Hukum Memakai Baju Baru saat Lebaran

1
8715

BincangSyariah.Com – Bahasan tentang lebaran tak jauh dari kata kue, ampau, dan baju baru. Seminggu sebelum lebaran, pasar modern ataupun pasar modern mendadak jadi tempat favorit. Diskon gede-gedean dan style baru membuat orang rela berbaris di antrian kasir. Yah begitulah fenomena yang terjadi di bumi pertiwi ini.

Tidak ada larangan memakai baju baru saat lebaran. Justru dalam hadits ada sebuah anjuran untuk memakai pakaian yang paling bagus saat hari raya. Dalil tersebut adalah hadits riwayat Al Bukhori pada bab Hari raya dan berhias di dalamnya:

أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ، قَالَ: أَخَذَ عُمَرُ جُبَّةً مِنْ إِسْتَبْرَقٍ تُبَاعُ فِي السُّوقِ، فَأَخَذَهَا، فَأَتَى بِهَا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، ابْتَعْ هَذِهِ تَجَمَّلْ بِهَا لِلْعِيدِ وَالوُفُودِ، فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِنَّمَا هَذِهِ لِبَاسُ مَنْ لاَ خَلاَقَ لَهُ

Sungguh Abdullah bin Umar, ia berkata : “Umar mengambil sebuah jubah sutra yang dijual dipasar, ia mengambilnya dan membawanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa Sallam dan berkata : “Wahai Rasulullah, beliah jubah ini serta berhiaslah dengan jubah ini di hari raya dan penyambutan. Rasulullah berkata kepada Umar : “sesungguhnya jubah ini adalah pakaian orang yang tidak mendapat bagian ”. (HR. Al Bukhari).

Abu Al-Hasan mennjelaskan dalam Hasyiah As-Sindi ala An-Nasa’i perihal tersebut, bahwa sunnah dan kebiasaan para salaf (orang-orang dahulu):

مِنْهُ عُلِمَ أَنَّ التَّجَمُّلَ يَوْم الْعِيد كَانَ عَادَةً مُتَقَرِّرَةً بَيْنهمْ وَلَمْ يُنْكِرْهَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّه تَعَالَى عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Dari hadits ini diketahui, bahwa berhias di hari ‘ied termasuk kebiasaan yang sudah ada di kalangan para sahabat, dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam  juga tidak mengingkarinya.

Dalam Fathul Bari, dijelaskan bahwa hadits tersebut menunjukkan tentang berhias diri pada hari raya dan hal tersebut sudah menjadi kebiasaan diantara mereka. Oleh karena itu, pada Hari raya dianjurkan untuk mempercantik diri dan memakai baju yang terbaik. Jika tak ada yang baru, bolehlah yang lama namun tetap pilihan yang terbaik. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Al-Hakim dalam Al Mustadrak ‘alaa Al-Shohihain:

عَنْ زَيْدِ بْنِ الْحَسَنِ بْنِ عَلِيٍّ، عَنْ أَبِيهِ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: «أَمَرَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْعِيدَيْنِ أَنْ نَلْبَسَ أَجْوَدَ مَا نَجِدُ، وَأَنْ نَتَطَيَّبَ بِأَجْوَدَ مَا نَجِدُ

Baca Juga :  Islam: Agama yang Mudah dan Ramah

Dari Zaid bin Al Hasan bin Ali, dari ayahnya, radliyallahu ‘anhuma, ia berkata : Kami diperintahkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa Sallam pada hari hari untuk memakai pakaian yang ada dan memakai wangi-wangi dengan apa yang ada”

Masih ingatkah dengan lagu anak-anak jaman 2000 an yang judulnya “Baju Baru”? Kurang lebih beginilah liriknya yang dinyanyikan oleh Dea Ananda

Baju baru Alhamdulillah

Tuk dipakai di Hari Raya

Tak adapun taka apa-apa

Masih ada baju yang lama

Lirik lagu tersebut senada dengan ajaran Nabi kita. Dari lagu tersebut, anak-anak dan para orang mengerti bahwa  hari raya biasa memakai baju baru. Namun  jika tidak ada yang baru, baju lamapun tak masalah.  Teringat dengan perkataan khalifah Umar bin Abdul Aziz:

لَيْسَ الْعَيْدُ لِمَنْ لَبِسَ الْجَدِيْدَ إِنَّمَا الْعَيْدُ لِمَنْ خَافَ يَوْمَ الْوَعِيْدِ

“Hari raya itu bukan bagi orang yang memakai pakaian baru, Akan tetapi hari raya bagi mereka yang takut terhadap hari pembalasan”

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here