Hukum Meminta Bayaran Saat Mengobati Orang Sakit dengan Al-Quran

0
655

BincangSyariah.Com – Saat ini banyak dijumpai seseorang mengobati orang sakit melalui doa dan ayat-ayat al-Quran dengan tarif tertentu yang sudah ditentukan sebelumnya. Pada umumnya, mengobati orang sakit dengan doa atau ayat-ayat al-Quran disebut dengan ruqyah. Bagaimana hukum meminta bayaran saat mengobati orang sakit dengan al-Quran?

Menerima atau meminta bayaran dengan tarif tertentu saat mengobati orang sakit melalui al-Quran hukumnya boleh. Dalam fiqih, meminta bayaran atas jasa mengobati orang sakit dengan doa dan ayat-ayat al-Quran disebut dengan akad ju’alah atau meminta upah dan komisi. Akad ju’alah ini diperbolehkan dalam Islam.

Hal ini sebagaimana telah dijelaskan dalam kitab Bughyatul Mustarsyidin berikut;

تجوز الجعالة على الرقية بالجائز كالقرآن ، والدواء كتمريض مريض وعلاج دابة

“Boleh mengambil upah dari pengobatan ruqyah dengan memakai hal yang diperbolehkan seperti al-Quran dan obat untuk menyembuhkan orang sakit dan untuk mengobati binatang ternak.”

Juga telah dijelaskan dalam kitab Tuhfatul Muhtaj sebagai berikut;

تَجُوزُ الْجَعَالَةُ عَلَى الرُّقْيَةِ بِجَائِزٍ كَمَا مَرَّ وَتَمْرِيضِ مَرِيضٍ وَمُدَاوَاتِهِ ، وَلَوْ دَابَّةً ثُمَّ إنْ عَيَّنَ لِذَلِكَ حَدًّا كَالشِّفَاءِ وَوُجِدَ اسْتَحَقَّ الْمُسَمَّى وَإِلَّا فَأُجْرَةَ الْمِثْلِ .

“Boleh mengambil upah dari pengobatan ruqyah dengan memakai hal yang dilegalkan seperti keterangan yang lalu dan mengobati orang sakit meskipun (yang sakit) binatang ternak. Bila upahnya ditentukan dengan batasan tertentu, misalnya hingga sembuh, maka ia berhak mendapatkan upah (yang ditentukan) sedang bila kesembuhannya tidak didapatkan, maka ia hanya berhak mendapatkan upah yang berlaku pada umumnya.”

Dalam sebuah hadis juga pernah dikisahkan bahwa para sahabat pernah meminta bayaran ketika mereka meruqyah seorang kepala kampung dengan surah al-Fatihah. Hadis dimaksud diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim dari Sa’id al-Khudri, dia berkisah;

Baca Juga :  Bangkai Hewan yang Halal Dimakan

انْطَلَقَ نَفَرٌ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي سَفْرَةٍ سَافَرُوهَا حَتَّى نَزَلُوا عَلَى حَيٍّ مِنْ أَحْيَاءِ الْعَرَبِ فَاسْتَضَافُوهُمْ فَأَبَوْا أَنْ يُضَيِّفُوهُمْ فَلُدِغَ سَيِّدُ ذَلِكَ الْحَيِّ فَسَعَوْا لَهُ بِكُلِّ شَيْءٍ لا يَنْفَعُهُ شَيْءٌ فَقَالَ بَعْضُهُمْ لَوْ أَتَيْتُمْ هَؤُلاءِ الرَّهْطَ الَّذِينَ نَزَلُوا لَعَلَّهُ أَنْ يَكُونَ عِنْدَ بَعْضِهِمْ شَيْءٌ فَأَتَوْهُمْ فَقَالُوا يَا أَيُّهَا الرَّهْطُ إِنَّ سَيِّدَنَا لُدِغَ وَسَعَيْنَا لَهُ بِكُلِّ شَيْءٍ لا يَنْفَعُهُ فَهَلْ عِنْدَ أَحَدٍ مِنْكُمْ مِنْ شَيْءٍ فَقَالَ بَعْضُهُمْ نَعَمْ وَاللَّهِ إِنِّي لَأَرْقِي وَلَكِنْ وَاللَّهِ لَقَدْ اسْتَضَفْنَاكُمْ فَلَمْ تُضَيِّفُونَا فَمَا أَنَا بِرَاقٍ لَكُمْ حَتَّى تَجْعَلُوا لَنَا جُعْلًا فَصَالَحُوهُمْ عَلَى قَطِيعٍ مِنْ الْغَنَمِ فَانْطَلَقَ يَتْفِلُ عَلَيْهِ وَيَقْرَأُ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ فَكَأَنَّمَا نُشِطَ مِنْ عِقَالٍ فَانْطَلَقَ يَمْشِي وَمَا بِهِ قَلَبَةٌ

“Sejumlah sahabat Rasulullah saw. pergi dalam sebuah safar yang mereka tempuh hingga mereka singgah di sebuah kampung Arab. Mereka kemudian meminta penduduk kampung tersebut agar menjamu mereka namun penduduk kampung itu menolak. Tak lama setelah itu kepala suku dari kampung tersebut tersengat binatang berbisa. Penduduk pun mengupayakan segala cara pengobatan namun tidak sedikit pun yang memberikan manfaat untuk kesembuhan pemimpin mereka. Sebagian mereka kemudian berkata, ‘Seandai kalian mendatangi rombongan yang tadi singgah di tempat kalian mungkin saja ada di antara mereka punya obat.’

Penduduk kampung itu pun mendatangi rombongan sahabat Rasulullah saw. yang tengah beristirahat tersebut seraya berkata, ‘Wahai sekelompok orang, pemimpin kami disengat binatang berbisa. Kami telah mengupayakan berbagai cara untuk menyembuhkan sakit namun tak satu pun yang bermanfaat. Apakah salah seorang dari kalian ada yang memiliki obat?.’ Salah seorang sahabat berkata, ‘Iya, demi Allah aku bisa meruqyah. Akan tetapi demi Allah tadi kami minta dijamu namun kalian enggan untuk menjamu kami. Maka aku tidak akan melakukan ruqyah untuk kalian hingga kalian bersedia memberikan imbalan kepada kami.’

Baca Juga :  Sabda Nabi Saw. Tentang Mencegah Budaya Korupsi

Mereka pun bersepakat untuk memberikan sekawanan kambing sebagai upah dari ruqyah yang akan dilakukan. Sahabat itu pun pergi untuk meruqyah pemimpin kampung tersebut. Mulailah ia meniup disertai sedikit meludah dan membaca tiga kali “Alhamdulillah rabbil ‘alamin” . Sampai akhir, pemimpin tersebut seakan-akan terlepas dari ikatan yang mengekangnya. Ia pun pergi berjalan tidak ada lagi rasa sakit.”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here