Hukum Memberi Nama pada Janin yang Keguguran

0
1472

BincangSyariah.Com – Adakalanya, janin yang masih berada dalam kandungan mengalami keguguran. Biasanya janin mengalami keguguran di usia muda kehamilan, seperti masih usia dua bulan, tiga bulan atau empat bulan. Dalam Islam, bagaimana hukum memberi nama pada janin yang keguguran?

Menurut para ulama, menamai anak yang sudah lahir termasuk bagian dari tanggung jawab dan kewajiban orang tua. Namun mereka berbeda pendapat mengenai hukum memberi nama anak pada janin yang keguguran. Setidaknya, ada tiga pendapat ulama dalam masalah ini.

Pertama, menurut Imam Abu Hanifah, janin yang lahir dalam keadaan meninggal atau keguguran, maka dia tidak perlu diberi nama. Karena itu, orang tuanya tidak memiliki taggung jawab dan kewajiban untuk menamai anak yang lahir dalam keadaan meninggal atau keguguran. Ini sebagaimana disebutkan dalam kitab Al-Fatawa Al-Hindiyah berikut;

من ولد ميتا لا يمسى عند ابي حنيفة خلافا لمحمد رحمهما الله تعالى

Janin yang dilahirkan dalam keadaan meninggal, maka tidak perlu dinamai menurut Imam Abu Hanifah, berbeda dengan pendapat Muhammad, semoga keduanya dirahmati Allah.

Pendapat ini juga merupakan pendapat yang masyhur di kalangan ulama Malikiyah.

Kedua, menurut ulama Syafiiyah, janin yang keguguran sebaiknya tetap dinamai. Bahkan menurut Imam Nawawi dalam kitab Al-Nihayatul Muhtaj, janin yang keguguran dan sudah terdapat ruh di dalamnya, maka dia disunnahkan untuk diberi nama. Beliau berkata sebagai berikut;

يندب تسمية سقط نفخت فيه الروح

Disunnahkan menamai janin yang keguguran yang sudah ditiupkan ruh padanya.

Ketiga, menurut ulama Hanabilah, janin yang lahir dalam keadaan meninggal atau keguguran, maka dia dianjurkan untuk diberi nama. Jika sekiranya janin yang keguguran belum diketahui jenis kelaminnya, laki-laki atau perempuan, maka dia diberi nama yang sekiranya cocok untuk nama laki-laki dan perempuan. Mislanya, Qatadah, Maisarah, dan lainnya.

Baca Juga :  Hukum Menjual Kembali Makanan Sisa Pembeli, Apakah Boleh?

Dalam kitab Al-Mughni, Ibnu Qudamah mengatakan bahwa alasan mengapa janin yang keguguran tetap dianjurkan untuk diberi nama adalah karena janin tersebut akan dipanggil kelak di hari kiamat dengan namanya. Karena itu, janin yang lahir dalam keadaan meninggal atau keguguran selayaknya tidak dibiarkan tanpa nama, melainkan diberi nama agar kelak dia di akhirat memiliki nama sesuai nama ketika di dunia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here