Hukum Memakan Kepiting Menurut Ulama 4 Madzhab

0
24

BincangSyariah.Com – Dalam kitab-kitab fiqih, kepiting disebut dengan sarothon. Kepiting ini termasuk jenis makanan yang disukai oleh banyak orang, tak terkecuali oleh orang Indonesi. Namun demikian, hukum memakan kepiting menurut ulama 4 mazhab itu bermacam-macam.

Menurut ulama Syafiiyah dan Hanafiyah, hukum memakan kepiting itu haram dikonsumsi. Menurut ulama Syafiiyah, keharaman mengonsumsi kepiting ini adalah karena kepiting termasuk jenis al-hayawan al-bama-i atau hewan yang bisa hidup di darat dan laut, seperti halnya buaya, katak dan kura-kura.

Ini sebagaimana disebutkan dalam kitab Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyah Al-Kuwaitiyah berikut;

وَيَحْرُمُ عِنْدَ الشَّافِعِيَّةِ الْحَيَوَانُ الْبَرْمَائِيُّ أَيِ الَّذِي يُمْكِنُ عَيْشُهُ دَائِمًا فِي كُلٍّ مِنَ الْبَرِّ وَالْبَحْرِ إِذَا لَمْ يَكُنْ لَهُ نَظِيرٌ فِي الْبَرِّ مَأْكُولٌ. وَقَدْ مَثَّلُوا لَهُ بِالضُّفْدَعِ، وَالسَّرَطَانِ، وَالْحَيَّةِ، وَالنَّسْنَاسِ،  وَالتِّمْسَاحِ، وَالسُّلَحْفَاةِ. وَتَحْرِيمُ هَذَا النَّوْعِ الْبَرْمَائِيِّ هُوَ مَا جَرَى عَلَيْهِ الرَّافِعِيُّ وَالنَّوَوِيُّ فِي  الرَّوْضَةِ  وَأَصْلُهَا وَاعْتَمَدَهُ الرَّمْلِيُّ

Haram menurut ulama Syafiiyah hewan barma-i, yaitu hewan yang bisa hidup lama di darat dan laut jika tidak ada hewan yang sama dan dapat dimakan di darat. Ulama Syafiiyah mencontohkan hewan barma-i ini dengan katak, kepiting, ular, nasnas, buaya, kura-kura. Keharaman hewan barma-i ini adalah sebagaimana dikatakan oleh Imam Al-Rafii, Imam Al-Nawai dalam kitab Al-Raudah dan kitab asal Al-Raudhah, dan dipegang oleh Imam Al-Ramli.

Sementara menurut ulama Hanabilah, kepiting hukum halal dimakan dengan syarat disembelih. Cara menyembelih kepiting adalah dengan melukai bagian tubuhnya hingga ia mati. Ini sebagaimana disebutkan dalam kitab Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyah Al-Kuwaitiyah berikut;

وَذَهَبَ الْحَنَابِلَةُ فِي الْحَيَوَانِ الْبَرْمَائِيِّ، كَكَلْبِ الْمَاءِ وَالسُّلَحْفَاةِ وَالسَّرَطَانِ إِلَى أَنَّهُ إِنَّمَا يَحِل بِالتَّذْكِيَةِ.. وَقَدْ قَالُوا: إِنَّ كَيْفِيَّةَ ذَكَاةِ السَّرَطَانِ أَنْ يُفْعَل بِهِ مَا يُمِيتُهُ، بِأَنْ يُعْقَرَ فِي أَيِّ مَوْضِعٍ كَانَ مِنْ بَدَنِهِ

Ulama Hanabilah berpendapat mengenai hukum hewan barma-i, seperti anjing laut, kura-kura, dan kepiting, bahwa hukumnya halal dengan syarat disembelih. Mereka mengatakan bahwa cara menyembelih kepiting adalah mematikannnya dengan melukai salah satu bagian tubuhnya.

Sama seperti ulama Hanabilah, ulama Malikiyah juga menghalalkan kepiting. Bedanya, ulama Hanabilah mengharuskan disembelih, sementara ulama Malikiyah tidak. Ini sebagaimana disebutkan dalam kitab Al-Kafi berikut;

وَصَيْدُ البَحْرِ كُلُّهُ حَلَالٌ إِلَّا أَنَّ مَالِكاً يَكْرَهُ خِنْزِيْرَ الْمَاءِ لِاسْمِهِ وَكَذَلِكَ كَلْبُ الْمَاءِ عِنْدَهُ وَلَا بَأْسَ بِأَكْلِ السَّرَطَانِ وَالسُّلَحْفَاةِ وَالضِّفْدَعِ

Dan binatang buruan laut semuanya halal, hanya saja Imam Malik memakruhkan babi laut karena namanya, begitu pula anjing laut, menurutnya. Dan tidak haram memakan kepiting, penyu, dan katak.

100%

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here