Hukum Memugar Kuburan Menurut Mazhab Syafii

1
2253

BincangSyariah.Com – Islam adalah agama yang sempurna. Tak hanya urusan beribadah saja, islam juga memberikan arahan dan rambu-rambu dalam kehidupan sehari-hari. Salah satunya adalah dalam masalah memelihara dan mengurus area kuburan umat muslim, termasuk juga memugar kuburan.

Ada rambu-rambu yang ditetapkan oleh syariat dalam hal ini. Berdasarkan hukum asal makam atau kuburan seorang muslim hanya boleh ditinggikan sebatas sejengkal tangan untuk menandai atau agar terlihat bahwa itu adalah kuburan dan memudahkan saat hendak ziarah kubur.

Hal itu berdasarkan hadis riwayat Imam Baihaqi berikut

 أن النبي – صلى الله عليه وسلم – رش على قبره الماء ، ووضع عليه حصباء من حصباء العرصة ، ورفع قبره قدر شبر

Sesungguhnya Nabi Saw. Menyiramkan air di atas kubur anaknya, dan meletakkan kerikil dari kerikil tanah dan meninggikan kuburnya kira-kira sejengkal.

Sedangkan jika lebih tinggi dari itu, syariat memberikan beberapa rincian tergantung berdasarkan keadaan pemakaman yang ditempati. Jika kuburan ada di pemakaman umum atau tanah wakaf yang diperuntukan bagi umat muslim maka tidak boleh meninggikannya apalagi dibuatkan bangunan di atasnya.

Karena hal itu menyebabkan area pemakaman sempit dan menyusahkan jika ada yang hendak mengubur di samping-sampingnya. jika ada bangunan yang berlebihan di area yang diperuntukkan umum. Selain itu memang mengurangi hak orang lain. Demikian pendapat mayoritas ulama ahli fikih.

Hal itu sebagaimana disampaikan oleh al-Khathib al-Syarbini, ulama penganut mazhab Syafii, dalam Mughni al-Muhtaj dengan redaksi berikut ini

“لو بني عليه في مقبرة مُسَبَّلَة -وهي التي جرت عادة أهل البلد بالدفن فيها-هدم البناء؛ لأنه يضيق على الناس، ولا فرق بين أن يبني قبة، أو بيتاً، أو مسجداً، أو غير ذلك”

Baca Juga :  Ini Alasan Surat Alfatihah Cocok Digunakan untuk Ruqyah

Berkata al-khathib al-Syarbini, “jika kuburan yang dibangun berada di pemakaman umum -yang diperuntukkan untuk  masyarakat- maka harus dihancurkan, karena itu membuat sempit, baik dibuatkan kubah, rumah, masjid atau selainnya.”

Namun jika terdapat hal mendesak sehingga harus dibuatkan bangunan di atas kuburan tersebut, seperti khawatir ada pencurian mayat, galian hewan, maka hal ini masuk ke dalam hal yang dikecualikan menurut ulama. Sa’id bin Muhammad Ba’ali dalam kitab Busyra al-Karim, mengatakan bahwa jika dikhawatirkan akan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan pada mayat, maka boleh diberi bangunan di atas kuburan tersebut walaupun kuburan tersebut bertempat di pemakaman umum:

“إن احتيج لبناء نحو قبة أو بيت؛ لخوف سارق أو سبع ولو بمُسَبَّلَة، أو كانت الكتابة على القبر والقبة لصالح في غير مُسَبَّلَة.. فلا كراهة، ولذا تصح الوصية بقبة له”.

Boleh, Jika dibutuhkan membangun kuburan seperti kubah atau rumah karena khawatir akan pencuri, atau hewan buas, sekalipun itu di pemakaman umum. Atau ada tulisan di kuburan atau kubahnya karena itu orang shalih dan bukan di tempat umum maka tidak makruh, karena itu sah saja wasiatnya untuk dibangun kubah.”

Wallahu’alam.

1 KOMENTAR

  1. […] BincangSyariah.Com – Setelah jenazah diletakkan di liang lahat dan diratakan dengan tanah, keluarga dan kerabatnya biasanya menaburi bunga di atas kuburan jenazah tersebut. Namun ada sebagian yang menanam pohon tertentu di atas kuburannya. Mereka beranggapan bahwa hal tersebut sebagai salah satu bentuk penghormatan kepada jenazah dan agar pohon tersebut selalu tetap hidup sehingga terus meringankan siksa kuburnya. Sebenarnya, bagaimana hukum menanam pohon di atas kuburan? (Hukum Memugar Kuburan) […]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here