Hukum Makan Tutut, Bolehkah dalam Islam?

0
1531

BincangSyariah.Com – Banyak masyarakat Indonesia yang mengonsumsi keong sawah atau yang lazim disebut dengan tutut. Bahkan saat ini olahan makanan tutut ini mudah dijumpai karena banyak dijajakan oleh pedagang kaki lima dan dijual di warung-warung makan. Meski demikian, terdapat sebagian orang yang masih mempertanyakan kehalalan makan tutut. Sebenarnya, bagaimana hukum makan tutut?

Di kalangan ulama Syafiiyah, mereka berbeda pendapat terkait kehalalan dan keharaman mengomsumsi tutut atau keong sawah. Menurut Imam Ar-Ramli, Ad-Damiri dan Khatib Al-Syirbini, tutut termasuk hewan yang halal untuk dikonsumsi. Hal ini karena tutut termasuk sejenis hewan air yang dihalalalkan. Sementara menurut Imam Ibn Hajar, Ibn Abdissalam, dan Az-Zarkasyi, tutut termasuk hewan yang haram untuk dikonsumsi.

Oleh karena itu, berdasarkan perbedaan pendapat ini, maka kita boleh memakannya dengan mengikuti pendapat ulama yang membolehkan. Namun demikian, jika hendak bersikap hati-hati, maka sebaiknya tidak kita konsumsi kecuali kita membutuhkannya.

Ini sebagaimana disebutkan oleh Syaikh Muhammad Mukhtar bin Atharid Al-Jawi dalam kitab Shawaiq Al-Muhriqah li Al-Awham Al-Kadzibah berikut:

فعلى كلام المجموع وابن عدلان وأئمّة عصره والدميري والشهاب الرملي ومحمد الرملي والخطيب فى المغني فالرميسى والتوتوت والكييوع حلال لأنّها مثل الدنيلس الذي اتّفقوا على حله وداخل في أنواع الصدف الذي ظاهر كلام المجموع على حلّه . وعلى كلام ابن عبد السلام والزركشى وابن حجر فى الفتاوى الكبرى والتحفة فالمذكورات حرام فيجوز للناس أكلها تقليدا للذين قالوا بحلّه والأولى تركه إحتياطا.

Berdasarkan penjelasan dalam kitab Al-Majmu’, pendapat Ibnu ‘Adlan dan ulama semasanya, Imam Al-Damiri, Syihab Al-Ramli, Muhammad Al-Ramli, dan Khatib Al-Syirbini dalam kitab Mughni Al-Muhtaj bahwa ramis, tutut (keong sawah) dan keong (laut) adalah hewan yang halal, karena masih sama dengan danilas (sejenis hewan laut) yang disepakati kehalalannya dan tergolong dalam jenis kerang yang secara eksplisit dijelaskan dalam kitab Al-Majmu kehalalannya. Namun jika berdasarkan pendapat Imam Ibn ‘Abdissalam, Az-Zarkasyi, Ibn Hajar dalam kitab Al-Fatawa Al-Kubra dan Tuhfah Al-Muhtaj bahwa semua hewan yang disebutkan di atas adalah haram. Maka boleh bagi seseorang untuk mengonsumsinya dengan mengikuti ulama yang berpendapat tentang kehalalannya, namun yang lebih utama adalah tidak mengonsumsi hewan ini karena hati-hati.

Baca Juga :  Hukum Mengonsumsi Kopi Luwak, Halal Atau Haram?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here