Hukum Memasuki Tempat Ibadah Non-Muslim

7
8170

BincangSyariah.Com – Tempat ibadah adalah rumah ibadah, atau suatu tempat yang digunakan oleh umat beragama untuk beribadah sesuai dengan keyakinan dan ajaran agamanya masing-masing. Umat Islam memiliki masjid, umat Kristiani memiliki gereja, umat Hindu memiliki pura, umat Budha memiliki vihara, umat Kong Hu Chu memiliki klenteng, umat Yahudi memiliki sinagog, umat Shinto memiliki jinja, umat Sikh memilki gurdwara, begitu juga dengan umat-umat lainnya.

Dengan adanya tempat ibadah yang beragam ini, lantas bagaimana hukum memasuki tempat ibadah non-muslim?

Alquran dan hadis tidak secara eksplisit melarang seorang muslim memasuki tempat-tempat peribadatan non-muslim. Dan juga sebaliknya Alquran tidak melarang secara eksplisit non-muslim memasuki tempat ibadah umat islam. Islam hanya melarang umatnya untuk beribadah menyembah Allah dengan cara yang tidak diajarkan.

Perhatikan firman Allah Swt:

أم لهم شركؤا شرعوا لهم من الدين ما لهم يأذن به الله

“Apakah mereka mempunyai sembahan selain Allah yang menetapkan aturan agama bagi mereka yang tidak diizinkan (diridhai) Allah (QS. Asy-Syura :21)

Larangan demikian juga ditegaskan oleh hadis Nabi:

من احدث فى أمر نا هذا ما ليس منه فهو رد

“Barang siapa mengada-mengada dalam masalah (agama) kami ini sesuatu yang tak masuk di dalam bagiannya maka itu ditolak.” (HR. Muslim)

Dengan demikian para ulama berbeda pendapat tentang masalah ini, menurut Sulaiman Al-Bujairimin dalam Hasyiyah Al-Bujairimi mengatakan bahwa ulama-ulama Syafiiyyah lebih memilih hukum haram jika di dalamnya terdapat lukisan dan patung, dan jika tidak ada maka hukumnya makruh.

Menurut Imam Nawawi dalam Al-Majmu’ berdasarkan riwayat Ibnu munzir dari Umar bin Khatab dan Ibnu Abbas dan Imam Malik bahwa memasuki rumah ibadah non-muslim kemudian shalat di dalamnya maka hukumnya makruh.

Sedangkan menurut Ibnu ‘Abidin dalam Hasyiyah Radd Al-Mukhtar, Ulama-ulama Hanafiyah cenderung menghukumi haram dengan dalih bahwa tempat ibadah non-muslim adalah tempat berlindungnya setan.

Sementara ulama Hanabilah terbagi dua kelompok, pertama, memilih hukum haram jika terdapat lukisan, seperti disampaikan oleh Ibnu Taimiyah dalam al-Fatawa al-Kubra:

والمذ هب الذي عليه عا مة الأصحاب: كراهة دخول الكنيسة المصورة, وهذا هو الصواب الذي لا ريب فيه

“Mazhab oleh umumnya ulama Hanabilah adalah kemakruhan memasuki gereja yang didalamnya terdapat lukisan. Dan ini adalah yang benar yang tak diragukan lagi.”

Kelompok kedua dari Hanabilah memilih hukum mubah (boleh) secara mutlak, baik di dalamnya terdapat lukisan maupun tidak. Hukum haram hanya berlaku bagi mereka yang memajang lukisan itu bukan bagi mereka yang memasuki tempat ibadah yang ada lukisannya itu, begitulah yang dikatakan Ibnu Qudamah. Dalam kitabnya Al-Mughni, ia mengatakan:

فأما دخول منزل فيه صو رة فليس بمحرم وإنما أبيح ترك الدعوة من أجله عقو بة للداعي باءسقاط حرمت لإيجا د المنكر في داره ولا يجب على من راه فى منزل اللداعى الخروج فى ظا هر كلا م أحمد

“Adapun memasuki yang di dalamnya terdapat lukisan maka hukumnya tidak haram. Dan sesungguhnya diperbolehkan tidak memenuhi undangan (undangan menghadiri acara yang diselenggarakan di dalam rumah tersebut) dengan maksud memberi sanksi kepada pemiliknya dengan cara menghilangkan kehormatan undangannya karena ia telah memasukkan kemungkaran di dalam rumahnya. Dan bagi mereka yang melihat lukisan tersebut di dalam rumahnya tuan rumah tidak diwajibkan untuk meninggalkannya.”

Melihat perbedaan ulama di atas, kita sebagai seorang muslim pastinya harus bersikap hati-hati ketika memasuki rumah ibadah non-muslim. Akan tetapi di dalam perbedaan ulama ini penulis akan menarik konklusi bahwa keharaman itu bisa berlaku ketika orang memasuki tempat ibadah non-muslim tidak memiliki kepentingan apa-apa, atau justru ingin ikut beribadah layaknya pengikut agama tersebut.

Jika masuknya ke tempat ibadah non-muslim dengan tujuan ingin mempererat tali persaudaraan sebagai Ukhwah Insaniyah, dan Ukhwah Wathaniyah yang hal ini menjadi kewajiban bagi kita merawat persatuan dan menjaga perdamaian khususnya di negara Indonesia ini yang mana perbedaan agama sering menjadi alat permusuhan yang berujung perpecahan, maka hukumnya boleh bahkan sangat dianjurkan sepanjang tidak mengikuti ritual-ritual keagamaan di dalamnya. Hal itu itu karena tidak ada larangan dalam Alquran dan hadis secara eksplisit.

Wallahu A’lam

7 KOMENTAR

  1. Jika masuknya ke tempat ibadah non-muslim dengan tujuan ingin mempererat tali persaudaraan sebagai Ukhwah Insaniyah, dan Ukhwah Wathaniyah yang hal ini menjadi kewajiban bagi kita merawat persatuan dan menjaga perdamaian khususnya di negara Indonesia ini yang mana perbedaan agama sering menjadi alat permusuhan yang berujung perpecahan, maka hukumnya boleh bahkan sangat dianjurkan sepanjang tidak mengikuti ritual-ritual keagamaan di dalamnya. Hal itu itu karena tidak ada larangan dalam Alquran dan hadis secara eksplisit.

    Kesimpulannya kok berbeda dengan ibaroh yang ada diatasnya?

  2. Saya senang dgn artikel di bincang syariah ini hanya kalau boleh saran…harap dalil alqurannya atau dalil atsar berbahasa Arabi…ditulis bahasa arab dgn sempurna dan berharakat. Agar bila si pembaca membaca bisa pula menjadi rujukan dalil yg bisa dipertanggung jawabkan kepada sesama…

  3. Untuk menjalani tali persaudaraan dan perdamaian tidak harus masuk ke tempat ibadah lain. Islam itu toleransi, jangan toleransi kebablasan.
    Lihat negara yg mayoritas islam, tidak ada kekerasan pada agama lain.
    Namun sebaliknya jika ada negara minoritas islam maka banyak diskriminasi disana.
    Toleransi dan jaga persaudaraan bisa dengan menjaga saat mereka ibadah itu bisa dan tidak ada kewajiban unat islam untuk masuk demi menunjukkan toleransi

  4. Kenapa bisa ambil kesimpulan begitu?

    Tidak ada dalil di atas yg membahas silaturrahmi antar non-muslim. Tiba-tiba kesimpulannya boleh kalau utk silaturrahmi.

    Ngapain silaturrahmi ke tempat ibadah agama lain? Mohon penjelasannya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here