Hukum Memanfaatkan Fitur Leverage pada Trading Forex

2
36

BincangSyariah.Com – Trading forex merupakan pola jual beli mata uang asing yang dilakukan di pasar turunan/pasar derivatif. Media yang digunakan untuk melakukan trading adalah aplikasi dari broker forex tertentu.

Mekanisme trading forex ini umumnya dilakukan dengan jalan pihak trader melakukan kontrak yang disebut dengan istilah lot. Untuk 1 lot pasangan mata uang memiliki ukuran tertentu, misalnya 1 lot adalah sama dengan 100.000 Unit untuk dolar Amerika (USD).

Dengan kata lain, agar bisa melakukan trading dengan margin forex 1 lot ini, maka pihak trader melazimkan untuk memiliki modal sebesar 100.000 USD, atau setara 1,420,000,000 (1,42 Milyar rupiah). Angka ini selanjutnya kita sebut sebagai ekuitas.

Kedudukan Lot dalam Kontrak Trading Forex

Untuk memiliki ekuitas sebesar yang dibutuhkan dalam trading, maka sudah barang tentu hal itu sangat sulit sekali dilakukan bila tanpa adanya pihak yang turut memberikan bantuan pendanaan (funding). Untuk itulah, maka dalam beberapa aplikasi broker, diperkenalkan kontrak. Ada tiga kontrak lot, yaitu: (1) maximum lot (100% lot), (2) medium lot (10% lot), dan (3) mikro lot (1% lot).

Jika 1 maximum lot memiliki nilai kontrak sebesar 100.000 unit, sehingga batas transaksi bisa mencapai 100,000 USD, maka dalam ukuran medium lot, kontrak itu berlangsung sebesar 10,000 unit (10% dari 1 lot). Hal yang sama juga berlaku untuk ukuran lot ada dalam kategori mikro lot, maka nilai kontrak itu berada pada kisaran 1,000 unit (1% max lot), yang itu berarti nilanya setara dengan 1,000 USD atau setara dengan 14,200,000 rupiah (1% dari 1 lot).

Tentu saja, angka sebesar 14,2 juta rupiah ini juga merupakan angka yang relatif besar bagi sebagian besar pihak di Indonesia. Padahal, kontrak lot itu adalah yang harus dipenuhi agar bisa melakukan trading. Jadi, bagaimana solusinya agar tetap bisa melakukan trading forex?

Fitur Leverage sebagai Solusi Cepat bisa melakukan Trading

Untuk memenuhi batas lot agar bisa ikut trading, salah satu teknologi yang diperkenalkan oleh para broker, adalah fitur leverage. Fitur ini pada dasarnya tidak jauh-jauh amat dengan pengertian leverage pada sejumlah aktifitas jual beli saham, dan sejenisnya.

Prinsip dari fitur leverage ini adalah pada dasarnya merupakan sebuah tawaran berupa memberi kredit (utangan/dana talangan) yang disampaikan oleh broker kepada trader. Bagaimana mekanismenya itu disampaikan? Begini penjelasannya.

Suatu misal, ekuitas / saldo deposit sebenarnya milik anda di situs broker forex adalah sebesar 100 USD atau setara 1,420,000 rupiah. Sementara kontrak lot agar bisa ikut trading yang dibutuhkan (margin dibutuhkan) adalah minimal 14,200,000 rupiah (1% dari 1 lot).

Itu artinya, Anda kekurangan dana sebesar 14,200,000 – 1,420,000 = 12,780,000 rupiah untuk memenuhi margin lot yang dibutuhkan. Bagaimana anda mendapatkan dana itu? Anda bisa mengajukan leverage forex dengan mengakses fitur leverage.

Kita umpamakan, anda mengambil leverage forex dengan rasio sebesar 1:500. Makna dari rasio ini, adalah bahwa dengan kepemilikan 1 dolar (+14,200 rupiah), anda bisa menggerakkan ekuitas sebesar 500 USD.

Alhasil, dengan rasio leverage forex ini, serta dengan margin forex yang anda tetapkan sebesar 1% lot (setara 14,200,000 rupiah dengan basis 1 lot sama dengan 100,000 unit (USD)), maka dengan ekuitas riel anda sebesar 1,420,000 rupiah, anda bisa menggerakkan ekuitas forex minimum (margin lot forex minimum) sebesar 14,200,000 rupiah.

Hal yang sama berlaku jika anda mengikuti kontrak lot medium, maka ekuitas riel anda sebesar 1,420,000 rupiah, bisa menggerakkan ekuitas forex sebesar 140,200,000 rupiah. Angka ini muncul, khususnya jika anda memakai rasio leverage forex sebesar 1:500.

