Hukum Membakar Bendera yang Bertuliskan Kalimat Tauhid

39
8593

BincangSyariah.Com – Lafal Alquran, asma Allah dan Nabi Muhammad saw. hukumnya wajib dimuliakan. Benda apapun yang bertuliskan Alquran, asma Allah dan Nabi saw. tidak boleh dibawa ke tempat kotor, seperti WC dan lainnya. Bahkan jika kedapatan berada di tempat yang tidak layak, seperti jatuh di tanah, maka wajib mengangkatnya dan meletakkan di tempat yang tinggi sekiranya tidak sejajar dengan posisi kaki.

Karena itu, ulama Syafiiyah menghukumi makruh menulis kalimat Alquran, kalimat tauhid dan lainnya pada benda yang sekiranya sulit menjaga kemulian kalimat-kalimat tersebut. Misalnya, menulis nama Allah pada bendera, undangan, baju, topi, dan lainnya. Bahkan ulama Malikiyah berpendapat haram karena akan menyebabkan kalimat-kalimat tersebut diremehkan. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam kitab Al-Mausu’ah Al-Kuwaitiyah berikut.

ذهب الشافعية وبعض الحنفية إلى كراهة نقش الحيطان بالقرآن مخافة السقوط تحت أقدام الناس ، ويرى المالكية حرمة نقش القرآن واسم الله تعالى على الحيطان لتأديته إلى الامتهان

“Ulama Syafiiyah dan sebagian ulama Hanafiyah berpendapat terhadap kemakruhan mengukir (menulis) dinding dengan Alquran karena dikhawatirkan jatuh di bawah kaki manusia. Sementara itu, ulama Malikiyah berpandangan bahwa haram menulis Alquran dan nama Allah di atas dinding karena akan menyebabkan nantinya disepelekan.”

Apabila terlanjur ditulis pada benda tersebut, maka para ulama menyarankan dua tindakan untuk menjaga dan memuliakan kalimat-kalimat tersebut. Pertama, kalimat-kalimat tersebut dihapus dengan air atau lainnya. Kedua, benda tersebut dibakar dengan api.

Syaikh Zainuddin Al-Malibari mengatakan dalam kitabnya Fathul Mu’in, bahwa menghapus dengan air lebih utama dibanding membakarnya. Hal ini jika proses menghapus dengan air tersebut mudah dilakukan dan airnya tidak jatuh ke tanah. Namun jika sulit menghapusnya atau airnya jatuh ke tanah, maka membakarnya lebih utama.

Baca Juga :  Bendera HTI Bukan Bendera Rasulullah

Dalam kitab Tuhfatul Muhtaj disebutkan;

والغسل أولى منه أي إذا تيسر ولم يخش وقوع الغسالة على الارض وإلا فالتحريق أولى بجيرمي عبارة البصري قال الشيخ عز الدين وطريقه أن يغسله بالماء أو يحرقه بالنار قال بعضهم إن الاحراق أولى لان الغسالة قد تقع على الارض

“Membasuh lebih utama dibanding membakarnya. Ini jika mudah dan tidak dikhawatirkan airnya jatuh ke tanah. Jika sebaliknya, maka membakarnya lebih utama, (Bujairimi dengan ibarat Al-Bashri). Syaikh Izzuddin mengatakan, caranya ialah membasuhnya dengan air atau membakarnya dengan api. Sebagian ulama mengatakan, membakarnya lebih utama karena membasuh dengan air akan jatuh ke tanah.”

Dengan demikian, membakar benda yang bertuliskan kalimat tauhid seperti bendera dan lainnya hukumnya boleh bahkan wajib jika bertujuan menjaga kehormatan dan kemuliaan kalimat tauhid tersebut.

39 KOMENTAR

      • betul se x guru sya dulu juga mengajarkn seperti itu. tpi knp sekarang umat muslim senang se x perang dengan sodaranya.. mungkin dulu kanjeng nabi membawa bendera itu saat perang. tpi sekarang yg diperangi siapa. agama sama tuhan kita sama panutan kita sama.. terus atas dasar ap mereka membuat bendera itu..

  1. Pea…klo kececer tuh bendera berati yg bawa pendeta tuh banyak…bukan 1 orang aja yg bawa…dan ingat juga lihat lihat wajah wajah wajah dari pembakar bendera tauhid bersemangat sekali membakarnya…

  2. Pea…klo kececer tuh bendera berati yg bawa pendeta tuh banyak…bukan 1 orang aja yg bawa…dan ingat juga lihat lihat wajah wajah wajah dari pembakar bendera tauhid bersemangat sekali membakarnya…

  3. Endingnya terlalu dipaksakan editor, HTI sdh dilarang dan mana ada oknum HTI yg membawa bendera tauhid d event tsb, jadi bs disimpulkan bhw ada oknum yg membuat bendera tersebut dgn sengaja lalu membakarnya… Lalu dimana letak pembelaan atas kemuliaan kalimat tauhid tersebut.
    Terlalu prematur menyimpulkan bhw pembakaran dilakukan atas nama kemuliaan kalimat tauhid

    • Gak bisa dong ngomong mana ada, orang di acara Garut itu tadinya ada yg ngibarin bendera tauhid itu. Padahal udah sepakat buat gak ngibarin kecuali bendera merah putih.

  4. mun juriyanto,
    lha nabi juga menulis kalimah tauhid itu juga di bendera hitam, (arroyan) dan di bendera putih (aliwa’). pripun niki , ulama2 syafiiyiyah

  5. Ini masalah agama atau politik. Kelompok/ orang yang tidak puas dengan penjelasan ulama tentu lebih luas & tinggi semangat & ilmu-Nya. Ane ragu tiba2 lebih hebat kalian ini karena ijtihad-Nya berbeda dgn ulama, jangan2 gara2 pilpres kalian benci. kalo iya ini bukan persoalan agama doonk.

