Hukum Jual Beli Pre-Order dalam Islam

1
2183

BincangSyariah.Com – Dewasa ini, kita sering disuguhkan oleh dua istilah yang saling berkebalikan. Pertama, ada istilah pre–order. Kedua, ada istilah ready stock. Pre-Order merupakan istilah pemesanan awal. Artinya, barangnya belum selesai diproduksi, dan akan diproduksi dengan kuota tertentu, sehingga bila tidak memesan, maka dikhawatirkan akan kehabisan barang.

Adapun ready stock, merupakan istilah pemesanan barang, yang barangnya sudah tersedia. Jadi, antara pre-order dengan ready stock, perbedaannya terletak pada ready atau tidaknya barang. Jika belum ready, maka pemesanannya dinamakan pre-order. Namun jika sudah ready, maka pemesanannya biasanya dikenal dengan istilah COD (cost on delivery), yaitu ongkos berbasis biaya kirim.

Menilik dari rukun jual beli, maka suatu jual beli akan dianggap sah bilamana memenuhi rukun, yaitu: 1) adanya 2 orang yang berakad, 2) adanya shighat jual beli, 3) adanya barang yang dijualbelikan, 4) harganya harus ma’lum, dan 5) barangnya bisa diserahterimakan kapan waktunya.

Untuk barang yang dijualbelikan (mabi’), ada beberapa syarat yang harus dipenuhi, antara lain 1) barangnya itu harus halal, 2) bukan terdiri atas benda najis, dan 3) barangnya diketahui, 4) barangnya harus manfaat, 5) barangnya bisa ditamlik (dimiliki) oleh pembeli, untuk itu 6) barang yang dijual harus milik sendiri dari penjual atau milik orang yang diwakili oleh penjual.

Adapun hal yang berkaitan dengan akad, maka jual beli itu sah manakala tidak ditemui adanya gharar (penipuan), ghabn (kecurangan), majhul (barang tidak diketahui), maisir (spekulatif) dan riba.

Dalam kasus jual beli dengan sistem Pre-Order, barangnya yang dijual belikan tersebut bersifat belum ada (ma’dum), karena belum dicetak oleh penjualnya. Penjual umumnya hanya menyebutkan spesifikasi (al-washfu) dari barang yang hendak diproduksinya. (Baca: Hikmah Disyariatkannya Akad Salam)

Baca Juga :  Menjadi Sufi di Era Milenial, Mari Mengenal Arti "Uzlah" dan "Riyadah"

Karena barangnya belum ada, maka dalam kasus pre-order ini, akad yang berlaku padanya bisa dikelompokkan menjadi 2, yaitu:

  1. Dikelompokkan dalam rumpun jual beli pesan (salam), sebab barang yang akan diproduksi sudah ditunjukkan spesifikasinya
  2. Dikelompokkan dalam akad ijarah (inden barang), sebab barang yang diproduksi belum ada.

Dikelompokkan dalam rumpun jual beli pesan

Bila akad pre-order di atas dikelompokkan dalam akad jual beli pesan (salam), maka yang penting disorot dalam hal ini adalah keberadaan barang yang ma’dum (belum ada). Istilah ma’dum, dalam fiqih jual beli, pada dasarnya dikelompokkan menjadi tiga. Pembagian ini berangkat dari dasar hadits bahwa:

نهى رسول الله عن ربح ما لم يضمن

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah melarang mengambil laba yang tidak bisa dijamin.” HR. Ahmad dalam al-Musnad

Jaminan yang berlaku atas barang yang akan diproduksi, meliputi tiga model, yaitu:

  1. Ma’dum maushuf fi al-dzimmah, yaitu: barangnya belum ada, akan tetapi bisa ditunjukkan spesifikasi barangnya dan bisa dijamin pengadaannya. Para ulama’ menyepakati bahwa jenis barang semacam boleh dijualbelikan.
  2. Ma’dum la yadri yahshulu aw la yahshulu, yaitu barangnya tidak ada, dan tidak bisa dijamin pengadaannya. Para ulama’ dalam hal ini mengqiyaskan akad jual beli model barang kedua ini sebagai bai al-habl al-hablah disebabkan ketidakpastian bisa hasilnya barang, sehingga hukumnya haram.
  3. Ma’dum tabi’a li al-maujud, yaitu barangnya tidak ada, namun berpotensi ada. Misalnya calon buah yang bisa dipanen dari tanaman padi yang sudah ditanam dan diketahui kesuburannya. Biasanya akad ini masuk dalam akad tebasan. Imam Syafii menghukuminya sebagai tidak boleh selagi belum buduwwi shalahiha, yaitu nampak jelas buahnya. Sementara, para ulama’ lain memandangnya sebagai boleh karena faktor maslahah.
Baca Juga :  Kritik Ibn Khaldun terhadap Filsafat Yunani

Dengan mencermati dialektika pada barang ma’dum ini, maka akad pre-order dikelompokkan sebagai jual beli salam dengan obyek ma’dum maushuf fi al-dzimmah.

Dikelompokkan dalam rumpun akad ijarah

Sesuatu yang belum ada, dan akan diproduksi, menunjukkan bahwa pada hakikatnya orang yang memesan barang tengah menyewa jasa orang yang menjual dan kaki tangannya atau orang suruhannya  untuk memproduksi barang tersebut. Karena akad sewa jasa inilah maka ia masuk dalam bingkai akad ijarah.

Agar tidak ada yang dirugikan, maka ada ikatan janji yang menjembatani antara penyewa dan orang yang disewa. Janji itu adalah perintah membeli ketika barang tersebut sudah jadi sesuai pesanan. Oleh karena itu pula, maka akad ini sering dinamai sebagai akad ijarah li al-amiri bi al-syira’ (sewa dengan perintah membeli bila sudah jadi). Bisa pula akad ini disebut sebagai akad ijarah bi al-syarthi atau ijarah bi al-wa’di. Intinya sama, yaitu adanya janji dari pemesan.

Landasan kebolehan janji ini didasarkan pada ketetapan hadits yang menyatakan bahwa:

المسلمون على شروطهم

“Orang muslim itu harus patuh terhadap syarat yang sudah dilepaskannya.” HR. Al-Tirmidzy.

Alhasil, baik akad pre-order ini dikelompokkan sebagai akad jual beli salam maupun akad ijarah, kedua akad ini disepakati berlaku hukum kebolehannya, karena faktor maslahah. Selain itu, akad itu juga dipandang sebagai boleh dengan catatan: 1) barang yang dipesan bisa dijamin pengadaannya oleh penjual, dan 2) jelas kapan waktu penyerahterimaannya (waqtu al-qabdli).

Tanpa keberadaan dua syarat terakhir ini, maka suatu akad pre-order menjadi tidak sah disebabkan unsur ke-majhulan (tidak diketahuinya) obyek barang yang sedang dibisniskan. Wallahu a’lam bi al-shawab

1 KOMENTAR

  1. […] Di sisi lain, dengan pangsa pasar tersendiri, Grab juga menerbitkan OVO PayLater. Suatu misal ada orang yang memesan jasa makanan lewat GrabFood, atau memesan fasilitas pengantaran Grab lainnya, pada saat saldo OVO-nya kurang, maka ia bisa mengajukan penawaran pembayaran tunda melalui platform PayLater dengan aplikasi Grab yang dimilikinya. Pihak Grab memfasilitasi dengan jalan menutup semua tanggungan konsumen Grab tersebut, dan bisa dibayar di belakang hari manakala saldo OVOnya sudah terisi kembali. (Baca: Hukum Jual Beli Pre-Order dalam Islam) […]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here