Hukum Meminta-minta di Masjid

0
188

BincangSyariah.Com – Selama bulan Ramadhan, jumlah orang yang meminta-minta di sekitar masjid terihat bertambah. Memang Rasulullah membolehkan untuk meletakkan sedekah di masjid. Tapi bukan berarti meminta-minta di masjid dibenarkan.

Sebagaimana dalam sebuah riwayat yang dituliskan Imam Bukhari dalam bab ‘pembagian harta dan menggantungkan tandan kurma di masjid’.

عن أنس، قال: أتي النبي صلى الله عليه وسلم بمال من البحرين، فقال: ” انثروه في المسجد ” – وكان أكثر مال أتي به رسول الله صلى الله عليه وسلم – فخرج رسول الله صلى الله عليه وسلم إلى الصلاة، ولم يلتفت إليه، فلما قضى الصلاة جاء فجلس إليه، فما كان يرى أحدا إلا أعطاه، إذ جاءه العباس، فقال: يا رسول الله، أعطني ; فإني فاديت نفسي وفاديت عقيلا. فقال له رسول الله صلى الله عليه وسلم: ” خذ ” فحثا في ثوبه، ثم ذهب يقله فلم يستطع، فقال: يا رسول الله، مر بعضهم يرفعه إلي. قال: ” لا “. قال: فارفعه أنت علي. قال: ” لا “. قال: فنثر منه، ثم ذهب يقله. فقال: يا رسول الله، مر بعضهم يرفعه علي. قال: ” لا “. قال: فارفعه أنت علي. قال: ” لا “. فنثر منه، ثم احتمله، فألقاه على كاهله، ثم انطلق، فما زال رسول الله صلى الله عليه وسلم يتبعه بصره حتى خفي علينا ; عجبا من حرصه. فما قام رسول الله صلى الله عليه وسلم وثم منها درهم

Dari Anas bin Malik berkata, “harta dari Bahrain dikirim untuk Rasulullah Saw, lalu beliau mengatakan, “Letakkan di masjid.’ Itu merupakan harta terbanyak yang diberikan kepada Rasulullah. Beliau kemudian keluar untuk shalat tanpa menoleh ke arah harta benda tersebut. Seusai shalat, beliau datang lalu duduk di dekat harta benda tersebut. Setiap melihat seseorang, beliau pasti memberi bagian untuknya, kemudian Abbas datang, ia bilang, ‘Wahai Rasulullah, berilah aku karena aku telah menebus diriku dan juga menebus seorang keluarga (anak Abu Thalib yang ditawan saat perang Badar).’ Rasulullah kemudian bilang kepadanya, ‘Ambillah.’

Abbas kemudian menciduk dengan tangan dan meletakkannya di baju, setelah itu ia angkat hingga tidak kuat, lalu Abbas bilang, ‘Wahai Rasulullah, perintahkan seseorang untuk mengangkatkan ini ke pundakku.’ ‘Tidak,’ kata beliau. Abbas bilang, ‘Kalau begitu engkau saja yang mengangkatkan ini ke pundakku.’ ‘Tidak,’ kata beliau. Abbas kemudian meletakkan sebagiannya lalu ia panggul, kemudian pergi. Rasulullah terus menatap Abbas hingga tidak kelihatan karena beliau heran pada sifat tamaknya. Saat Rasulullah berdiri, di sana tidak tersisa satu dirham pun’.” (HR. Al-Bukhari)

Baca Juga :  Berpura-pura Menjadi Penyandang Disabilitas untuk Mengemis, Apa Hukumnya?

Ibnu Rajab dalam Fathul Bari Syarh Shahih Bukhari menuliskan bahwa dahulu kala pada masa Nabi, belum ada baitul mal. Karena itu beliau membawa hartanya ke masjid untuk dibagi-bagikan disana. Dalam riwayat lain para sahabat juga ada yang meletakkan tandan kurma dan beberapa dinar untuk di bagikan di masjid. Melihat hal tersebut Rasulullah membolehkannya dan menganjurkan memberikan harta terbaiknya.

Ibnu Rajab kemudian menjelaskan bahwa maksud bab tersebut menjelaskan tentang kebolehan meletakkan uang sedekah dan lainnya di masjid untuk kemudian dibagikan kepada mereka yang berhak. Karenanya, sekarang kita lihat banyak masjid menyediakan kotak amal untuk memudahkan jamaah yang ingin bersedekah.

Akan tetapi bukan berarti, Islam membenarkan meminta-minta di masjid. Sebagian ulama melarang hal tersebut. Terkait hal ini Ibnu Rajab menuliskan keterangan dalam kitabnya

التصدق في المسجد على السائل، وهو جائز، وقد كان الإمام أحمد يفعله، ونص على جوازه، وإن كان السؤال في المسجد مكروها. ومنع منه أصحاب أبي حنيفة ومنهم من رخص فيه إذا كان السائل مضطرا، ولم يحصل بسؤاله في المسجد ضرر.  ولأصحابنا وجه: يكره السؤال والتصدق في المساجد مطلقا

Artinya; Bersedekah di masjid kepada orang yang meminta-minta boleh, Imam Ahmad suatu ketika pernah melakukannya ia juga membolehkannya sekalipun meminta di masjid makruh hukumnya. Golongan Abu Hanifah melarang hal tersebut, sebagian memberi kelonggaran bila si peminta dalam keadaan sekarat dan jika tidak mendapatkan apa yang diminta di masjid khawatir akan membahayakannya (nyawanya), dan pendapat lain golongan kami; meminta-minta dan bersedekah di masjid makruh secara mutlak.

Kalangan yang melarang mengacu pada dalil umum yang menunjukkan masjid harus dijaga dari apa pun selain ibadah. Mungkin dalam hal ini, meminta-minta disamakan dengan mencari materi duniawi. Wallahu’alam.



BincangSyariah.Com dikelola oleh jaringan penulis dan tim redaksi yang butuh dukungan untuk bisa menulis secara rutin. Jika kamu merasa kehadiran Bincangsyariah bermanfaat, dukung kami dengan cara download aplikasi Sahabat Berkah. Klik di sini untuk download aplikasinya. Semoga berkah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here