Hukum Membeli Barang di Mesin Jual Otomatis

1
768

BincangSyariah.Com – Mesin jual otomatis (vending machine) adalah mesin yang mengeluarkan barang-barang seperti makanan ringan atau minuman ringan untuk pelanggan secara otomatis. Layaknya penjual asli, mesin ini akan mengeluarkan barang yang kita inginkan setelah kita membayarnya dengan cara memasukkan sejumlah koin maupun uang kertas.

Bagaimana fikih memandang persoalan ini terkait transaksinya? Bukankah di dalam akad bai’ (jual beli) disyaratkan adanya ṣīghat (ijab-kabul) yang muncul dari dua pihak sebagai penjual dan pembeli? Sedangkan dalam masalah ini, jangankan ṣīghat, penjualnya saja tidak ada.

Mempertimbangkan tidak adanya ijab-kabul serta tidak lengkapnya dua pihak yang melakukan transaksi dalam permasalahan ini, maka dari kacamata fikih praktik di atas tidak bisa disebut sebagai akad; bukan jual-beli yang dapat kita hukumi sah dan tidaknya.

Tapi, bukan berarti makanan atau minuman yang kita ambil dari mesin tersebut adalah haram. Dari tinjauan fikih, praktik di atas bisa disebut dengan zhannu ar-ridha bi al-badal/al-akhdzu bi al-‘ilm (mengambil barang disertai keyakinan atau dugaan kuat adanya kerelaan dengan ganti rugi).

Untuk lebih jelasnya, mari perhatikan keterangan kitab Is’ādur-Rafīq di bawah ini:

وفي الإيعاب: لك أن تقول الكلام جميعه مفروض فيمن لا يعلم أو يظن رضا المأخوذ منه ولو بلا بدل أما من علمه أو ظنه فلا يتأتى فيه خلاف المعاطاة لأنهم اذا جوّزوا له الأخذ من ماله مجانا مع علم الرضا أو ظنه فلَأن يجوز عند بذل العوض أولى لأن المدار على ظن الرضا أو علمه لا على وجود العوض أو عدمه

“Di dalam kitab Al-Ī’ab dituturkan: ‘Anda boleh saja mengatakan bahwa perkhilafan ulama tentang tidak sahnya jual beli tanpa ṣīghat (jual beli mu’āṭah) hanya berlaku untuk orang yang tidak meyakini atau menduga adanya kerelaan dari orang yang diambil barangnya, meskipun tanpa diberi ganti rugi. Sedangkan bagi orang yang meyakini atau menduga adanya kerelaan, maka di sini tidaklah berlaku perkhilafan mu’āṭah. Sebab, jika ulama telah menghalalkan mengambil harta orang lain secara cuma-cuma asalkan disertai keyakinan atau dugaan kuat adanya kerelaan, maka dengan adanya ganti rugi kehalalannya akan lebih kuat. Karena inti persoalannya adalah pada wujudnya keyakinan atau dugaan kuat adanya kerelaan, bukan pada adanya ganti rugi atau tidak.’”

Pada dasarnya, motif di balik disyaratkannya ṣīghat dalam akad-akad muamalah (dari yang sifatnya tukar-menukar seperti bai’ hingga yang sifatnya pemberian seperti hibah) adalah untuk memastikan bahwa pihak yang bersangkutan benar-benar rela melakukannya.

Baca Juga :  Hukum Menimbun Barang Dagangan

Dari sini ada pengecualian yang disampaikan ulama, yakni mengambil barang orang-orang dekat kita (keluarga, sahabat, dsb.) dengan tanpa izin terlebih dahulu, tapi kita tahu bahwa mereka pasti rela jika kita yang mengambilnya. Yang semacam ini hukumnya boleh, meski tidak ada ṣīghat. Selanjutnya bila masalah ini digeret pada persoalan vending machine di atas, maka kita bisa memastikan kehalalan barang yang diambil dari mesin tersebut. Sebab, dengan meletakkan makanan/minuman di dalam sebuah mesin yang memang disediakan untuk diambil oleh semua orang, tentu pemiliknya memang rela barangnya diambil asalkan dengan ganti rugi (uang). Wallahu A’lam.



BincangSyariah.Com dikelola oleh jaringan penulis dan tim redaksi yang butuh dukungan untuk bisa menulis secara rutin. Jika kamu merasa kehadiran Bincangsyariah bermanfaat, dukung kami dengan cara download aplikasi Sahabat Berkah. Klik di sini untuk download aplikasinya. Semoga berkah.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here