Sunan Abi Ya’la, Riyadh al-Shalihin karya Imam Nawawi dan lain-lain. Hal itu menunjukkan bahwa hadis ini termasuk hadis yang sangat populer sehingga diriwayatkan oleh banyak ahli hadis.

Kemudian jika ditinjau dari kualitas sanad-nya, maka tidak diragukan lagi bahwa hadis ini shahih karena diriwayatkan oleh para pe-rawi yang kredibel. Kalau pun ada sebagian jalurnya yang berstatus dhaif, hal tersebut tidak akan berpengaruh banyak karena kualitasnya akan meningkat menjadi hadis hasan lighairihi, lantaran banyaknya jalur lain yang memperkuat maknanya. Tapi dalam status aktualnya hadis ini berderajat shahih dan diriwayatkan oleh Imam Muslim yang -menurut Mahmud Thahan dalam Taisir-nya- hanya memasukkan hadis-hadis shahih yang muttafaq ‘alaih (disepakati) ke dalam karyanya, Shahih Muslim.

Setelah mengetahui kualitas sanad-nya, yang perlu diketahui selanjutnya adalah apa dan bagaimana pemahaman para ulama terkait makna dari hadis talkin ini. Hal ini sangat penting karena sebagian oknum di luar sana, ada yang secara spontan menyebut amalan talqin itu sebagai suatu hal yang bid’ah dan tidak patut untuk diamalkan oleh seorang muslim. Secara umum tidak ada perbedaan pendapat di kalangan ulama mengenai bolehnya menalkinkan seseorang yang akan meninggal dunia dengan kalimat-kalimat yang baik seperti ucapan “Laa ilaaha illa Allahu” dan lain-lain.

Baca Juga :  Anjuran Adzan dan Iqamat pada Telinga Bayi yang Baru Lahir

Syekh Fuad Abd al-Baqi sebagaimana yang dikutip oleh Sayyid Ibrahim Mustafa Futuhi dalam hasyiyah-nya terhadap kitab Sunan Ibnu Majah menyatakan bahwa makna dari kata-kata “mautaakum” yang terdapat dalam hadis di atas adalah “man hadharahu al-mautu”, yaitu seseorang yang tengah menghadapi kematian. Sementara itu dalam riwayat Abu Daud terdapat hadis yang mengisyaratkan bolehnya menalkin orang yang sedang sekarat (muhtadhor) dengan membacakan surat Yasin. Namun bagaimana dengan menalkinkan mayat yang sudah dikuburkan? Apa hadis itu bisa menjadi dalil.?

Habib Zain al-Abidin Baa’lawi dalam karyanya al-Ajwibah al-Ghaliyah fi Aqidah al-Firqah al-Najiyah menuturkan bahwa mayoritas ulama dari kalangan Syafiiyyah dan Hanabilah, serta sebagian dari Hanafiyah dan Malikiyah membolehkan talkin mayat setelah ia meninggal dan dikuburkan. Bahkan mereka menghukumi hal itu dengan sunah, dalam artian orang yang melakukannya mendapatkan pahala dari Allah Swt. karena telah berbuat suatu kebaikan yang masyru’ (ada tuntunannya dari agama) serta hal ini sekaligus bermanfaat bagi mayat yang telah dikuburkan dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan malaikat Munkar dan Nakir.

Pernah diceritakan dalam sebuah hadis shahih bahwa seseorang yang telah wafat dan dikuburkan, lalu para pengiringnya hendak melangkah pulang ke tempat masing-masing, maka sang mayat tersebut -dengan izin Allah- dapat mendengar bunyi gesekan sandal mereka. Hadis tersebut diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam kitab Shahih-nya yang bersumber dari Ibnu Abbas sebagai berikut :

قَالَ : الْعَبْدُ إِذَا وُضِعَ فِى قَبْرِهِ، وَتُوُلِّىَ وَذَهَبَ أَصْحَابُهُ حَتَّى إِنَّهُ لَيَسْمَعُ قَرْعَ نِعَالِهِمْ

Ibnu Abbas berkata: “Seorang hamba apabila ia telah dikuburkan, kemudian teman-temannya kembali dan pergi meninggalkan kuburannya, maka sungguh ia mendengar bunyi sandal mereka”.

Baca Juga :  Siapakah Dia yang Layak Disebut Keturunan Nabi Muhammad?

Sementara itu, Imam al-Nawawi dalam kitabnya yang masyhur Aladzkar menyebutkan bahwa menalkinkan mayat setelah dikuburkan adalah sunah menurut para ulama dalam mazhab Syafi’i seperti misalnya Qadhi Husein dalam kitab Ta’liq-nya, Abu Sa’id Al-Mutawalli dalam kitab Tatimmah dan masih banyak yang lain. Dalam kitab Fatawa-nya, Ibnu Shalah menyebutkan bahwa, “talkin seperti yang disebutkan adalah sesuatu yang telah kami pilih dan kami amalkan”. Bahkan Ibnu Taimiyah dalam karyanya Majmu’ al-Fatawa menuliskan bahwa menalkin mayat setelah dikuburkan telah ada sejak zaman sahabat dan bahkan ada di antara mereka yang memerintahkan hal tersebut seperti Abu Umamah al-Bahili dan lainnya.

Dengan demikian talkin adalah suatu hal yang bermanfaat untuk mayat, karena pada dasarnya mayat dapat mendengarkan panggilan-panggilan dari orang yang masih hidup terhadapnya, sebagaimana yang telah disebutkan dalam hadis riwayat Bukhari di atas.

Kemudian mengenai sampai atau tidaknya amalan itu, atau perkara logis atau tidaknya hal tersebut, kembali kepada sejauh mana keyakinan kita masing-masing terhadap riwayat-riwayat yang telah disebutkan. Lagipula yang akan menyampaikan talkinan itu pada dasarnya adalah Allah Swt. dan Ia jugalah yang memberikan kekuatan kepada mayat yang bersangkutan untuk bisa mendengar.

Wallahu A’lam

2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here