Hukum Konsumsi Doping bagi Atlet

0
130

BincangSyariah.Com – Olahraga merupakan salah satu hal yang sangat digemari oleh masyarakat dunia. Ada yang memposisikannya sebagai kebutuhan, ada yang menjadikannya sebagai mata penceharian, ada pula yang menganggapnya sebagai tontonan dan hiburan saja. Terlebih sepakbola, mungkin hampir tidak ada orang yang tidak menyukainya. Karena itulah, fair play dalam olahraga sangat dijaga.

Persaingan yang positif tanpa adanya niat merugikan pihak lain atau tanpa berlaku curang sangat dijunjung dalam pertandingan olahraga. Termasuk di dalamnya penggunaan doping. Dalam olahraga, doping merujuk pada penggunaan obat penngkat performa oleh para atlet agar dapat meningkatkan performanya. Akibat dari itu, doping dilarang oleh banyak organisasi olahraga di dunia.

Menurut IOC (Komite Olimpiade Internasional) pada tahun 1990, doping adalah upaya meningkatkan prestasi menggunakan zat atau metode yang dilarang dalam olahraga dan tidak terkait dengan indikasi medis (Wikipedia). Di Olimpiade Rio de Jeneiro 2016, Rusia gagal mengirimkan 118 atlet dari 389 atlet yang didaftarkan sebab terganjal kasus doping. Yang terbaru, Rusia juga dilarang tampil di Olimpiade Musim Dingin di Pyeongchang Korea Selatan 2018 dengan kasus yang sama.

Melihat realita yang sebegitu urgennya, sebenarnya bagaimanakah kacamata fikih memandang hal tersebut?

Pada dasarnya semua perkara yang suci dan tidak berbahaya jika dikonsumsi hukumnya adalah halal, seperti yang diungkapkan Syaikh Ibn Hajar dalam Al-Fatawi Al-Kubra (j. 2 h. 232),

وكل طاهر لا ضرر فى أكله يجوز أكله

“Semua perkara yang suci dan tidak membahayakan ketika dimakan, maka boleh dimakan.”

Bahaya di sini bukan bahaya kepada badan saja, namun juga berbahya bagi akal pikiran. Dalam Fath al-Mu’in (j. 2 h. 354) dikatakan:

ويحرم كل جماد مضر لبدن أوعقل كحجر وتراب وسم وإن قل إلا لمن لا يضره ومسكر ككثير أفيون وحشيش وبنج

Baca Juga :  Hukum Menjarah dalam Islam

“Haram mengkonsumsi setiap benda padat yang berbahaya bagi badan maupun akal, seperti batu, tanah, atau racun meskipun hanya sedikit. Kecuali bagi orang yang berbahaya jika mengkonsumsinya. Dan juga haram sesuatu yang memabukkan seperti opium dan ganja. ”

Maka, doping jika terbuat dari zat yang suci dan selama ia tidak berbahaya bagi badan dan akal pada dasarnya hukumnya halal untuk dikonsumsi.

Namun, jika dikaitkan dengan even- even tertentu, hukum mengkonsumsinya bisa berubah.  Dengan menggunakan doping ia membuat orang lain menganggap bahwa ia bisa melakukan suatu hal yang sebenarnya ia tidak mampu lakukan. Ini termasuk sebuah penipuan. Sedangkan penipuan hukumnya adalah haram. Seperti sabda Nabi:

من غشنا فليس منا

“Siapa yang menipu kami, maka ia bukan golongan kami.”

Meski konteks hadis ini adalah ketika jual beli, kita bisa mengambil satu ‘illat (alasan) dari sana, yang menyembunyikan sebuah kebenaran atau menipu.

Andaikata ia mendapatkan prestasi dari sebuah perlombaan, maka itu dianggap tidak sah dan hadiah yang diterimanya juga dihukumi haram. Hal ini dikatakan oleh Syaikh Sulaiman Jamal:

أو أعطى بظن صفة فيه أو في نسبه فلم يكن فيه باطنا لم يحل له قبوله ولم يملكه

“Atau ia memberi sesuatu sebab menduga orang yang diberi memiliki sebuah sifat tertentu atau memiliki garis keturunan tertentu, namun ternyata salah, maka tidak halal bagi orang yang diberi untuk menerimanya. Dan ia tidak bisa memiliki pemberian itu.”

Pada kesimpulannya, mengkonsumsi doping pada dasarnya halal jika terbuat dari zat yang suci dan tidak membahayakan bagi nbadan maupun akal. Namun, jika dalam pengonsumsian doping itu menimbulkan penipuan-penipuan maka hukumnya berubah menjadi haram. Wallahu A’lam

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here