Hukum Melepas Cincin Tunangan dalam Islam

0
2594

BincangSyariah.Com – Menikah merupakan yang disunnahkan dalam Islam, khususnya bagi orang yang sudah cukup usia dan dirasa mampu memberikan nafkah. Sebelum prosesi pernikahan, adat yang berlaku di kalangan masyarakat adalah melakukan proses lamaran (khitbah). Sebenarnya, tujuan utama dari proses lamaran adalah melakukan nadhrah (melihat sang calon), sehingga bisa menghadirkan rasa untuk segera menikahinya. (Baca: Benarkah Cincin Tunangan Bid’ah dan Haram?)

Akan tetapi, hal yang berlaku di masyarakat, justru terjadi proses lain, seperti terjadinya pertukaran cincin tunangan. Dilihat dari aspek sosial, pertukaran cincin ini pada dasarnya hendak meneguhkan bahwa masing-masing pihak yang melakukan lamaran, adalah sudah sah dan sepakat untuk menapaki biduk rumah tangga (pernikahan). Dengan demikian, apakah pertukaran cincin ini diperbolehkan dalam syariat? Sudah barang tentu diperbolehkan, dengan catatan tidak ada sesuatu yang dilanggar di dalamnya mengenai ketentuan yang berlaku dalam syara’.

Hal yang utamanya berlaku dalam pertukaran cincin tunangan ini, menurut syariat adalah bahwa cincin tersebut harus terbuat dari bahan selain emas. Sebab, cincin emas bagi laki-laki muslim hukumnya adalah haram.

أَجْمَعَ الْمُسْلِمُونَ عَلَى إِبَاحَةِ خَاتَمِ الذَّهَبِ لِلنِّسَاءِ وَأَجْمَعُوا عَلَى تَحْرِيمِهِ عَلَى الرِّجَالِ اِلَّا مَا حُكِىَ عَنْ أَبِى بَكْرِ بْنِ مُحَمَّدِ بنِ عُمَرَ بنِ مُحَمَّدِ بنِ حَزْمٍ أَنَّهُ أَبَاحَهُ وَعَنْ بَعْضٍ أَنَّهُ مَكْرُوهٌ لَاحَرَامٍ

Artinya: “Kaum Muslim sepakat atas kebolehan perempuan memakai cinci emas untuk dan mengharamkannya untuk laki-laki kecuali pendapat yang diriwayatkan dari Abi Bakr Muhammad bin Umar bin Muhammad bin Hazm yang membolehkannya dan dari sebagian ulama yang menganggap makruh bukan haram,” (Muhyiddin Syarf An-Nawawi, Al-Minhaj Syarhu Shahihi Muslim bin Al-Hajjaj, Beirut, Daru Ihya`i at-Turats Al-‘Arabi, cetakan kedua, 1392 H, juz XIV, halaman 65)

Baca Juga :  Bolehkah Memohon Ampunan untuk Kedua Orang Tua yang Non-Muslim?

Jika hal ini terjadi, maka hukum melepaskan cincin yang terbuat dari emas tersebut, bagi calon pria, hukumnya bukan hanya boleh, bahkan wajib secara syara’.

Lantas, bagaimana bila cincin tersebut terbuat dari bahan yang boleh digunakan secara syara’?

Bila sebuah cincin terbuat dari bahan selain syara’ maka dalam hal ini dikembalikan pada kaidah asal dari akad pertunangan, yaitu: hakikatnya pertunangan adalah merupakan yang sunnah dilakukan dengan maksud utama agar segera menapaki biduk rumah tangga. Di dalam sebuah hadits, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِذَا خَطَبَ أَحَدُكُمُ الْمَرْأَةَ فَإِنِ اسْتَطَـاعَ أَنْ يَنْظُرَ إِلَى مَا يَدْعُوْهُ إِلَى نِكَاحِهَا فَلْيَفْعَلْ

“Jika salah seorang dari kalian meminang wanita, maka jika dia bisa melihat apa yang mendorongnya untuk menikahinya, maka lakukanlah.” HR. Abu Dawud

Di dalam hadits lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda:

اُنْظُرْ إِلَيْهَا فَإِنَّهُ أَحْرَى أَنْ يُؤْدَمَ بَيْنَكُمَا

Lihatlah ia, sebab itu lebih patut untuk melanggengkan di antara kalian berdua.” HR. Al-Tirmidzy

Oleh karena itu, cincin yang diberikan oleh calon mempelai, kedudukannya adalah menempati maqam hadiah atau hibbah. Oleh karenanya, boleh untuk dilepaskan, atau disimpan serta tidak memiliki efek hukum apapun.

