Hukum Makan di Restoran yang Menjual Minuman Keras

0
497

BincangSyariah.Com – Di tempat makan dan restoran tertentu, selain menyediakan makanan, juga menyiapkan minuman keras. Tentu hal ini membuat sebagian orang waswas untuk makan di tempat dan restoran seperti itu. Karena sudah jelas bahwa minuman keras sangat dilarang dalam Islam. Sebenarnya, bagaimana hukum makan di tempat dan restoran yang menjual minuman keras, apakah boleh?

Mengenai hukum makan di restoran yang menjual minuman keras, maka hukumnya boleh. Selama kita hanya membeli dan mengonsumsi makanan dan minuman yang halal, maka kita tidak masalah makan dan minum di tempat dan restoran tersebut. (Baca: Dalil Keharaman Minuman Keras dalam Al-Qur’an dan Hadis)

Selama makanan dan minuman di restoran tersebut tidak dipastikan najis karena bercampur dengan khamr dan minuman keras lainnya, maka hukumnya boleh makan dan minum di restoran tersebut.

Hal ini karena makanan yang halal dan suci tetap dihukumi halal dan suci hingga tampak kenajisannya. Jika hanya diduga najis saja karena dekat dengan minuman keras, maka makanan tersebut tetap dihukumi halal dan suci. Namun jika sudah terlihat jelas najisnya, maka dihukumi najis dan tidak boleh makan di restoran tersebut.

Hal ini sebagaimana disebutkan dalam kitab I’anatut Thalibin berikut;

قاعدة وهي أن ما أصله الطهارة وغلب على الظن تنجسه لغلبة النجاسة في مثله فيه قولان معروفان بقولي الأصل والظاهر أو الغالب أرجحهما أنه طاهر

(Kaidah) yaitu setiap makanan yang asalnya suci dan ada dugaan najis karena pada umumnya makanan seperti itu najis, di sini ada dua pendapat yang terkenal dengan mengikuti dua kaidah asal. Namun yang jelas atau yang menang dari dua pendapat tersebut adalah makanan tadi dihukumi suci.

Baca Juga :  Hikmah Mengapa Perjudian Haram dalam Islam

Meski boleh, namun jika ada tempat makan dan restoran lain yang tidak menjual minuman keras, maka sebaiknya makan di tempat dan restoran tersebut. Hal ini karena Nabi Saw pernah menyarankan kepada para sahabat agar tidak makan di rumah orang biasa masak babi dan minum khamar kecuali wadah-wadahnya dibersihkan terlebih dahulu.

Ini sebagaimana disebutkan dalam hadis riwayat Imam Abu Daud dari Abu Tsa’labah Al-Khasyani, dia pernah bertanya kepada Rasulullah Saw;

إِنَّا نُجَاوِرُ أَهْلَ الْكِتَابِ وَهُمْ يَطْبُخُونَ فِي قُدُورِهِمُ الْخِنْزِيرَ وَيَشْرَبُونَ فِي آنِيَتِهِمُ الْخَمْرَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنْ وَجَدْتُمْ غَيْرَهَا فَكُلُوا فِيهَا وَاشْرَبُوا وَإِنْ لَمْ تَجِدُوا غَيْرَهَا فَارْحَضُوهَا بِالْمَاءِ وَكُلُوا وَاشْرَبُو

Kami bertetangga dengan Ahli Kitab, mereka menggunakan panci-panci mereka untuk memasak babi dan meminum khamar dari wadah-wadah mereka. Maka Rasulullah Saw bersabda; ‘Sesungguhnya jika kalian mendapatkan selainnya, maka makan dan minumlah darinya, dan jika tidak kalian dapatkan selainnya, maka cucilah dengan air, lalu makan dan minumlah (darinya).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here