Hukum Memandikan Mayit yang Terbunuh Peristiwa Teror

0
1075

BincangSyariah-Baru-baru ini kita dibuat menangis oleh tragedi pembunuhan kolektif yang terjadi pada aksi teror penembakan brutal pada dua masjid di Selandia Baru yang menjadi perhatian dunia. Sang teroris beraksi ekstrem, menembaki jemaah yang sedang berada di lingkungan masjid dan disiarkan langsung melalui media sosial.(https://www.viva.co.id)

Jumlah korban tewas dalam serangan terhadap dua masjid di kota Selandia Baru Christchurch naik menjadi 50. Pihak penyelidik menemukan korban lain ketika mereka mengangkat mayat dari tempat kejadian, kata komisioner polisi negara itu, Minggu 17/3/2019.  (https://international.sindonews.com)

Para korban yang tewas dalam tragedi tersebut sebagaimana diketahui tergolong para syuhada. Karena menurut sabda Nabi seseorang yang mati terbunuh bukan akibat peperangan antara umat islam dan non muslim tapi akibat kezaliman yang dilakukan oleh orang muslim sekalipun digolongkan sebagai orang mati syahid. (H.R. Bukhari 2480)

Pertanyaannya sekarang, bagaimana status hukum yang behubungan dengan kewajiban memandikan, mengkafani, mensalatkan dan menguburkan، sebagaimana jenazah yang tidak tergolong syahid?

Berikut penjelasan imam al-Rauyani dalam bukunya, Bahr al-Mazhab fi Furu’i al-Mazhab al-Syafi’i, juz 2, halaman 565,

إذا قتل في غير المعترك ظلما حكمه حكم سائر الموتى، سواء قتل بحديد أو عيره، وبه قال مالك وأحمد، وقال أبو حنيفة: إن قتل ظلما بحديد لايغسل. وإن قتل بمثقل يغسل، لأنه يوجب المال، وهذا غلط لما قال الشافعي وعمر رضي الله عنهما: كان شهيدا لكنه غسل وصلي عليه، لأنه لم يقتل في معترك الكفار، ولم ينكر أحد فصار إجماعا، وقال الشافعي: الغسل والصلاة سنة ، أي طريقة وشريعة لا يخرج إلا من أخرجه رسول الله صلى الله عليه وسلم فأخرج عن جملتهم المقتول في معترك الكفار والباقي باق على حكم الأصل

Baca Juga :  Tiga Macam Hakim Menurut Nabi

Seseorang yang terbunuh akibat kezaliman dan tidak dalam medan peperangan antara kafir dan muslim hukumnya disamakan dengan jenazah pada umumnya, (wajib dimandikan, dikafani dan disalatkan) baik terbunuh dengan sentaja tajam atau alat berat.

Imam Malik dan Imam Ahmad sependapat dengan pernyataan mazhab Syafi’i diatas. Berbeda dengan Abu Hanifah, ia mengatakan jika matinya dengan benda tajam atau yang sejenis maka tidak boleh dimandikan dan apabila dibunuh dengan alat berat maka harus dimandikan karena hal itu dapat menyebabkan wajibnya membayar harta bagi pelaku.

Kata imam al-Rauyani, pendapat Imam Abu Hanifah dapat disanggah dengan dengan pernyataan al-Syafi’i yang menegaskan bahwa sayyidina Umar yang mati juga terbunuh akibat kezaliman juga dimandikan dan dikafani karena beliau tidak mati terbunuh di medan perang.

Lebih lanjut beliau (ar-Rauyani) menjelaskan bahwa al-Syafi’i mengatakan “memandikan jenazah dan mensalatkannya merupakan syariah yang diwajibkan, tidak boleh mengeluarkan seseorang dari hukum tersebut kecuali ada dalil lain dari Rasulullah Saw. Sementara dalil lain yang ditemukan mengatakan bahwa seseorang yang dikeluarkan dari hukum tersebut hanyalah fokus pada seseorang yang mati terbunuh dalam medan pertempuran antara kafir dan muslim, selain itu tetap dihukumi sebagaimana hukum jenazah pada umumnya.” Wallahu a’lam

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here