Hukum Melepas Ikatan Kain Kafan Jenazah

4
2658

BincangSyariah.Com – Ketika kita menghadiri penguburan jenazah, kita menyaksikan bahwa semua ikatan kain kafan dilepas, mulai dari kepala hingga kaki. Sebenarnya, bagaimana hukum melepas ikatan kain kafan ini?

Melepas ikatan kain kafan, terutaman di bagian kepala, hukumnya adalah sunnah. Kesunnahan melepas ikatan kain kafan ini berlaku bagi semua jenis jenazah, baik laki-laki maupun perempuan, kecil maupun mukalaf. (Baca: Hukum Menuliskan Kalimat Tauhid di Kain Kafan)

Disebutkan bahwa semua ulama, mulai dari ulama salaf hingga khalaf, semuanya menganjurkan untuk melepaskan ikatan kain kafan jenazah. Di antara dalil yang dijadikan dasar kesunnahan melepas ikatan kain kafan ini adalah hadis riwayat Imam Al-Baihaqi dari Ma’qal bin Yasar, dia berkisah;

لَمَّا وَضَعَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم نُعَيْمَ بْنَ مَسْعُودٍ فِى الْقَبْرِ نَزَعَ الأَخِلَّةَ بِفِيهِ

Ketika Rasulullah Saw meletakkan jenazah Nu’aim bin Mas’ud di dalam kubur, beliau melepas ikatannya dengan mulutnya.

Dalam kitab Nihayatul Muhtaj, Imam Al-Ramli berpendapat bahwa ketika jenazah sudah berada dalam kubur, maka makruh ada suatu ikatan yang menempel di dalam tubuh jenazah, termasuk ikatan kain kafan. Beliau berkata sebagai berikut;

فإذا وضع الميت في قبره نزع الشداد عنه تفاؤلا تحل الشدائد عنه، ولأنه يكره أن يكون معه في القبر شيء معقود وسواء في جميع ذلك الصغير والكبير

Jika mayit sudah diletakkan di dalam kubur, maka dilepaslah segenap ikatan dari tubuhnya dengan harapan agar semua bentuk kesulitan terbebas dari dirinya. Juga karena makruh hukumnya bila mana ada sesuatu yang mengikat bagian tubuh jenazah, baik jenazah anak-anak maupun jenazah dewasa.

Adapun bagian kepala jenazah, selain ikatannya dilepas, juga kain kafan pada bagian pipinya dibuka kemudian ditempelkan pada tanah. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam kitab Mughnil Muhtaj berikut;

قَالَ فِي الْمَجْمُوعِ : بِأَنْ يُنَحَّى الْكَفَنُ عَنْ خَدِّهِ وَيُوضَعُ عَلَى التُّرَابِ

Imam Nawawi dalam kitab Al-Majmu berkata; Kian kafan dibuka dari pipi mayit dan ditempelkan pada tanah.

100%

4 KOMENTAR

  1. […] Dengan demikian, dalam setiap pelaksanaan shalat jenazah, selama masih memungkinkan untuk menjadikan jamaah sebanyak tiga shaf, hendaknya tidak dibuat kurang dari itu. Jika jumlah makmum lebih dari enam orang, maka jamaah dapat disusun menjadi tiga shaf. Seandainya jumlah jamaah kurang dari itu, maka dalam hal ini perlu diperhatikan bagaimana hukumnya jika jamaah shalat jenazah dibuat menjadi tiga shaf, tetapi ada barisan shaf yang hanya terdiri dari satu orang. (Baca: Hukum Melepas Ikatan Kain Kafan Jenazah) […]

  2. Assalamu’alaikum wr.wb.
    Uraian tentang melepas ikatan tali kafan janazah dan menempelkan pipi mayyit ke tanah tidak ada dalilnya, berupa Hadits yg shahih. Adapun pendapat (sekali lagi : pendapat), tidak boleh dijadikan rujukan atau alasan atau dalil dalam ibadah, sekalipun itu pendapat (sekali lagi : pendapat) orang yg disebut sebagai Ustadz atau Ulama. Ustadz atau Ulama tidak punya wewenang membuat hukum baru dalam urusan agama atau ibadah. Yang mempunyai wewenang membuat hukum dalam urusan agama hanya Allah dan Rosul- Nya. Kesimpulannya, dalam urusan agama, termasuk dalam mengurus janazah (dari A sampai Z) harus berdasarkan dalil yg kuat (Hadits shahih). Bila tidak ada dalil yg kuat, maka bid’ah hukumnya, dan tidak boleh diamalkan.
    Komentar atau tanggapan ini saya tulis tanpa mengurangi rasa hormat saya kepada pada Usatidz dan ‘ Ulama.
    Wallohu a’lam

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here