Hukum Memakan Kepiting

0
7577

BincangSyariah.Com – Jenis hidup yang di air sangat banyak ia bisa dikonsumsi, di antaranya kepiting. Ada juga sebagian orang yang menyebut dengan rajungan. Beda dengan rajungan, kepiting biasanya hidup di empang atau balong yang juga berdekatan dengan laut. Rajungan hidup di laut. Kepiting tahan hidup cukup lama di daratan, lima sampai sepuluh hari. Beda dengan rajungan, hewan yang hidup di laut ini tidak mampu hidup di daratan dalam waktu cukup lama. Hitungan menit saja sudah bisa mati.

Karena itu, petani hewan laut biasanya memanfaatkan cangkang rajungan untuk dijual sebagai kosmetik, dan dagingnya diekspor dengan harga yang cukup mahal. Ini beda dengan kepiting yang tidak terlalu mahal. Satu kilonya hanya mencapai Rp. 150 ribuan bila dibeli di daerah yang dekat dengan laut. Harga segitu bisa mencapai berat tiga kilo. Kalau makan di restoran, harga kepiting seberat dan sebanyak itu bisa mencapai jutaan rupiah.

Mengenai hukum mengkonsumsi rajungan dan kepiting, ulama berbeda pendapat. Ulama berbeda pendapat terkait hewan yang hidup di dua alam, air dan darat. Imam an-Nawawi dalam al-Majmu’, syarah al-Muhadzab, membolehkan mengkonsumsi hewan yang memang benar-benar hidup di air, sekalipun dia mampu hidup di darat, tapi hanya dalam waktu terbatas sebagaimana dalam pernyataannya berikut:

مَا يَعِيشُ فِي الْمَاءِ وَإِذَا خَرَجَ مِنْهُ كَانَ عَيْشُهُ عَيْشَ الْمَذْبُوحِ كَالسَّمَكِ بِأَنْوَاعِهِ فَهُوَ حَلَالٌ وَلَا حَاجَةَ إلَى ذَبْحِهِ بِلَا خِلَافٍ بَلْ يَحِلُّ مُطْلَقًا سَوَاءٌ مَاتَ بِسَبَبٍ ظَاهِرٍ كَضَغْطَةٍ أَوْ صَدْمَةِ حَجَرٍ أَوْ انْحِسَارِ مَاءٍ أَوْ ضَرْبٍ مِنْ الصَّيَّادِ أَوْ غَيْرِهِ أَوْ مَاتَ حَتْفَ أَنْفِهِ سَوَاءٌ طَفَا عَلَى وَجْهِ الْمَاءِ أَمْ لَا وَكُلُّهُ حَلَالٌ بِلَا خِلَافٍ عِنْدَنَا

Baca Juga :  Sembelih Kurban Orang Lain, Benarkah Tak Boleh Potong Rambut dan Kuku?

“Hewan yang hidup di dalam air dan ketika keluar dari air itu terasa seperti hewan disembelih (akan mati) itu sama seperti semua jenis ikan, yaitu halal (dimakan) dan tidak perlu disembelih tanpa ada perbedaan pendapat di antara ulama, bahkan halal (dimakan) secara mutlak, baik mati sebab sesuatu yang tampak, seperti terjepit, terbentur batu, ombak, sabetan pemburu, atau mati sebab terpotong hidungnya, baik itu mengambang di air maupun tidak. Semua itu halal (dimakan) tanpa perbedaan pendapat di antara kami (ulama mazhab Syafii).”

Nah, menurut pendapat ini, dikecualikan kodok. Kodok haram dikonsumsi. Selain bunyinya menjadi tanda akan kelestarian lingkungan di sekitarnya, bunyi suara kodok dalam hadis Nabi riwayat al-Baihaqi itu suara tasbih. Ini bentuk konsistensi dukungan terhadap para penjaga alam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here