Hukum Meminta Jabatan

2
2229

BincangSyariah.Com – Alquran dan hadis sebagai pedoman hidup umat Islam sudah mengatur sejak awal bagaimana seharusnya kita memilih dan menjadi seorang pemimpin. Ada dua hal yang harus dipahami tentang hakikat kepemimpinan. Pertama, kepemimpinan dalam pandangan Alquran bukan sekadar kontrak sosial antara sang pemimpin dengan masyarakatnya, tetapi merupakan ikatan perjanjian antara dia dengan Allah SWT.

Kepemimpinan adalah amanah, titipan Allah SWT, bukan sesuatu yang diminta apalagi dikejar dan diperebutkan. Sebab kepemimpinan melahirkan kekuasaan dan wewenang yang gunanya semata-mata untuk memudahkan dalam menjalankan tanggung jawab melayani rakyat. Semakin tinggi kekuasaan seseorang, hendaknya semakin meningkatkan pelayanan kepada masyarakat.

Bukan sebaliknya, digunakan sebagai peluang untuk memperkaya diri, bertindak zalim dan sewenang-wenang. Balasan dan upah seorang pemimpin sesungguhnya hanya dari Allah SWT di akhirat kelak, bukan kekayaan dan kemewahan di dunia.

Para ulama menjelaskan setidaknya ada dua jenis hukum meminta jabatan: pertama, boleh. Hal ini didasarkan atas pandangan keutamaan pemimpin yang mampu memberikan kemaslahatan kepada ummat dan masyarakat. Kedua, dilarang. Larangan ini jika yang diamanahi tidak mampu menjalankan tugasnya sebagai pemimpin.

Pada konteks pertama, bagi yang telah dipilih dan ditentukan oleh masyarakat dan sanggup untuk mengemban jabatan, maka ia boleh untuk mencalonkan dirinya. Hal ini sebagaimana cerita Nabi Yusuf As saat meminta kepada Raja Mesir sebagai bendaharawan, Ij’alni ‘Ala Khazain al-Ardh. Inni Hafizhun ‘Alim.

Adapun pada konteks hukum yang kedua didasarkan atas sabda Nabi. Karena itu pula, ketika sahabat Nabi SAW, Abu Dzarr, meminta suatu jabatan, Nabi saw bersabda: “Kamu lemah, dan ini adalah amanah sekaligus dapat menjadi sebab kenistaan dan penyesalan di hari kemudian (bila disia-siakan)” (H.R. Muslim).

Baca Juga :  Arti Kata Kafir dan Varian Makna dan Konteksnya

Sikap yang sama juga ditunjukkan Nabi saw ketika seseorang meminta jabatan kepada beliau, dimana orang itu berkata: “Ya Rasulullah, berilah kepada kami jabatan pada salah satu bagian yang diberikan Allah kepadamu. “Maka jawab Rasulullah SAW: “Demi Allah Kami tidak mengangkat seseorang pada suatu jabatan kepada orang yang menginginkan atau ambisi pada jabatan itu” (H.R. Bukhari Muslim).

قَالَ لِي النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: يَا عَبْدَ الرَّحْمَنِ بْنَ سَمُرَةَ, لَا تَسْأَلْ الْإِمَارَةَ, فَإِنَّكَ إِنْ أُعْطِيتَهَا عَنْ مَسْأَلَةٍ, وُكِلْتَ إِلَيْهَا, وَإِنْ أُعْطِيتَهَا عَنْ غَيْرِ مَسْأَلَةٍ, أُعِنْتَ عَلَيْهَا, وَإِذَا حَلَفْتَ عَلَى يَمِينٍ, فَرَأَيْتَ غَيْرَهَا خَيْرًا مِنْهَا, فَكَفِّرْ عَنْ يَمِينِكَ, وَائتِ الَّذِي هُوَ خَيْرٌ

Dari Abdurrahman bin Samurah, bahwa Rasulullah bersabda padaku, “janganlah kamu meminta jabatan (kekuasaan), jika kamu diberikan karena suatu problem, maka sejatinya kamu telah diwakilkan (untuk menyelesaikan) hal tersebut. Namun, jika kamu diberikan tanpa adanya suatu hal, maka kamu diberikan pertolongan atasnya. Jika kamu telah bersumpah (untuk suatu jabatan), lalu kamu melihat ada hal yang lebih baik dari itu, maka tunaikanlah janjimu, dan lakukanlah hal yang terbaik tersebut. (HR. Muttafaq ‘Alaih)  

Hadis yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim menunjukkan bahwa imarah (kepemimpinan, jabatan) merupakan perkara tanggung jawab yang besar. Hadis di atas berbicara tentang seorang sahabat nabi (Abdurrahman bin Samurah) yang dirasa oleh Nabi tidak akan sanggup untuk memikul amanah sebuah kepemimpinan. Maka hadis meminta jabatan, sangat sesuai bagi individu yang dirasa tidak mampu untuk menunaikan kewajibannya dan amanah atas jabatannya.

Jabatan dan kepemimpinan haruslah didasarkan atas profesionalitas dan tanggung jawab yang tinggi. Karena dengan hal itu akan tercapainya tujuan dan fungsi sebuah pemimpin. Spirit ini didasarkan atas ayat Alquran dalam QS. Al-Maidah: 53. Innallaha ya’murukum an tuaddul amanati ila ahliha, wa idza hakamtum baina an-nasi an tahkumu bil adl.

Perintah untuk memberikan amanah kepada ahlinya merupakan prinsip utama dari suatu kepemimpinan dan jabatan. Jadi bisa dikatakan, kalau seseorang dikhawatirkan tidak mampu untuk amanah, maka meminta jabatan baginya adalah diharamkan. Karena hal itu nantinya akan berdampak kepada kemaslahatan masyarakat yang dipimpin.

Baca Juga :  Tiga Akibat Mengkonsumsi Makanan dan Minuman Haram

Al-Ghazali dalam Ihya ‘Ulum al-Din menerangkan bahwa hukum meminta jabatan bisa diperinci (tafshili), jika seseorang itu lemah dari segi kemampuan dan sangat dipengaruhi oleh hasrat kuasa, maka larangan itu berlaku. Sebaliknya, jika ada seseorang yang kuat dalam aspek kekuasaan dan bergerak di atas kebenaran kepemimpinannya, maka keharaman meminta tidak berlaku. Wallahu A’lam.

2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here