Hukum Membeli Pernak-Pernik Hari Raya Non-Muslim

0
537

BincangSyariah.Com – Menjelang perayaan hari raya non-Muslim seperti Natal, biasanya banyak dijumpai pernak-pernak yang dijual di toko dan pasar untuk memeriahkan hari raya tersebut. Misalnya, topi santa, pohon natal, kue natal dan lainnya. Dan kadang ada sebagian umat Muslim yang membeli dan memakainya. Dalam Islam, bagaimana hukum membeli pernak pernik hari raya non-Muslim tersebut?

Membeli pernak-pernik perayaan non-Muslim hukumnya boleh. Kita tidak dilarang untuk membeli topi santa, kue natal dan lainnya saat hari raya non-Muslim. Menurut Imam Ahmad, jika hanya membeli pernak-pernak perayaan non-Muslim yang dijual di toko atau di pasar tidak masalah asalkan tidak menghadiri tempat ibadah non-Muslim saat hari raya mereka.

Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam kitab Aladabus Syar’iyah wal Minahul Mar’iyah berikut;

وقال الخلال : في جامعه ( باب في كراهية خروج المسلمين في أعياد المشركين ) وذكر عن مهنا قال سألت : أحمد عن شهود هذه الأعياد التي تكون عندنا بالشام مثل دير أيوب وأشباهه يشهده المسلمون يشهدون الأسواق ويجلبون فيه الغنم والبقر والدقيق والبر وغير ذلك إلا أنه إنما يكون في الأسواق ، يشترون ولا يدخلون عليهم بيعهم قال : إذا لم يدخلوا عليهم بيعهم وإنما يشهدون السوق فلا بأس .

“Alkhallal berkata dalam kitab jami’nya, (bab terkait kemakruhan orang Muslim menyaksikan hari raya orang-orang musyrik). Disebutkan dari Mihnak, dia berkata, ‘Saya pernah bertanya kepada Imam Ahmad tentang hukum menyaksikan perayaan ini yang ada di tempat kita di Syam, seperti di Dir Ayub dan semacamnya. Kaum muslimin menyaksikan perayaan ini, mereka menyaksikan di pasar dan mengambil kambing, sapi, tepung, gandum dan lainnya di pasar tersebut. Hanya saja hal tersebut di pasar, mereka membeli dan mereka tidak masuk ke sinagog (tempat ibadah). Maka Imam Ahmad menjawab; jika mereka tidak masuk ke tempat ibadah, hanya menyaksikan di pasar, maka tidak masalah.”

Baca Juga :  Tafsir Surah al-Insyirah: Satu Kesulitan Direspon dengan Dua Kemudahan

Dalam riwayat lain disebutkan bahwa Imam Ahmad pernah berkata sebagai berikut;

إنما يمنعون أن يدخلوا عليهم بيعهم وكنائسهم ، فأما ما يباع في الأسواق من المأكل فلا ، وإن قصد إلى توفير ذلك وتحسينه لأجلهم

“Kaum muslimin hanya dilarang memasuki sinagog dan gereja (pada saat hari raya non-Muslim). Adapun sesuatu yang dijual di pasar, seperti makanan, maka tidak dilarang. Meskipun dimaksudkan untuk menyempurnakan dan memperindah perayaan tersebut untuk mereka.”

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here