Hukum Membuat Kubah Masjid Dilapisi Emas

0
1314

BincangSyariah.Com – Di Indonesia, terdapat sebuah masjid di daerah Depok yang terkenal dengan Masjid Kubah Emas. Ini disebabkan karena kubah masjid ini dilapisi emas sekitar 22 karat. Sebenarnya, bagaimana hukum membuat kubah masjid dengan lapisan emas ini, apakah boleh?

Membuat kubah masjid dari emas termasuk bagian dari menghiasi masjid dengan emas (tahliyatul masjid bi al-dzahab). Dalam masalah ini, terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama Syafiiyah. Menurut Imam Abu Ishaq Al-Marwazi, menghiasi masjid dengan emas, termasuk melapisi kubahnya dengan emas, hukumnya adalah haram. Ini juga disampaikan oleh Imam Al-Baghawi dan ulama lainnya.

Mereka beralasan bahwa selain karena ada unsur pemborosan, menghiasi masjid dengan emas tidak pernah dilakukan oleh para ulama salaf sehingga hal itu termasuk perkara bid’ah yang tidak baik.

Sementara menurut sebagian ulama, menghiasi masjid dengan emas, termasuk membuat kubah berlapis emas, hukumnya diperbolehkan. Menghiasi masjid dengan emas termasuk bagian dari mengangungkan masjid, sebagaimana menghiasi mushaf dengan emas.

Hal ini sebagaimana disebutkan oleh Imam Nawawi dalam kitab Al-Majmu berikut;

وأما تحلية الكعبة وسائر المساجد بالذهب والفضة وتمويه سقفه وتعليق قناديلها فيها ففيه وجهان مشهوران (أصحهما) التحريم وبه قال أبو اسحق المروزى وآخرون من المتقدمين ونقله الماوردى عن كثير من أصحابنا المتقدمين وقطع به القاضي أبو الطيب والبغوى وآخرون واستدلوا له بانه لم يرد فيه سنة ولا عمله أحد من الخلفاء الراشدين فهو بدعة وكل بدعة ضلالة ..(والوجه الثاني) الجواز تعظيما للكعبة والمساجد واعظاما للدين كما اجمعوا علي ستر الكعبة بالحرير

Adapun menghiasi Ka’bah dan semua masjid dengan emas dan perak dan melapisi atap dan menaranya, maka ada dua pendapat yang masyhur dalam masalah tersebut. Pendapat pertama dan paling shahih adalah haram. Ini disampaikan oleh Imam Abu Ishaq Al-Marwazi dan ulama salaf lainnya. Imam Al-Mawardi juga menukil pendapat ini dari kebanyakan ulama Syafiiyah.

Ini juga ditetapkan oleh Al-Qadhi Abu Al-Thib, Al-Baghawi dan ulama lainnya. Mereka beralasan bahwa hal itu bukan bagian dari sunnah, dan tidak pernah dilakukan oleh para khulafaur rasyidin, sehingga hal itu termasuk bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat. Pendapat kedua adalah boleh, untuk mengagungkan Ka’bah, masjid dan mengagungkan agama, sebagaimana para ulama telah sepakat mengenai kebolehan menutup Ka’bah dengan kain sutra.

Baca Juga :  Apakah Mayat Bisa Mendengarkan Salam Orang yang Mengunjunginya?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here