Hukum KB Menurut Empat Mazhab

0
1083

BincangSyariah.Com – Menyoal azal, seperti yang dijelaskan sebelumnya, (Baca: Mengenal Azal; Program Keluarga Berencana Zaman Nabi) pada zaman sekarang, istilah azal itu disebut dengan Keluarga Berencana (KB). Didukung dengan teknologi dan ilmu yang canggih, upaya pencegahan kelahiran lebih mudah dikendalikan. Upaya tersebut dapat dilakukan dengan berbagai cara, salah satunya dengan azal (coitus interuptus). Yaitu menghentikan hubungan badan sebelum terjadinya ejakulasi, agar sperma suami tidak bertemu degan induk telur istrinya. Sehingga kehamilan tidak mungkin terjadi.

Dari berbagai program KB, azal merupakan salah satu cara yang tidak memerlukan alat kusus atau zat kimiawi. Sehingga begitu banyak orang yang tertarik untuk memakai cara ini dalam usahanya. Lalu, bagaimana Islam memandang azal ini?

Cara ini sudah dikenal sejak zaman Nabi Muhammad Saw. Namun karena dalam al-Quran tidak memuat ketentuan yang pasti mengenai azal, sehingga menimbulkan perbedaan pendapat di kalangan ulama.

Penganut mazhab Imam Syafi’i berpendapat bahwa azal boleh dilakukan walau tanpa persetujuan istri. Sedangkan Jumhur Ulama mazhab Hanafi, Maliki, Hambali menyatakan bahwa azal boleh dilakukan asal atas persetujuan istri. Imam al-Gazali sebagai penganut ajaran mazhab Syafi’i dalam kitab ihya ulumuddin menyebutkan bahwa azal diperbolehkan walau tanpa persetujuan istri. Selain mendasarkan argumennya pada hadis Nabi, Imam al-Gazali juga membahas masalah ini terutama dari sudut biologi dan ekonomi.

Sedangkan Ibnu Hazm berbeda pendapat dari kebanyakan Ulama. Ibnu Hazm sebagai penganut ajaran mazhab Zahiri menentang pelaksanaan azal dengan alasan ‘pembunuhan bayi terselubung.’ Dengan adanya ketentuan ini, Ibnu Hazm mengeluarkan larangan mutlak terhadap pencegahan kehamilan.

Ibnu Hazm melarang secara mutlak azal karena hadis dari Jumadah, Nabi Saw menyifatkan azal sebagai wa’d (pembunuhan) tersebunyi, sedangkan wa’d dilarang.

Baca Juga :  Apa Yang Menyebabkan Orang Berhati Keras?

“Diriwayatkan oleh Judamah binti Wahab al-Assadiyah: saya berada di sana ketika Nabi Saw. berkumpul dengan sekelompok orang dan berkata, ‘Aku berniat melarang ghilah (melakukan seksual dengan seorang wanita yang sedang menyusui), tapi aku mengamati orang orang Bizantium dan Farisi dan melihat mereka melakukannya, dan ini tidak membahayakan anak-anak mereka.’ Mereka bertanya tentang ‘azl (coitus interuptus), dan beliau menjawab, ‘itu adalah pembunuhan bayi yang terselubung (wa’d).” (HR. Muslim dalam sahih Muslim)

Perkawinan sebagai intitusi dasar (basic intution) merupakan suatu kebutuhan hidup yang tidak terelakkan bahkan menjadi hukum alam. Hal ini dikarenakan perkawinan merupakan kebutuhan pokok bagi semua manusia. Karena tiap-tiap manusia yang normal memiliki naluri seksual yang butuh penyaluran. Penyaluran yang sesuai jalan hukum yaitu penyaluran melalui pernikahan.

Sehingga dengan pernikahan, intitusi dasar tersebut selain dapat terpenuhi juga mendapat penyaluran dengan penuh pengertian, kasih sayang dan kepuasan kedua belah pihak, maka amatlah besar daya gunanya dalam memberikan perasaan bahagia kedua belah pihak. Selain hal tersebut di atas, pernikahan juga mempunyai cakupan tujuan yang lebih luas yang di antaranya melahirkan generasi baru demi kelangsungan hidup umat manusia. Karena pada hakikatnya, dengan melahirkannya generasi baru akan menambah lebih erat hubungan pasangan suami istri. Sehingga Allah pun pernah memuji Rasul Saw. dalam firman-Nya:

وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلًا مِنْ قَبْلِكَ وَجَعَلْنَا لَهُمْ أَزْوَاجًا وَذُرِّيَّةً ۚ وَمَا كَانَ لِرَسُولٍ أَنْ يَأْتِيَ بِآيَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ ۗ لِكُلِّ أَجَلٍ كِتَابٌ

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus beberapa Rasul sebelum kamu dan Kami memberikan kepada mereka istri-istri dan keturunan. Dan tidak ada hak bagi seorang Rasul mendatangkan sesuatu ayat (mukjizat) melainkan dengan izin Allah. Bagi tiap-tiap masa ada kitab (yang tertentu).” (QS. ar-Ra’d: 38)

Baca Juga :  Manusia adalah Makhluk Seksual

Generasi baru itu diharapkan mampu melanjutkan ajaran Islam, karenanya Islam tidak menghendaki keturunan yang lemah, kekurangan jasmani dan rohani, sandang, pangan, pendidikan dan lain sebagainya. Kelemahan itu disebabkan karena ketidakseimbangan antara kebutuhan dan pendapatan dalam keluarga. Sehingga diperlukan perencanaan kelahiran anak yang satu dengan anak yang lainnya. Semoga bermanfaat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here