Hukum Memanfaatkan Salah Satu Organ Hewan Tanpa Disembelih

0
1010

BincangSyariah.Com – Manusia bukan hanya dituntut untuk berbuat baik pada sesamanya, akan tetapi juga pada makhluk lain. Atas nama manusia, ia tidak boleh semena-mena terhadap alam sekitar. Baik pada benda hidup, misal pada hewan, atau pada benda mati, misal barang tambang.

Manusia dipersilahkan oleh Allah Swt. untuk mengelola bumi beserta isinya, demi kebaikan diri sendiri atau umum. Tapi, manusia dilarang berbuat kerusakan di muka bumi. Yakni dengan menggunakannya melebihi kewajaran atau tidak sesuai dengan aturan yang berlaku. Karena ketidakwajaran manusia pada alam akan berakibat fatal pada hidup mereka sendiri. (Hukum Jual Beli Tas atau Dompet Kulit Ular, Buaya, dan Macan)

Manusia harus benar-benar memiliki rasa asih, asah, dan asuh terhadap lingkungan sekitar. Umpanya pada binatang, manfaatkan dengan baik tanpa harus mengganggu habitatnya. Perhatikan tuntutan dan tuntutan syariat dalam memanfaatkan binatang tertentu. Juga, perhatikan peraturan yang berlaku di daerahnya. Misal di Indonesia. Karena ada sebagian fauna yang dilindungi.

Dalam islam, memanfaatkan hewan harus sesuai Syariat. Artinya berpedoman pada Al-Quran, Hadits, dan Ijma ulama. Ada sebagian hewan yang halal dikonsumsi dan sebagian lain haram dimakan. Mengkonsumsi daging hewan harus yang halal dan baik serta disembelih secara syariat.

Artinya kita tidak dibenarkan mengkonsumsi atau memanfaatkan sebagian anggota “albahimah” tanpa disembelih terlebih dahulu. Sebut saja kebiasaan penduduk Madinah sebelum hijrah-Nya Rasul Saw. Mereka terbiasa mengambil bagian punuk unta dan bagian belakang kambing tanpa disembelih. Hal tersebut langsung mendapat perhatian dari Rasulullah Saw. Beliau berasabda:

ما قطع من البهيمة وهي حية فهو ميت

Sesuatu yang dipotong dari bagian hewan yang hidup adalah bangkai (Dikeluarkan oleh Imam Abu Daud dan At-Tirmidzi, Bulughul Marom, hal. 14)

Dalam Kitab Ibanatul Ahkam (juz 1/hal 51-52) dijelaskan tentang kandungan hadits tersebut, yaitu:

Baca Juga :  Prof. Quraish Shihab, Khalifah, dan Khilafah

Pertama, hadits tersebut menunjukkan terhadap larangan menyiksa hewan. Salah satunya dengan memotong bagian tertentu dari hewan tersebut. Misal unta diambil punuknya, kambing diambil ekornya. Karena hal tersebut sama saja dengan menyiksa hewan.

Kedua, hadits tersebut menunjukkan bahwa sesuatu yang diambil dari hewan dalam keadaan hidup adalah haram dikonsumsi atau dimanfaatkan. Karena termasuk bangkai. Artinya, sesuatu yang terpotong dari hewan yang bangkainya najis, maka juga ikut najis.

Hanya saja sebagian ulama mengecualikan bulu hewan yang halal dimakan. Misal bulu ayam yang dijadikan kemucing, bulu kambing untuk baju wol, dan sebagainya.

Ketiga, yang dimaksud al-bahimah dalam hadits tersebut adalah semua hewan yang berkaki empat. Misalkan sapi, kambing, dan unta.

Dapat diambil simpulan, memotong organ tertentu dari hewan hukumnya haram. Karena hal tersebut dikategorikan sebagai penyiksaan. Sedangkan kita diperintahkan untuk berbelas kasih pada makhluk, termasuk binatang. Mengkomsumsi atau memanfaatkan bagian yang terpotong tersebut hukumnya juga haram. Karena termasuk bangkai walaupun dari hewan yang halal dimakan.

Banyak kisah tentang manusia yang masuk surga dikarenakan belas pada hewan. Juga, tidak sedikit manusia yang masuk neraka gara-gara menyiksa hewan. Wallahua’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here