Hukum Kentut Sambil Menghadap Kiblat

0
12

BincangSyariah.Com – Ada sebagian orang yang bertanya mengenai hukum kentut sambil menghadap kiblat. Pasalnya, banyak orang yang mengeluarkan kentut tanpa memperdulikan arah dan tempat. Asalkan sudah ingin kentut, maka dengan sembarangan dikeluarkan meskipun terkadang menghadap arah kiblat atau membelakinginya. Sebenarnya, bagaimana hukum menghadap kiblat atau membelakanginya ketika kentut? (Baca: Hukum Shalat Sambil Menahan Kentut)

Menurut para ulama, menghadap kiblat ketika mengeluarkan angin atau kentut hukumnya diperbolehkan. Tidak haram bagi seseorang kentut sambil menghadap kiblat, begitu juga tidak haram kentut sambil membelakangi kiblat. Bahkan hal itu tidak termasuk perbuatan yang dimakruhkan.

Hal ini sebagaimana telah dijelaskan oleh Syaikh Ahmad bin Hijazi Al-Fasyni dalam kitab Mawahib Al-Shamad fi Hilli Al-Fadz Al-Zubad berikut;

تنبيه: لا يكره استقبال القبلة ولا استدبارها حال الاستنجاء او الجماع او اخراج الريح

Peringatan: Tidak dimakruhkan menghadap kiblat dan juga membelakanginya saat istinja’, saat melakukan hubungan badan, dan saat mengeluarkan angin atau kentut.

Meski keluar dari dubur, namun kentut sambil menghadap kiblat atau membelakangi hukumnya boleh. Ini berbeda jika buang hajat dan kencing, maka hukumnya haram menurut para ulama jika tanpa ada penghalang atau bukan di dalam ruangan khusus untuk buang hajat atau kencing. Namun jika ada penghalang atau di dalam ruangan khusus untuk buang hajat dan kencing, maka hukumnya makruh.

Ini berdasarkan hadis riwayat Imam Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Ayyub Al-Anshari, dia berkata bahwa Nabi Saw bersabda;

إِذَا أَتَيْتُمُ الْغَائِطَ فَلاَ تَسْتَقْبِلُوا الْقِبْلَةَ وَلاَ تَسْتَدْبِرُوهَا ، وَلَكِنْ شَرِّقُوا أَوْ غَرِّبُوا. قَالَ أَبُو أَيُّوبَ فَقَدِمْنَا الشَّأْمَ فَوَجَدْنَا مَرَاحِيضَ بُنِيَتْ قِبَلَ الْقِبْلَةِ ، فَنَنْحَرِفُ وَنَسْتَغْفِرُ اللَّهَ تَعَالَى

Jika kalian mendatangi jamban, maka janganlah kalian menghadap kiblat dan juga jangan kalian membelakanginya. Akan tetapi, hadaplah ke arah timur atau barat. Abu Ayyub mengatakan; Dulu kami pernah tinggal di Syam. Kami mendapati jamban kami dibangun menghadap ke arah kiblat. Kami pun mengubah arah tempat tersebut dan kami memohon ampun pada Allah Ta’ala. Wallahu a’lam bis shawab wa murodih.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here