  6. Kalimat pembenarannya di cari cari. Bendera merah putih plastik juga mereka bakar.. siapa mereka, siapa mereka menyulut fitnah pada ‘BANSER”, jangan jangan “BANSER” kesusupan musang berbulu “BANSER” nggak tahu… ayo bersih bersih kalau perlu dari atas dulu terus sampe bawah… di NU banyak orang dengan karomah yang bisa baca jiwa, deteksinya lebih akurat dibanding alat elektronik.

  7. Mekaten nggih Gus?
    Mboten menopo ngoten meniku nggih?
    Saya juga punya banyak benda lain berlafadz Kalimah tayyibah,.
    Sekantenan dibakar?

    Utawi misal saya rawat dan muliakan sesuai dengan fungsi ‘bendera’ dengan mengibarkannya, menopo kenging, Gus?

  8. Para muslim pemecah belah islam.. beda2kan saja terus, tidak pernah mencari kesamaan dan hidup dalam keindahan dan kedamaiaan. Katanya mau jadi nomor 1 di dunia. Malah saling serang. Inilah akhir zaman. Muslimnya aja udah pecah gini. Ga asik.

  9. Emang benar apa yg di katakan kenjeng nabi muhammad saw,bahwa pada akhir zaman umat islam bagai buih di lautan,banyak tapi mereka akan bercerai berai,tidak bisa bersatu,walau satu keyakinan tapi bermusuhan.

  10. Emang benar apa yg di katakan kenjeng nabi muhammad saw,bahwa pada akhir zaman umat islam bagai buih di lautan,banyak tapi mereka akan bercerai berai,tidak bisa bersatu,walau satu keyakinan tapi bermusuhan.

  11. Membakar seperti apa,tentu ada adab nya bukan dipertontonkan didepan umum dgn semangat menyanyikan lagu,itu bukan contoh kemuliaan tapi kemarahan dan kebencian

  12. Antara sedih senang tapi heran ketika melihat saling lawan dlm komentar d atas.
    Indonesia yg negara kesatuan, tapi mulai terpecah oleh ego dan fanatisme masing2.

    Tidak mencerminkan manusia yg maju, wawasan luas, tenggang rasa dan beretika.
    Bkn hal yg sepele, tapi bkn hal yg besar juga jika semuanya saling reintrospeksi.

  13. Boleh/tidaknya melakukan tindakan, harus melihat alasan atau asal muasalnya. Pada awal kutipan di sebutkan “apapun yang bertuliskan Alquran, asma Allah dan Nabi saw. tidak boleh dibawa ke tempat kotor, seperti WC dan lainnya. Bahkan jika kedapatan berada di tempat yang tidak layak, seperti jatuh di tanah, maka wajib mengangkatnya dan meletakkan di tempat yang tinggi sekiranya tidak sejajar dengan posisi kaki”.Asal muasal ulama memberi makruh di kutipan ini adalah takut tidak bisa menjaga (Jatuh sejajar posisi kaki, dll). Lha bendera yang di bakar kemarin ini di ambil saat di kibarkan yang artinya posisi dijaga dan di junjung tinggi oleh pemilik. Silahkan di maknai.. Yuk bertaubat. Saling jaga tauhid dan islam.

  14. Saya jadi ingat dengan apa yang disampaikan oleh salah satu guru saya, suatu ketika datang menghadap ke beliau rombongan petinggi militer, dan salah satunya ditanyakan kepada beliau perihal dua tokoh Indonesia kala itu, yakni siapa GD dan siapa NM…
    Dijawab oleh Beliau jika GD itu ibarat pasar malam sedangkan NM itu ibarat perpustakaan…
    Monggo dicerna… Yang satu unpredictable, satunya lagi bisa memenuhi hajat/dalil sesuai pesanan…

  15. Kejadian heboh ini tdk akan terjadi bila banser di garut tdk main hakim sendiri. Seharusnya bila menemukan pelanggaran hukum, banser tangkap pelakunya dan amankan barang buktinya selanjutnya serahkan kpd pihak kepolisian. Semoga kasus ini bisa diambil ikhtibar buat kita dan Janganlah kita umat islam mau di adu domba. Walau bgmnpun banser saudara kita demikian juga warga HTI yg salah jalan juga msh saudara kita seiman dan islam.

  16. Alasan utamanya bukan karena ingin menjaga kesucian kalimah tauhid, melainkan karena mereka menganggap itu bendera HTI. Masalahnya, nanti kalau ada umat non Islam yang ikut-ikutan membakar bendera tauhid dengan alasan karena itu bendera HTI sebagai ormas terlarang, apakah BANSER juga akan diam?

  17. Fanatisme buta itu seperti orang tenggelam menggapai-gapai jerami hanyut untuk menyelamatkan diri. Sekarang, ada yang berdalih bahwa hadits tentang bendera tauhid itu dhaif sebagai pembenaran untuk membakarnya. Padahal, banyak amalan dan ritual mereka sehari-hari disandarkan pada hadits dhaif, bahkan maudhu’. Ajaib.

  18. Bukankan penulisan kalimat Tauhid pada liwa dan Arroya telah dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW ? sampai liwa dan Roya tersebut turun temurun kepada pars Sahabat-Nya ?

  19. Mohon kepada saudara seakidah dan satu kepercayaan kepada islam cari lah jln yg terbaik agar kita sesama islam tetap bersatu jgn lah saling membenci dan menyalah kan. mari kita cari jln yg terbaik itu saja dari saya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here