Hukum Memakai Kuku Palsu, Benarkah Haram?

0
435

BincangSyariah.Com – Saat ini banyak kalangan remaja perempuan yang memakai kuku palsu untuk tujuan memperindah tampilan kuku jari tangan. Kuku palsu ini dikenal juga dengan kuku artifisial. Ini merupakan teknik memanjangkan kuku dengan berbagai bahan, seperti gel, akrilik, atau silk. Sebenarnya, bagaimana hukum memakai kuku palsu, apakah diperbolehkan? (Baca: Doa Memotong Kuku)

Mengenai hukum memakai kuku palsu bisa disamakan dengan hukum memakai rambut palsu. Para ulama memperinci mengenai hukum kedua masalah ini.

Pertama, jika perempuan belum punya suami, maka baginya haram memakai rambut palsu dan kuku palsu. Ini disebabkan karena hal itu bisa menimbulkan fitnah dan penipuan serta pengelabuan pada laki-laki yang menaksirnya. Ini adalah pendapat kebanyakan para ulama.

Sementara menurut Syaikh Abu Hamid dan sekelompok ulama, perempuan yang belum punya suami hanya makruh memakai rambut palsu dan kuku palsu, tidak sampai haram.

Kedua, jika perempuan sudah punya suami, maka harus minta izin pada suami. Jika suami mengizinkan, maka boleh memakai rambut palsu dan kuku palsu. Jika suami tidak mengizinkan, maka tidak boleh bagi perempuan memakai rambut palsu dan kuku palsu.

Perlu diingat bahwa kebolehan memakai rambut palsu dan kuku palsu jika mendapatkan izin suami ini tetap harus mematuhi syarat-syarat tertentu. Yaitu; rambut palsu dan kuku palsu tersebut bukan rambut dan kuku manusia dan harus suci.

Jika rambut palsu atau kuku palsu tersebut berasal dari rambut dan kuku manusia, meskipun milik diri sendiri, maka hukumnya haram. Begitu juga haram jika rambut palsu dan kuku palsu tersebut terbuat dari bahan yang najis.

Ini sebagaimana disebutkan dalam kitab Hasyiatul Jamal ‘ala Syarh Al-Minhaj berikut;

حاصل مسألة وصل الشعر أنه إن كان بنجس حرم مطلقا وإن كان بطاهر فإن كان من آدمي ولو من نفسها حرم مطلقا وإن كان من غير آدمي فيحرم بغير إذن الزوج ويجوز بإذنه

Kesimpulan masalah menyambung rambut adalah jika terbuat dari bahan najis, maka haram secara mutlak. Jika suci, namun berasal dari rambut manusia, meskipun milik diri sendiri, maka haram secara mutlak. Jika bukan berasal dari manusia, maka haram tanpa izin suami, dan boleh apabila seizin suami.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here