Hukum Memotong Rambut dan Kuku Jenazah

1
1792

BincangSyariah.Com – Terkadang ada sebagian orang yang meninggal dalam keadaan rambut acak-acakan dan tidak teratur. Ada pula jenazah yang meninggal sementara kukunya panjang. Dalam keadaan demikian, bagaimana hukum memotong rambut dan kuku jenazah tersebut, apakah diperbolehkan? (Baca: Tatacara Memotong Kuku yang Disunahkan)

Terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama Syafiiyah terkait masalah memotong rambut dan kuku jenazah. Setidaknya, terdapat dua pendapat dalam masalah ini.

Pertama, memotong rambut dan kuku jenazah hukumnya makruh. Oleh karena itu, jika rambut dan kuku jenazah panjang, maka lebih baik dibiarkan tanpa dipotong. Ini adalah pendapat Imam Syafii dalam qaul qadim, juga pendapat Imam Malik dan Imam Al-Muzanni. Mereka berpendapat bahwa sesuatu yang menempel di bagian tubuh jenazah, meskipun berupa quluf, rambut, kuku dan lainnya, lebih baik dibiarkan tanpa dipotong.

Hal ini sebagaimana disebutkan dalam kitab Al-Hawi Al-Kabir berikut;

وإن طال ذلك وفحش فأخذه غير واجب، وفي استحبابه قولان أحدهما وهو قوله في القديم أن أخذه مكروه وتركه أولى، وهو مذهب مالك والمزني؛

Jika rambut dan kuku jenazah panjang dan jelek, maka tidak wajib memotongnya. Terkait kesunnahan memotongnya, ada dua pendapat ulama. Pertama, ini adalah pendapat Imam Syafii dalam qaul qadim, bahwa memotongnya makruh dan lebih baik dibiarkan. Ini adalah pendapat Imam Malik dan Imam Al-Muzanni.

Kedua, memotong rambut dan kuku jenazah hukumnya sunnah, dan membiarkannya adalah makruh. Oleh karena itu, disunnahkan memotong rambut dan kuku jenazah yang panjang, sebagaimana disunnahkan menghilangkan sesuatu yang najis dari tubuhnya. Ini adalah pendapat Imam Syafii dalam qaul jadid.

والقول الثاني وهو قوله في الجديد أن أخذه مستحب وتركه مكروه، لِقَوْلِهِ صلى الله عليه وسلّم اصْنَعُوا مُمِيِّتَكُمْ مَا تَصْنَعُونَ بِعَرُوسِكُمْ، ولأن تنظيف سن في حال الحياة من غير ألم، فوجب أن يستحب بعد الوفاة كإزالة الأنجاس

Baca Juga :  Hukum Mencium Jenazah yang Baru Meninggal

Pendapat kedua, ini adalah pendapat Imam Syafii dalam qaul jadid, bahwa memotongnya adalah dianjurkan dan membiarkannya adalah makruh. Ini berdasarkan hadis Nabi Saw, ‘Hendaknya kalian perlakukan jenazah kalian sebagaimana kalian memperlakukan pengantin kalian.’ Selain itu, membersihkan rambut dianjurkan semasa hidup tanpa menimbulkan sakit, maka semestinya dianjurkan juga setelah meninggal seperti halnya menghilangkan najis.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here