قال الحنفية: هدايا الخطبة هبة، وللواهب أن يرجع في هبته إلا إذا وجد مانع من موانع الرجوع بالهبة كهلاك الشيء أو استهلاكه. فإذا كان ما أهداه الخاطب موجوداً فله استرداده. وإذا كان قد هلك أو استهلك أو حدث فيه تغيير، كأن ضاع الخاتم، وأكل الطعام، وصنع القماش ثوباً، فلا يحق للخاطب استرداد بدله

“Ulama Mazhab Hanafi mengatakan bahwa hadiah saat lamaran adalah hibah. Pihak yang memberikan hibah berhak menarik kembali barang hibahnya kecuali bila terdapat uzur yang menghalangi penarikan hibah kembali, yaitu kerusakan barang hibah atau habisnya barang hibah karena telah digunakan. Kalau barang hibah yang diberikan pihak pelamar masih ada, maka ia berhak memintanya kembali. Jika barang hibah itu sudah rusak, sudah habis dipakai, atau terjadi perubahan padanya, yaitu cincin hilang, makanan telah dimakan, kain sudah bentuk menjadi pakaian oleh pedagang kain, maka pihak pelamar tidak berhak meminta kembali dalam bentuk kompensasi,” (Syekh Wahbah Az-Zuhayli, Al-Fiqhul Islami wa Adillatuhu, Beirut, Darul Fikr, cetakan kedua, 1985 M/1405 H, juz 7, halaman 26).

Baca Juga :  Syarat-syarat menjadi Wali Nikah

Karena merupakan hibah, maka dalam konteks terjadi gagalnya menikah akibat hal-hal tertentu, seseorang yang telah memberikan hadiah cincin tunangan, tidak boleh menariknya kembali / memintanya kembali.

ورأى الشافعية والحنابلة: أنه ليس للخاطب الرجوع بما أهداه؛ سواء أكانت موجودة أم هالكة لأن للهدية حكم الهبة ولا يجوز عندهم للواهب أن يرجع في هبته بعد قبضها إلا الوالد فيما أعطى ولده

“Mazhab Syafi’i dan Hanbali berpandangan bahwa pihak pelamar tidak berhak meminta kembali  barang yang telah dihibahkannya apakah barang itu masih ada atau sudah tidak ada. Hadiah setara dengan kedudukan hibah. Bagi ulama dari mazhab ini, pihak yang memberikan hibah tidak berhak meminta kembali barang hibahnya setelah jabat tangan penerimaan kecuali pihak penghibah itu sendiri adalah ayah terhadap anaknya,” (Syekh Wahbah Az-Zuhayli, Al-Fiqhul Islami wa Adillatuh, Beirut, Darul Fikr, cetakan kedua, 1985 M/1405 H, juz 7, halaman 27).

Alhasil, Madzhab Syafii dan Hanbali juga sepakat menjadikan cincin tersebut sebagai hibah, sebagaimana pandangan ulama’ Hanafiyah.

Jika pun sudah diketahui bahwa hukum cincin itu merupakan suatu hadiah atau hibah sehingga menjadi wewenang bagi pihak yang diserahi, maka itu artinya mereka memiliki hak muthlaq al-tasharruf, yaitu hak penyaluran dan penggunaannya. Dalam  setiap hak muthlaq al-tasharruf, terdapat hak hurriyatu al-milki, yaitu kebebasan penyaluran hak milik. Alhasil, melepas cincin tunangan, adalah tidak apa-apa / tidak bahaya. Wallahu a’lam bi al-shawab

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here