Hukum Makan dan Minum di Rumah Duka

0
39

BincangSyariah.Com – Di Indonesia, umumnya ketika seseorang melayat ke rumah orang yang terkena musibah kematian, biasanya tuan rumah menyuguhkan makanan dan minum untuk para pelayat. Dan tentunya, para pelayat akan memakan suguhan makanan dan minuman tersebut. Sebenarnya, bagaimana hukum makan dan minum di rumah duka atau orang yang terkena musibah kematian? (Baca: Benarkah Bingkisan Berkat Tahlilan Haram Dimakan?)

Makanan dan minuman yang disediakan oleh tuan rumah yang terkena musibah umumnya diniatkan untuk dua tujuan sekaligus. Pertama, sebagai penghormatan kepada para pelayat yang sedang bertamu. Kedua, sebagai sedekah untuk mayit.

Menurut para ulama, makan dan minum suguhan makanan dan minuman yang disediakan sebagai penghormatan kepada tamu atau sebagai sedekah untuk mayit hukumnya boleh. Tidak masalah menerima dan makan suguhan yang disediakan untuk tamu atau yang disediakan sebagai sedekah untuk mayit, baik berupa makanan, minuman dan lainnya, baik di hari mayit meninggal, atau tiga harinya, tujuh harinya, dan seterusnya.

Ini sebagaimana disebutkan oleh Syaikh Nawawi dalam kitab Nihayatuz Zain berikut;

وَالتَّصَدُّقُ عَنِ الْمَيِّتِ بِوَجْهٍ شَرْعِيٍّ مَطْلُوْبٌ وَلَا يَتَقَيَّدُ بِكَوْنِهِ فِيْ سَبْعَةِ أَيَّامٍ أَوْ أَكْثَرَ أَوْ أَقَلَّ وَتَقْيِـِيْدُهُ بِبَعْضِ الْأَيَّامِ مِنَ الْعَوَائِدِ فَقَطْ كَمَا أَفْتَى بِذَلِكَ السَّيِّدُ أَحْمَدُ دَحْلَانُ ، وَقَدْ جَرَتْ عَادَةُ النَّاسِ بِالتَّصَدُّقِ عَنِ الْمَيِّتِ فِيْ ثَالِثٍ مِنْ مَوْتِهِ وَفِيْ سَابِعٍ وَفِيْ تَمَامِ الْعِشْرِيْنَ وَفِي الْأَرْبَعِيْنَ وَفِي الْمِائَةِ، وَبَعْدَ ذَلِكَ يُفْعَلُ كُلَّ سَنَةٍ حَوْلاً فِيْ يَوْمِ الْمَوْتِ كَمَا أَفَادَهُ شَيْخُنَا يُوْسُفُ السَّنْبَلَاوَيْنِيُّ

Sedekah untuk mayit sesuai tuntunan syara’ adalah dianjurkan. Sedekah tersebut tidak terikat dengan hari ketujuh atau lebih atau kurang. Adapun mengaitkan sedekah dengan sebagian hari adalah merupakan bagian dari adat saja, sebagaimana apa yang difatwakan oleh Sayid Ahmad Dahlan. Dan telah berjalan kebiasaan di antara orang-orang dengan bersedekah untuk mayit pada hari ketiga dari kematiannya dan pada hari ketujuh, dan pada sempurnanya kedua puluh, keempat puluh dan keseratus. Setelah itu dilaksanakanlah haul setiap tahun pada hari kematiannya, sebagaimana yang dijelaskan oleh Syaikh Yusuf Al-Sanbalawaini.

Dalil yang menjadi dasar kebolehan menerima dan makan sedekah untuk mayit ini adalah hadis riwayat Imam Al-Tirmidzi dari Ibnu Abbas, dia berkisah;

أنَّ رَجُلًا قَالَ يَا رَسُوْلَ اللهِ إنَّ أمِّي تُوُفِّيَتْ أَفَيَنْفَعُهَا إنْ تَصَدَّقْتُ عَنْهَا قَالَ نَعَمْ قَالَ فَإنَّ لِيْ مَخْزَفًا فَأشْهِدُكَ أَنِّي قَدْ تَصَدَّقْتُ بَهَ عَنْهَا

Sesungguhnya ada seorang laki-laki bertanya; Wahai Rasulullah, Sesungguhnya ibuku telah meninggal dunia, apakah ada manfaatnya jika aku bersedekah untuknya? Rasulullah menjawab; Iya. Laki-laki itu berkata; Aku memiliki sebidang kebun, maka aku mempersaksikan kepadamu bahwa aku akan menyedekahkan kebun tersebut atas nama ibuku.

Dengan demikian, makan dan minum suguhan makanan dan minuman yang disediakan di rumah duka hukumnya boleh. Hal ini karena tuan rumah menyediakan hal itu memang untuk para pelayat. Selain untuk penghormatan kepada para pelayat yang bertamu, juga sebagai sedekah untuk mayit.

100%

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here