Hukum Memakai Kuku Macan, Suci Atau Najis?

0
18

BincangSyariah.Com – Di Indonesia, banyak kalangan masyarakat tertentu yang mengoleksi bahkan memakai kuku macan. Konon, kuku macan bisa digunakan jimat untuk kekebalan. Karena itu, tak sedikit masyarakat yang tertarik untuk mengoleksinya. Bahkan karena banyaknya orang yang ingin mengoleksi kuku macan, harga kuku macan keramik, bentuk tiruannya juga ikut dicari. Sebagian meyakini kalau membawanya berfungsi sebagai jimat ketika sedang bepergian dan lainnya. Ada juga yang menggunakannya sebagai bagian dari pakaian adat wilayahnya seperti di baju adat betawi Namun sebenarnya, bagaimana hukum dengan memakai kuku macan itu sendiri, apakah ia termasuk benda suci atau najis?

Menurut kebanyakan para ulama, terkait kuku macan, maka hukumnya diperinci. Jika kuku macan tersebut diambil setelah macannya mati dengan cara disembelih, maka ia dihukumi suci. Namun jika diambil dari bangkai macan, atau diambil pada saat macannya masih hidup, maka ia dihukumi najis.

Sementara menurut ulama Hanafiyah, semua kuku hewan selain babi dan anjing hukumnya adalah suci, baik diambil saat masih hidup atau setelah mati, baik matinya karena disembelih atau mati sebab lainnya.

Oleh karena itu, menurut ulama Hanafiyah, semua kuku macan dihukumi suci, baik diambil saat macannya masih hidup atau setelah mati. Baik matinya karena disembelih atau lainnya. Hal ini karena sesuatu yang dihukumi najis setelah mati jika ia sebelumnya pernah hidup. Sementara kuku tidak pernah hidup. Karena itu, ia tetap dihukumi suci meskipun hewannya sudah mati.

Adapun kuku babi dan anjing, maka hukumnya adalah najis, baik diambil saat masih hidup atau setelah mati. Ini karena disebutkan dalam kitab Al-Mausuah Al-Fiqhiyah Al-Kuwaitiyah berikut;

أَمَّا الْحَيَوَانُ، فَإِنْ كَانَ نَجِسَ الْعَيْنِ ، كَالْخِنْزِيرِ، فَإِنَّ ظُفْرَهُ نَجِسٌ، وَأَمَّا إِذَا كَانَ الْحَيَوَانُ طَاهِرَ الْعَيْنِ، فَظُفْرُهُ الْمُتَّصِل بِهِ حَال حَيَاتِهِ طَاهِرٌ. فَإِنْ ذُكِّيَ فَهُوَ طَاهِرٌ أَيْضًا، أَمَّا إِذَا مَاتَ فَظُفْرُهُ نَجِسٌ كَمَيْتَتِهِ، وَكَذَا إِذَا انْفَصَل الظُّفْرُ حَال حَيَاتِهِ فَإِنَّهُ نَجِسٌ أَيْضًا.. وَذَهَبَ الْحَنَفِيَّةُ إِلَى أَنَّ الظُّفْرَ مِنْ غَيْرِ الْخِنْزِيرِ طَاهِرٌ مُطْلَقًا، سَوَاءٌ كَانَ مِنْ مَأْكُولٍ أَوْ غَيْرِ مَأْكُولٍ، مِنْ حَيٍّ أَوْ مَيِّتٍ، لأِنَّ الْحَيَاةَ لاَ تُحِلُّهُ، وَاَلَّذِي يَنْجُسُ بِالْمَوْتِ إِنَّمَا هُوَ مَا حَلَّتْهُ الْحَيَاةُ دُونَ غَيْرِهِ

Baca Juga :  Pengadilan Membatalkan Talak Suami, Adakah Implikasinya?

Adapun hewan, jika ia najis seperti anjing, maka kukunya dihukumi najis. Adapun hewan yang suci, maka kuku yang menempel di tubuhnya ketika ia masih hidup dihukumi suci. Jika ia mati disembelih, maka kukunya dihukumi suci juga. Jika mati (bangkai), maka kukunya dihukumi najis seperti bangkainya. Begitu juga dihukumi najis kuku hewan yang terpisah saat hewannya masih hidup. Ulama Hanafiyah mengatakan bahwa kuku selain dari anjing dihukumi suci secara mutlak, baik dari hewan yang halal dimakan atau tidak halal, baik dari hewan yang masih hidup atau mati. Hal ini karena kehidupan tidak pernah ada pada kuku, dan sesuatu yang najis karena mati jika ia sebelumnya pernah hidup, bukan yang lainnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here