Hukum Jual-Beli Online

5
38183

BincangSyariah.Com – Jual-beli merupakan salah satu kegiatan sosial di masyarakat, baik di desa maupun kota. Transaksi jual-beli hampir setiap waktu dapat kita jumpai. Pertanyaannya, dengan perkembangan zaman yang memungkinkan kita bertransaksi lewat internet, bagaimana hukum jual-beli online menurut Islam? Apakah transaksi online memenuhi syarat ijab-kabul yang ditentukan dalam Islam?

Menurut kitab Fathul Mu’in, ijab dan kabul dalam transaksi ekonomi adalah:

الايجاب هو ما دل على التملِيك دلالة ظاهرة،والقبول هو ما دل علي التملُك كذالك

Ijab adalah bukti yang menunjukan atas penyerahan dengan bukti yang jelas (dapat dipertanggungjawabkan), sedangakan kabul adalah bukti yang menunjukan atas penerimaan.

Adapun pandangan mayoritas mazhab Syafii menyarankan agar barang yang akan dijual-belikan harus terlihat terlebih dahulu secara kasat mata. Namun, ini merupakan bentuk ihtiyath (kehati-hatian) agar tidak terjadi penipuan sebagaimana hadis Nabi Saw.:

نهى رسول الله عن بيع الغرر

Artinya : Rasulullah melarang jual beli penipuan

Berdasarkan kebiasaan, sebelum transaksi pembeli biasanya telah melihat mabi’ (barang yang dijual) dan telah dijelaskan sifat dan jenis barang tersebut serta memenuhi syarat dan rukun jual beli yang lainnya oleh penjual melalui situs online yang dimiliknya.

Selain itu, bila sudah cocok atas barang yang dideskripsikan oleh penjual, pembeli mentransfer biaya yang ditentukan penjual, dan menunjukkan struk pembelian. Setelah itu, penjual melakukan proses pembelian.

Bila praktik jual-beli online seperti ini sudah dilakukan dan tidak ada yang dirugikan, maka hukum jual-beli online menjadi sah. Hal tersebut sebagaimana difatwakan oleh Syekh Muhammad bin Ahmad Al-Syathiri dalam karyanya syarah Al-Yaqut an-Nafis:

والعبرة فى العقود لمعانيها لا لصوار الالفاظ.وعن البيع و الشراء بواسطة التيلفون والتلكس والبرقيات كل هذه  الوسائل وامثلها معتمد اليوم وعليها العمل

Baca Juga :  Cara Memprediksi Lailatul Qadar Versi Imam Ghazali

Yang diperhitungkan dalam akad adalah subtansinya, bukan bentuk lafalnya. Dan jual beli via telpon, telegram, faksmile dan semisalnya telah menjadi alternatif utama dan dipraktikkan.

Oleh karena itu, kemajuan teknologi yang mempermudah transaksi ekonomi tidak menjadi halangan atas ketidaksahan transaksi ekonomi melalui online. Wallahu a’lam.

5 KOMENTAR

  1. Assalamualaikum
    Saya kemarin baru pertama kali belanja online… Saya merasa tertipu krn tidak sesuai dengan yg saya harapkan
    Soalnya si penjualnya gak menjelaskan mengenai produk tersebut

  2. Saya pernah belanja online bilangnya bagus tapi nyatanya gk sesuai harga tapi si penjual juga mau di return cuma kita kadang kasihan ya ikhlas gk ikhlas mkenya wkwkwkw

  3. Sudah disebutkan dalam artikel diatas, bahwa belanja online hukumnya sah2 saja bila memenuhi syarat & rukun jual beli. Kalau didalam hal barang yang dipesan/diterima tidak sesuai maka itu masuk kasus penipuan…
    Allahu A’lamu.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here