Hukum Meminjam Buku dengan Menyerahkan Tanda Pengenal

0
9

BincangSyariah.Com – Dalam Perpustakaan Umum biasanya bagi yang akan meminjam buku wajib untuk menyerahkan tanda pengenal atau barang tertentu sebagai jaminan buku yang ia pinjam. Dalam pandangan fikih, apakah prosedur demikian dapat dibenarkan?

Dalam praktik peminjaman buku yang disertai dengan penyerahan tanda pengenal ini, setidaknya ada dua akad muamalah yang digunakan. Pertama adalah akad pinjam-meminjam yang dikenal dengan akad ‘ariyah. Ulama mazhab Syafi’i mendefinisikan akad ‘ariyah sebagaimana dikutip dalam kitab Mughnil Muhtaj (2/263):

إِبَاحَةُ الاِنْتِفَاعِ بِمَا يَحِلُّ الاِنْتِفَاعُ بِهِ مَعَ بَقَاءِ عَيْنِهِ بِلَا عِوَضٍ

Izin menggunakan barang yang bisa dimanfaatkan, dan materi barang tersebut tetap dengan wujudnya semula tanpa disertai dengan imbalan”

Barang yang dipinjam (musta’ar) dalam kasus ini adalah buku perpustakaan, pihak peminjam (musta’ir) adalah pengunjung perpustakaan, sedangkan pustakawan berstatus sebagai pihak yang meminjamkan (mu’ir), dan disertai dengan shighat berupa interaksi antara kedua pihak yang menunjukkan perizinan penggunaan manfaat barang.

Perlu diketahui, pustakawan tersebut berstatus sebagai pemilik manfaat buku perpustakaan sehingga ia boleh meminjamkan buku tersebut meskipun bukan barang milik pribadinya. Sebab objek akad ariyah ini adalah manfaat, bukan barang.

Bagaimana dengan status tanda pengenal yang diserahkan oleh pihak peminjam? Sepertinya pihak pustakawan menjadikan tanda pengenal tersebut sebagai jaminan atas buku yang dipinjam oleh pengunjung. Dalam kacamata fikih muamalah, penyerahan suatu barang sebagai jaminan atau gadai disebut dengan akad rahn. Namun perlu diingat, akad rahn ini hanya berlaku untuk utang-piutang saja. Biasanya pihak yang berhutang menyerahkan suatu barang tertentu kepada pihak yang memberi hutang sebagai jaminan atau gadai atas hutangnya.

Jadi, penjaminan barang tidak berlaku untuk akad ariyah alias pinjam-meminjam barang, sebagaimana dijelaskan dalam kitab Hasyiyah al-Bujairami ‘ala al-Minhaj (2/369):

(قَوْلُهُ فَلَا يَصِحُّ الرَّهْنُ بِعَيْنٍ) أَيْ عَلَى عَيْنٍ بِأَنْ يُعِيْرَهُ عَيْنًا وَيَأْخُذَ عَلَيْهَا رَهْنًا…

“Tidak sah akad rahn atas suatu materi barang, seperti seseorang meminjamkan suatu barang kemudian meminta jaminan atas barang pinjaman tersebut”

Meskipun begitu, prosedur yang berlaku dalam peminjaman buku di Perpustakaan Umum masih bisa dibenarkan. Sebab secara esensial penyerahan tanda pengenal tersebut tidak dikategorikan sebagai akad rahn atau jaminan, namun hanya sekadar pengingat bagi pengunjung agar tidak lupa bahwa ia telah meminjam buku di perpustakaan tersebut. Dalam kitab Syarh al-Yaqut an-Nafis (halaman 371) dijelaskan:

وَمِنَ الأَخْطَاءِ الَّتِيْ يَعْمَلُ بِهَا البَعْضُ أَنَّهُ إِذَا طَلَبَ مِنْهُ شَخْصٌ إِعَارَتَهُ كِـتَابًا أَوْ غَيْرَهُ طَلَبَ الـمُعِيْرِ مِنَ الـمُعَارِ لَهُ شَيْئًا رَهْنًا حَتَّى يُعِيْدَهُ. وَهَذَا رَهْنٌ لَا يَصِحُّ لِأَنَّ الرَّهْنَ لَا يَكُوْنُ إِلّا فِيْ دَيْنٍ. وَلَكِنْ يُقَالُ إِنَّ هَذَا تَذْكِيْرٌ لِلْمُسْتَعِيْرِ حَتَّى لَا يَنْسَى الإِعَارَةَ. اهـــ

“Salah satu kesalahan yang dilakukan sebagian orang ialah ketika orang lain ingin meminjam buku atau benda lain, kemudian pihak pemberi pinjaman meminta barang jaminan darinya sampai barang pinjamannya dikembalikan. Ini adalah akad rahn (gadai) yang tidak sah, sebab akad ini hanya berlaku pada utang-piutang saja. Tapi tindakan dari pihak pemberi pinjaman ini dianggap sebagai pengingat saja bagi pihak peminjam agar tidak lupa akan peminjamannya”

Wallahu a’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here