Hukum Meminta Jodoh dengan Menyebut Nama

0
42

BincangSyariah.Com – Sebagai makhluk ciptaan Allah, sudah sepantasnya apabila kita berdoa dan meminta sesuatu kepada Allah SWT. Bahkan Allah sendiri telah memerintahkan kepada kita agar senantiasa meminta kepada-Nya, dan niscaya akan Ia kabulkan. Firman Allah dalam QS. Ghafir: 60,

ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ

ud’ụnī astajib lakum, innallażīna yastakbirụna ‘an ‘ibādatī sayadkhulụna jahannama dākhirīn

“Berdoalah kepadaKu, Aku akan kabulkan doa kalian. Sungguh orang-orang yang menyombongkan diri karena enggan beribadah kepada-Ku, akan dimasukkan ke dalam neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.”

Pada ayat diatas, Allah memerintahkan kepada kita untuk senantiasa meminta kepada-Nya, dan bahkan mengancam kepada mereka yang tidak mau beribadah kepada Allah dengan neraka jahanam. Ini berarti bahwa berdoa merupakan bagian dari pada ibadah. Bahkan ibadah salat, salah satu ibadah yang menjadi tiang agama ini, memiliki hakikat makna secara bahasa sebagai doa.

Lebih tegas, Allah memberikan penjelasan dalam hadits qudsi,

يا عبادي ! كلكم جائعٌ إلا من أطعمتُه . فاستطعموني أُطعمكم . يا عبادي ! كلكم عارٍ إلا من كسوتُه . فاستكسوني أكْسُكُم

“Wahai hamba-Ku, kalian semua kelaparan, kecuali orang yang aku berikan makan. Maka mintalah makan kepadaku, niscaya aku akan berikan. Wahai hamba-Ku, kalian semua tidak berpakaian, kecuali yang aku berikan pakaian, Maka mintalah pakaian kepada-Ku, niscaya akan aku berikan” (HR. Muslim no. 2577).

Dengan demikian, artinya kita bisa meminta apapun kepada Allah. Kalau untuk urusan makan saja kita boleh meminta kepada Allah, maka apalagi untuk urusan yang lebih besar, contohnya ialah meminta jodoh. Sebagaimana kita tahu, bahwa jodoh merupakan sesuatu yang kita dambakan, apalagi bila jodoh tersebut kita niatkan sebagai pelengkap agama kita. Tentunya amat sangat diperbolehkan apabila kita meminta jodoh kepada Allah SWT.

Baca Juga :  Ini Bacaan Istighfar Ketika Hendak Tidur

Pertanyaan yang sering muncul ialah, ketika kita menyukai seseorang, kemudian kita berharap agar seseorang tersebut menjadi jodoh kita, apakah boleh meminta jodoh dengan menyebut nama? Apakah hal itu tidak dilarang dan tidak berlawanan dengan akhlak kita kepada Allah?

Pembaca yang dirahmati oleh Allah, secara umum, sebagaimana disebutkan diatas, sebenarnya kita boleh meminta apapun kepada Allah, bahkan boleh berangan-angan akan sesuatu dan mengharap Allah mengabulkannya. Rasulullah SAW bersabda:

إِذَا تَمَنَّى أَحَدُكُم فَلْيُكثِر ، فَإِنَّمَا يَسأَلُ رَبَّهُ عَزَّ وَجَلَّ

“Barangsiapa yang mengangankan sesuatu (kepada Allah), maka perbanyaklah angan-angan tersebut. Karena ia sedang meminta kepada Allah Azza wa Jalla” (HR. Ibnu Hibban no. 889).

Hadis diatas didukung pula oleh pernyataan Ibunda kaum muslimin, Aisyah RA, yang mengatakan,

سَلُوا اللَّهَ كُلَّ شَيءٍ حَتَّى الشِّسعَ

“Mintalah kepada Allah bahkan meminta tali sendal sekalipun” (HR. Al Baihaqi)

Para ulama pun dalam kesehariannya, tidak jarang meminta sesuatu yang terkesan remeh seperti diceritakan oleh Ibn Rajab al-Hanbali dalam Jami’ al-‘Ulum wa al-Hikam (j. 1 h. 225),

وكان بعض السلف يسأل الله في صلاته كل حوائجه حتى ملح عجينه وعلف شاته

“Dahulu para salaf meminta kepada Allah dalam shalatnya, semua kebutuhannya sampai-sampai garam untuk adonannya dan tali kekang untuk kambingnya”

Dari keterangan-keterangan diatas, seyogyanya kita bisa menyatakan bahwa tidak masalah apabila kita berangan-angan berjodoh dengan seseorang yang kita sukai, kemudian berdoa, meminta kepada Allah agar dijodohkan dengan orang tersebut.

