Hukum Jual-Beli Saham Menurut Kyai Ali Mustafa Yaqub

0
499

BincangSyariah.Com – Saat ini investasi saham telah menjadi tren sendiri, apalagi sejak Bursa Efek Indonesia (BEI) memulai gerakan ‘Yuk Nabung Saham’ dan gencar melakukan edukasi yang bekerja sama dengan Bank BRI, dengan tujuan agar setiap lapis masyarakat bisa berinvestasi. Sebab Bank BRI paling jauh jangkauannya hingga ke pelosok desa.

Namun seiring tingginya animo masyarakat dengan tren tersebut, apalagi telah ada juga pasar bursa Islami yang dikenal Islamic Index atau Islamic Syariah, maka muncul pertanyaan di sebagian masyakarat muslim mengenai hukum jualbeli saham ini, sebab barang yang diperjualbelikan tidak dihadirkan. Jadi sebenarnya bagaimana hukum perdagangan saham? Apakah Index bisa disebut bursa saham Islami?

Pertanyaan serupa juga saya dapati dalam buku Fatwa Imam Besar Masjid Istiqlal yang ditulis oleh Prof. KH. Ali Musthafa Yaqub. Buku tersebut adalah kumpulan jawaban dari pertanyaan yang diajukan kepada beliau saat menjadi Imam Besar Masjid Istiqlal.

Menurut beliau, berdagang saham di pasar bursa seperti Bursa Efek Indonesia hukumnya sah kendati transaksi jual beli itu tidak menghadirkan barang yang dijual secara konkret.

Karena sebetulnya, saham yang akan diperjualbelikan itu ada (konkret) dan dimiliki oleh penjualnya dan saham tersebut tercatat di BEI.

Jadi penjualan saham itu, menurut Pengasuh Pondok Darus-Sunnah, tidak mengandung unsur gharar (penipuan) karena tidak termasuk dalam kategori menjual barang yang tidak ada atau bai’u al-‘adam.

Yang perlu dipahami adalah bahwa sahnya transaksi jual beli tidak selamanya mengharuskan barang yang diperjualbeilkan itu hadir. Beliau mencontohkan seperti dalam bai’ salam (akad pesanan) misalnya, barang yang dijual justru belum ada sama sekali, tapi sifat-sifat dan kriteria barang itu sudah diketahui dan jual beli dengan akad salam ini sah menurut Islam.

Baca Juga :  Alasan Abu Bakar Perangi Pemberontak

Ketentuan boleh tidaknya saham telah ditetapkan oleh Dewan Syariah Nasional (DSN) Majelis Ulama Indonesia (MUI) pada 8 Syawal 1424 H/ 4 Oktober 2003 yang mengeluarkan fatwa tentang Pasar Modal dan Pedoman Umum Penetapan Prinsip Syariah di bidang pasar modal.
Fatwa ini menjelaskan berbagai hal berkaitan dengan jual beli saham, baik berkaitan dengan prinsip syariah pasar modal, emiten (perusahaan publik yang menerbitkan efek syariah, kriteria dan jenis efek syariah, transaksi efek yang dilarang dan sebagainya).

Beliau juga menuliskan bahwa Islamic Index atau Indexs Syariah dapat saja disebut sebagai pasar bursa Islami. Adapun perbedaannya dengan pasar bursa konvensional adalah bahwa pasar bursa Islami tidak memperdagangkan sesuatu yang bertentangan dengan prinsip-prinsip syariah.

Hal-hal yang bertentangan dengan prinsip syariah itu adalah apabila dalam transaksi dan barang-barang yang diperjualbelikan itu mengandung unsur maysir (judi), riba, risywah (suap), zulm atau dharar (merugikan atau membahayakan), gharar (tipuan, ada unsur maksiat dan diharamkan). Selama unsur-unsur ini tidak ada, maka transaksi maupun investasi tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip syariah.

[Tulisan ini disadur dari Buku Fatwa Imam Besar Masjid Istiqlal]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.