Rasio leverage (1:500) ini juga bisa diartikan bahwa kontrak trading anda akan secara otomatis dihentikan oleh broker, manakala saldo ekuitas tersisa anda setelah melakukan trading adalah ketika hanya tersisa angka sebesar 100 USD : 500 = 0,2 USD atau setara dengan 14,200,000 rupiah : 500 = 28,400 rupiah.

Status Harta Leverage berdasarkan Sifat tertanggung atau Tidaknya Oleh Trader

Wilayah kajian kita dalam konteks ini, adalah mencari status harta utangan yang diperoleh dari leverage. Apakah benar bahwa leverage itu ada dalam bentuk harta utang riel?

Pertanyaan ini merupakan dasar utama yang harus dijawab, sebab menentukan sekali terhadap status hukum dari keuntungan atau kerugian yang terjadi pada ekuitas harta yang diperoleh lewat  trading.

Untuk mengetahui posisi sebenarnya dari leverage, maka dibutuhkan beberapa indikasi  (madhinnah).

Pertama, jika harta yang diperoleh dari leverage itu bersifat tertanggung oleh trader sehingga ia harus menggantinya ketika terjadi kasus kerugian (loss), maka benar bahwa leverage itu merupakan harta utang. Alhasil, leverage diperoleh lewat relasi akad qardl antara trader dan broker.

Kedua, jika harta yang diperoleh dari leverage itu bersifat tidak tertanggung oleh trader saat terjadi kasus loss, melainkan trader hanya kehilangan ekuitas riel (saldo deposit riel) yang tersimpan pada akun forexnya, maka leverage ini bukan termasuk harta utang yang diperoleh lewat relasi akad qardl (utang).

Relasi Akad pada Leverage yang Tidak Tertanggung Oleh Trader

Gambaran dari kondisi ini, sudah diuraikan berdasar Indikasi (madhinnah) sifat tertanggung atau tidaknya harta leverage oleh trader, di atas. Jika kondisi relasi akad itu ternyata memiliki buah pada sifat tidak tertanggungnya kerugian oleh trader, maka dalam hemat penulis, ada 2 kemungkinan akad yang mendasari disajikannya fitur leverage pada aplikasi broker forex, yaitu:

Pertama, Leverage itu diperoleh lewat relasi akad bai’ murabahah (jual beli dengan berbagi keuntungan).

Dalam konteks bai’ murabahah ini, pihak broker berperan selaku pihak yang ikut serta dalam kerjasama mengakuisisi lot yang diperlukan agar bisa ikut trading. Alhasil, untung rugi (profit & loss), adalah ditanggung bersama antara trader dan broker.

Kekalahan yang terjadi pada usaha jual beli (trading), bukan merupakan tanggung jawab pengembalian pihak trader kepada broker. Mengapa? Sebab, dalam murabahah meniscayakan kedua pihak sama-sama keluar modal dan berbagi untung – rugi.

Kedua, Leverage itu diperoleh lewat relasi akad mudharabah. Pada hakikatnya, yang dimaksud dengan mudlarabah di sini adalah sama pengertiannya dengan murabahah. Hanya saja, dalam mudharabah, ada pembagian nisbah keuntungan yang pasti antara pihak trader, broker dan mudlarib (pengelola). Alhasil, keuntungan dan kerugian ditanggung oleh tiga pihak sekaligus. Jika  untung, maka ketiganya mendapatkan untung. Namun, jika rugi, ketiganya juga menerima risiko kerugian yang sama, bahkan mudharib bisa tidak mendapat hasil sama sekali.

Sementara dalam murabahah, kerjasama itu hanya berlaku antara trader dan broker saja. Alhasil, pembagian keuntungan dan kerugian, hanya ditanggung berdua.

Wahasil, kesimpulan yang bisa diambil sejauh ini oleh peneliti, adalah baik leverage itu disajikan dalam bentuk akad bai’ murabahah ataupun mudharabah, keduanya adalah benar dan dibolehkan oleh syariat, dengan ketentuan tidak adanya illat (a) gharar (spekulatif), (b) ghabn (kecurangan), (c) maisir (perjudian), (d) jahalah (ketidaktahuan) dan (e) riba. Kelima illat ini yang bisa menjadikan leverage itu masuk dalam bingkai akad yang diharamkan dalam syariat. Wallahu a’lam bi al-shawab

2 KOMENTAR

  1. Saya masih kurang paham mengingat kalo loss itu jaminan yang tertangguh atas leverage akan hilang dan jikapun untung maka seluruhnya akan diperoleh trader, broker disini hanya menyediakan fasilitas leverage dan mencari untung lewat spread. Mungkinkah ini bisa disebut skema murabahah pada akun islami di tiap broker?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here