Hukum Makan Telur yang Berdarah

3
3981

BincangSyariah.Com – Sering kita jumpai ketika membeli telur di toko dan kemudian hendak dimasak, ternyata telur tersebut sudah ada darahnya. Kadang karena ragu, telur tersebut sering kita buang tidak jadi dimasak. Dalam fiqih, bagaimana hukum makan telur berdarah tersebut, apakah halal atau haram karena sudah ada darahnya?

Makan telur yang sudah ada darah di dalamnya, hukumnya diperinci menjadi dua sebagai berikut;

Pertama, jika telur tersebut belum rusak sekiranya dierami akan menetas, maka telur tersebut dihukumi suci dan halal dikonsumsi atau dibuat jamu. Telur tersebut tetap dihukumi suci dan halal seperti telur pada umumnya meskipun ada darahnya atau sudah ada potongan daging yang belum sempurna bentuknya atau sempurna namun belum diberi ruh.

Hal ini sebagaimana disebutkan dalam kitab Nihayatuz Zain berikut;

ولو كسرت بيضة حيوان مأكول ووجد في جوفها فرخ لم يكمل خلقه أو كمل خلقه لكن قبل نفخ الروح فيه جاز أكله بخلاف ما إذا كان بعد نفخ الروح وزالت حياته بغير ذكاة شرعية فإنه يكون ميتة

“Jika telur hewan yang bisa dimakan pecah kemudian di dalamnya ditemukan piyik yang belum sempurna bentuknya atau sempurna namun belum ditiupkan ruh, maka boleh memakannya. Berbeda jika sudah ditiupkan ruh dan ia mati tanpa disembelih secara syar’i, maka (tidak boleh dimakan) karena sudah menjadi bangkai.”

Kedua, jika telur tersebut rusak sekiranya tidak bisa menetas meski dierami, maka telur tersebut dihukumi najis dan haram dikonsumsi karena dihukumi sama seperti darah. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam kitab Fathul Jawwad berikut;

ولو انقلبت البيضة دما كلا او بعضا وكان غير المنقلب مائعا حرم اكلها حيث لم تصلح للتخلق لنجاسة الدم وتنجيسه لغير المنقلب المائع

Baca Juga :  Pengajian Ihya Gus Ulil: Ulama Pihak yang Paling Banyak Dikritik

“Jika telur berubah menjadi darah, baik semuanya atau sebagian, dan yang tidak berubah berupa cairan, maka haram memakannya sekiranya tidak bisa menetas (menjadi piyik) karena najisnya darah dan darah tersebut menjadikan najis terhadap cairan yang tidak berubah.”

Dengan demikian, telur yang berdarah dihukumi suci dan boleh dikonsumsi selama telur tersebut tidak rusak. Adapun jika sudah rusak, maka dihukumi najis dan tidak boleh dikonsumsi.

3 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here