Hukum Membicarakan Keburukan Orang yang Sudah Meninggal

0
421

BincangSyariah.Com – Mungkin ada diantara kita yang pernah mengetahui tentang sebuah ajaran bahwa dosa-dosa akan berguguran saat orang-orang membicarakan kita dibelakang, mungkin itu benar adanya. Namun tentu saja dengan dengan syarat utama, harus berlapang dada dan tidak menanggapinya secara emosional. Lantas bagaimanakah jika membicarakan sebuah keburukan orang yang sudah meninggal?

Salah satu adab kita kepada orang yang sudah meninggal adalah tidak membicarakan atau mencaci apa-apa yang telah dilalui semasa hidupnya. kita sebagai umat muslim, seyogyanya  bisa mengikhlaskan apa yang sudah diperbuat orang yang sudah meninggal. Karena mereka telah sampai kepada amalan yang mereka lakukan, amalan yang baik ataupun buruk. Larangan untuk tidak membicarakan keburukan orang yang sudah meninggal itu termaktub dalam hadis Nabi yang diriwatarkan oleh Bukhori. Beliau bersabda:

لَا تَسُبُّوا الْأَمْوَاتَ فَإِنَّهُمْ قَدْ أَفْضَوْا إِلَى مَا قَدَّمُوا

Janganlah kalian mencela mayit, karena mereka telah pergi untuk memertanggug jawabkan apa yang telah mereka perbuat.” (HR Bukhari)

Sebuah keterangan yang cukup jelas, bahwa membicarakan orang yang sudah meninggal itu tidak dianjurkan. Orang yang sudah meninggal dunia tersebut sudah sampai pada masanya untuk bertanggung jawab kepada Allah atas setiap amalan di masa hidupnya, kenapa masih perlu diperbincangkan amalan-amalan tersebut? terlebih yang kesannya tidak mengenakkan, atau soal keburukannya. Jauh lebih bermanfaat jika kita yang belum meninggal ini memperbanyak amal kebaikan di dunia, sebelum berjumpa dengan pertanggungjawaban langsung kepada Allah.

Kita sudah mengerti bahwa membicarakan keburukan orang yang sudah meninggal itu merupakan salah satu bentuk larangan Nabi. Namun jika kita masih menjumpai atau mendengar orang lain sedang membicarakan keburukan orang yang sudah meninggal, lantas bagaimana kita harus mengambil sikap dalam situasi tersebut? mengingatkan dan mengajak orang lain ke jalan yang lebih baik adalah sikap paling utama. Namun jika kita tidak mampu mengingkarinya, minimal kita pergi dari permbicaraan tersebut, sebagai bentuk terlepasnya diri kita dari perbuatan tersebut. Dalam QS An-Nisa [4]:L 140, Allah bersabda:

Baca Juga :  Cara Mudah Bedakan Ini Baik Atau Buruk

وَقَدْ نَزَّلَ عَلَيْكُمْ فِي الْكِتَابِ أَنْ إِذَا سَمِعْتُمْ آيَاتِ اللَّهِ يُكْفَرُ بِهَا وَيُسْتَهْزَأُ بِهَا فَلَا تَقْعُدُوا مَعَهُمْ حَتَّىٰ يَخُوضُوا فِي حَدِيثٍ غَيْرِهِ ۚ إِنَّكُمْ إِذًا مِثْلُهُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ جَامِعُ الْمُنَافِقِينَ وَالْكَافِرِينَ فِي جَهَنَّمَ جَمِيعًا

Dan sungguh Allah telah menurunkan kekuatan kepada kamu di dalam Al Quran bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan (oleh orang-orang kafir), maka janganlah kamu duduk beserta mereka, sehingga mereka memasuki pembicaraan yang lain. Karena sesungguhnya (kalau kamu berbuat demikian), tentulah kamu serupa dengan mereka. Sesungguhnya Allah akan mengumpulkan semua orang-orang munafik dan orang-orang kafir di dalam Jahannam,



BincangSyariah.Com dikelola oleh jaringan penulis dan tim redaksi yang butuh dukungan untuk bisa menulis secara rutin. Jika kamu merasa kehadiran Bincangsyariah bermanfaat, dukung kami dengan cara download aplikasi Sahabat Berkah. Klik di sini untuk download aplikasinya. Semoga berkah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here