Namun demikian, dalam keterangan yang lain, ada penjelasan soal adab atau tatakrama dalam berdoa. Salah satu diantara tatakrama tersebut ialah jangan berlebihan dalam berdoa. Allah SWT berfirman dalam QS. Al-A’raf [7]: 55,

Baca Juga :  Diantara Sebab Tidak Terkabulnya Doa

ٱدْعُوا۟ رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً ۚ إِنَّهُۥ لَا يُحِبُّ ٱلْمُعْتَدِينَ

Ud’ụ rabbakum taḍarru’aw wa khufyah, innahụ lā yuḥibbul-mu’tadīn

“Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas”.

Maksud daripada “melampaui batas” dalam ayat diatas, dijelaskan oleh para ulama diantaranya ialah dengan terlalu terperinci dalam berdoa. Sebagaimana dikisahkan dalam riwayat tentang perbincangan antara Abdullah bin Mughoffal dan putranya,

أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ مُغَفَّلٍ سَمِعَ ابْنَهُ يَقُولُ اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ الْقَصْرَ الأَبْيَضَ عَنْ يَمِينِ الْجَنَّةِ إِذَا دَخَلْتُهَا. فَقَالَ أَىْ بُنَىَّ سَلِ اللَّهَ الْجَنَّةَ وَتَعَوَّذْ بِهِ مِنَ النَّارِ فَإِنِّى سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ « إِنَّهُ سَيَكُونُ فِى هَذِهِ الأُمَّةِ قَوْمٌ يَعْتَدُونَ فِى الطُّهُورِ وَالدُّعَاءِ

“Abdullah bin Mughoffal pernah mendengar puteranya berdoa, “Ya Allah, jika aku masuk surga berikanlah kepadaku istana berwarna putih di sebelah kanan surga.” Abdullah lalu berkata pada puteranya, “Wahai anakku jika berdoa mintalah pada Allah surga dan mintalah agar dijauhkan dari neraka karena aku pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Akan datang pada umat ini orang-orang yang berlebihan dalam bersuci dan dalam berdoa.” (HR. Abu Daud, no. 96; Ibnu Majah, no. 3864)

Dikhawatirkan, dengan berdoa meminta jodoh sambil menyebutkan nama, akan bisa masuk kategori berlebihan dalam berdoa karena terlalu spesifik. Apalagi dalam persoalan jodoh dan persoalan lainnya apapun itu, kita tahu bahwa ilmu Allah, jauh lebih tinggi dibandingkan dengan pengetahuan kita. Bisa jadi yang menurut kita baik, menurut Allah justru tidak baik. Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Baqarah [2]: 216,

وَعَسَىٰٓ أَن تَكْرَهُوا۟ شَيْـًٔا وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۖ وَعَسَىٰٓ أَن تُحِبُّوا۟ شَيْـًٔا وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ ۗ وَٱللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

Baca Juga :  Bedah Buku "Tafsir Al-Misbah dalam Sorotan" di UIN Jakarta, Muchlis M. Hanafi: Ada Kekeliruan Mendasar Secara Metodologi dan Substansi

Wa ‘asā an takrahụ syai`aw wa huwa khairul lakum, wa ‘asā an tuḥibbụ syai`aw wa huwa syarrul lakum, wallāhu ya’lamu wa antum lā ta’lamụn

“Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”

Dengan pertimbangan tersebut, para ulama berpendapat bahwa sebaiknya doa itu menggunakan kalimat yang jami’ul kalim, artinya singkat namun sarat akan makna. Kita meminta sesuatu secara umum, kemudian menyerahkan pilihan apa yang terbaik kepada Allah SWT.

Kesimpulannya, meskipun diperbolehkan, namun secara adab ataupun tatakrama, berdoa meminta jodoh dengan menyebutkan nama agar kurang baik. Oleh karena itu, disarankan untuk membaca doa meminta jodoh sebagaimana yang pernah diucapkan oleh Nabi Zakaria dan tertuang dalam firman Allah QS. Al-Anbiya: 89,

رَبِّ لَا تَذَرْنِى فَرْدًا وَأَنتَ خَيْرُ ٱلْوَٰرِثِينَ

Rabbi lā tażarnī fardaw wa anta khairul-wāriṡīn

“Ya Tuhanku janganlah Engkau membiarkan aku hidup seorang diri dan Engkaulah Waris Yang Paling Baik.”

Demikian, semoga bermanfaat. Wallahu a’lam bi shawab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here