Hukum Memelihara Burung Walet dalam Islam

0
129

BincangSyariah.Com – Sudah maklum bahwa saat ini banyak orang yang memelihara burung walet untuk dibudidayakan. Bukan hanya dipelihara dalam sangkar, namun sampai dibuatkan bangunan khusus agar bisa diambil sarangnya. Sebenarnya, bagaimana hukum memelihara burung walet dalam Islam?

Dalam Islam, memelihara burung walet untuk dimanfaatkan sarangnya atau karena ada tujuan lain hukumnya diperbolehkan. Tidak masalah memelihara burung walet asalkan dipelihara dengan baik dengan cara diberi makan dan minum, baik dipelihara dalam sangkar, bangunan, atau tempat lainnya.

Memelihara burung walet sama seperti memelihara burung lainnya seperti merpati dan lainnya. Hukumnya boleh selama burung tersebut tidak ditelantarkan, baik tujuannya untuk memanfaatkan sarangnya, suka pada warnanya, maupun karena suka pada kicaunnya.

Ini sebagaimana disebutkan dalam kitab Hasyiata al-Qalyubi wa ‘Umairah berikut;

لَهُ حَبْسُ حَيَوَانٍ وَلَوْ لِسَمَاعِ صَوْتِهِ، أَوْ التَّفَرُّجِ عَلَيْهِ، أَوْ نَحْوَ كَلْبٍ لِلْحَاجَةِ إلَيْهِ مَعَ إطْعَامِهِ

Boleh bagi seseorang menahan (memelihara) hewan walau untuk sekedar mendengar suaranya atau melihatnya, atau menahan anjing untuk kebutuhan, dengan syarat hewan-hewan itu diberi makan.

Dalam kitab Asna al-Mathalib juga disebutkan sebagai berikut;

اتخاذ الحمام للبيض أو الفرخ أو الانس أو حمل الكتب أي على أجنحتها مباح

Memelihara merpati untuk diambil telurnya atau anaknya atau untuk kesenangan saja atau sebagai kurir pembawa surat hukumnya mubah.

Di antara dalil yang dijadikan dasar kebolehan memelihara burung, termasuk burung walet, adalah hadis riwayat Imam Bukhari, dari Anas bin Malik, dia berkisah;

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَحْسَنَ النَّاسِ خُلُقًا، وَكَانَ لِي أَخٌ يُقَالُ لَهُ أَبُو عُمَيْرٍ – قَالَ: أَحْسِبُهُ – فَطِيمًا، وَكَانَ إِذَا جَاءَ قَالَ: يَا أَبَا عُمَيْرٍ، مَا فَعَلَ النُّغَيْرُ نُغَرٌ كَانَ يَلْعَبُ بِهِ

Baca Juga :  Dalil Kemaslahatan untuk Pengontrolan Penggunaan TOA Masjid

Nabi Saw adalah sosok yang paling mulia akhlaknya, aku memiliki saudara yang bernama Abu ‘Umair -Perawi mengatakan; aku mengira Anas juga berkata; ‘Kala itu ia habis disapih-.Dan apabila beliau datang, maka beliau akan bertanya: ‘Hai Abu Umar, bagaimana kabar si nughair (burung pipitnya). Abu Umair memang senang bermain dengannya.

Berdasarkan hadis ini, dalam kitab Fath al-Bari, Ibn Hajar al-Asqalani mengambil kesimpulan sebagai berikut;

جواز إمساك الطير في القفص ونحوه

Kebolehan memelihara burung di dalam sangkar dan lainnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here