Hukum Jual Beli Tas Kulit Ular, Buaya, Macan

1
2270

BincangSyariah.Com – Tas, dompet, jaket yang diproduksi dari kulit hewan termasuk komoditas yang banyak diperjualbelikan di Indonesia. Bukan hanya dari kulit hewan yang dagingnya halal dimakan, seperti sapi dan kambing, komoditas tas, dompet, dan jaket kulit juga ada yang terbuat dari kulit ular, buaya, dan macan yang hukum memakannya diperdebatkan oleh para ulama.

Imam al-Mawardi dari mazhab Syafii berpendapat dalam al-Hawi al-Kabir demikian.

وَأَمَّا الطَّاهِرُ فَضَرْبَانِ: مَأْكُولٌ وَغَيْرُ مَأْكُولٍ. فَأَمَّا الْمَأْكُولُ فَيَجُوزُ بَيْعُهُ حَيًّا وَمَذْبُوحًا، وَلَا يَجُوزُ بَيْعُهُ مَيِّتًا إِلَّا الْحُوتَ وَالْجَرَادَ.

Terkait hewan yang suci itu ada dua jenis, hewan yang boleh dimakan dagingnya, dan hewan yang tidak boleh dimakan dagingnya. Hewan yang boleh dimakan dagingnya itu boleh menjualnya dalam keadaan hidup atau saat sudah disembelih. Namun, tidak boleh menjualnya saat sudah menjadi bangkai, kecuali ikan dan belalang.

Dari sini dapat dipahami bahwa hewan seperti sapi dan kambing adalah termasuk yang halal dimakan dagingnya apabil disembelih sesuai dengan kriteria syariat. Oleh karena itu, memanfaatkan kulitnya untuk dijualbelikan untuk dijadikan sebagai komoditas tas, dompet, dan jaket kulit juga boleh.

Hal ini berbeda dengan sapi atau kambing yang mati tanpa sembelihan secara syariat, misalnya mati tertabrak, itu dagingnya haram dimakan. Selain itu, kulit dari bangkai sapi atau kambing tersebut juga tidak boleh digunakan untuk menjadi bahan komoditas kecuali apabila sudah disamak. Artinya, kulit bangkai sapi atau kambing yang ingin dijadikan komoditas tas, dompet, atau jaket kulit itu harus disamak terlebih dahulu.

Selain itu, hewan buas seperti buaya, ular, dan macan itu apabila mati termasuk dikategorikan sebagai bangkai yang najis, baik disembelih ataupun tidak disembelih. Menurut mazhab Hanafi dan Syafii, kulit bangkai hewan yang tidak boleh dimakan dagingnya itu bisa menjadi suci dengan cara dibersihkan atau disamak. Hal ini, menurut Syekh Wahbah al-Zuhaili dalam al-Fiqhul Islami wa Adillatuh, sesuai dengan hadis Nabi saw.

Baca Juga :  Baju Terbuat dari Kulit Bangkai, Boleh Digunakan Salat?

(إذا دبغ الإهاب فقد طهر (رواه مسلم

Kulit apapun yang disamak itu bisa menjadi suci.

Menurut Syekh Wahbah al-Zuhaili, pendapat mazhab Hanafi dan Syafii ini lebih kuat daripada pendapat mazhab Maliki dan Hanbali yang tidak menganggap suci kulit bangkai hewan yang sudah disamak. Walaupun kulit hewan buas sudah disamak, menurut Imam al-Nawawi dalam al-Majmu‘, jual belinya tetap tidak boleh, karena kemanfaatannya saat belum disamak itu tidak jelas, karena tidak boleh dikonsumsi dan juga dipakai.

وَحَكَى الْقَاضِي حُسَيْنٌ وَإِمَامُ الْحَرَمَيْنِ وَالْغَزَالِيُّ وَجَمَاعَةٌ آخَرُونَ مِنْ الْخُرَاسَانِيِّينَ وَجْهًا شَاذًّا ضَعِيفًا أَنَّهُ يَجُوزُ بَيْعُ السِّبَاعِ لِأَنَّهَا طَاهِرَةٌ وَالِانْتِفَاعُ بِجُلُودِهَا بِالدِّبَاغِ مُتَوَقَّعٌ وَضَعَّفُوا هَذَا الْوَجْهَ بِأَنَّ الْمَبِيعَ فِي الْحَالِ غَيْرُ مُنْتَفَعٍ بِهِ وَمَنْفَعَةُ الْجِلْدِ غَيْرُ مَقْصُودَةٍ وَلِهَذَا لَا يَجُوزُ بَيْعُ الْجِلْدِ النَّجِسِ بِالِاتِّفَاقِ وَإِنْ كَانَ الِانْتِفَاعُ بِهِ بَعْدَ الدِّبَاغِ مُمْكِنًا وَاَللَّهُ أَعْلَمُ

Qadi Husain, Imam al-Haramain, al-Ghazali, dan sejumlah ulama lainnya dari Khurasan meriwayatkan riwayat nyeleneh yang daif bahwa menjual hewan buas itu boleh, karena dianggap suci, dan pemanfaatan kulitnya dengan cara disamak itu lebih diharapkan. Sejumlah ulama mendaifkan pendapat ini, karena barang yang dijual pada saat itu tidak terlihat kemanfaatannya, dan kemanfaatan kulit itu bukan sesuatu yang dituju. Karena itu, menjual kulit yang najis itu tidak boleh sesuai kesepakatan ulama, walaupun memang mungkin saja terdapat kemanfaatannya setelah disamak.

Seperti yang sudah disampaikan sebelumnya bahwa jual beli kulit hewan buas, seperti ular, buaya, dan macan termasuk hal yang diperdebatkan ulama. Jika memungkinkan, sebaiknya menghindari usaha seperti. Namun, bila memang sangat dibutuhkan sebagai ladang usaha, jual beli tas, dompet, dan jaket kulit dari hewan buas itu juga ada ulama yang membolehkan. Namun, syaratnya adalah kulit hewan buas tersebut sudah disamak atau dibersihkan sesuai standar syariat.

Baca Juga :  Etika Saat Makan Menurut Imam al-Ghazali

1 KOMENTAR

  1. […] Manusia dipersilahkan oleh Allah Swt. untuk mengelola bumi beserta isinya, demi kebaikan diri sendiri atau umum. Tapi, manusia dilarang berbuat kerusakan di muka bumi. Yakni dengan menggunakannya melebihi kewajaran atau tidak sesuai dengan aturan yang berlaku. Karena ketidakwajaran manusia pada alam akan berakibat fatal pada hidup mereka sendiri. (Hukum Jual Beli Tas atau Dompet Kulit Ular, Buaya, dan Macan) […]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here