Hukum Jual Beli Kucing Peliharaan

9
11473

BincangSyariah.Com – Sebelum menjawab apa hukum jual beli kucing, pada dasarnya setiap jual-beli hukumnya boleh. Allah SWT berfirman:

وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا

“…padahal Allah telah menghalalkan (segala jenis) jual-beli dan mengharamkan (segala jenis) riba…” Q.S. Al-Baqarah: 275.

Sebagaimana dikatakan Imam Syafi’i dalam kitabnya, Al-Umm, segala bentuk jual-beli yang mana kedua pihak saling ridha terhadapnya adalah boleh dilakukan, kecuali jual-beli yang ditetapkan di dalam syariat tentang keharamannya. Misalnya, jual-beli yang mengandung riba dan hal-hal yang diharamkan lainnya yang dilarang Rasulullah Saw.

Secara umum, jual-beli dalam Mazhab Syafi’i didefenisikan dengan; sebuah transaksi tukar-menukar harta dengan harta yang menyebabkan beralihnya hak milik harta tersebut.

Kemudian rukun jual beli ada tiga: pelaku (penjual dan pembeli); sighat akad (ijab dan qabul); dan objek jual beli (barang dan harga). Masing-masing rukun tersebut memiliki syarat-syarat yang ditentukan syara’ yang telah dirumuskan oleh para fukaha.

Fokus kepada objek jual beli, diantara syaratnya adalah harus suci dan juga memiliki manfaat. Karena bila barang tersebut tidak bermanfaat, tidak bisa dinamakan sebagai “harta”. Oleh karenanya, hukum jual-beli hewan yang suci dan dapat dimanfaatkan adalah boleh.

Bentuk kemanfaatan hewan itu bermacam-macam. Bisa dengan memakan dagingnya, memerah susu, menunggangi, sebagai hewan penjaga, termasuk juga keindahan suaranya, bentuk dan warnanya, yang dapat menghibur dan membuat senang pemiliknya.

Hal-hal seperti ini termasuk kepada perkara tahsini (kebutuhan tersier) yang diperbolehkan. Dengannya, manusia dapat merasakan nikmat-nikmat  yang Allah SWT berikan, serta mentadabburi ayat-ayat kauniyah-Nya karena telah menciptakan makhluk-makhluk yang indah.

Allah SWT berfirman:

وَالْخَيْلَ وَالْبِغَالَ وَالْحَمِيرَ لِتَرْكَبُوهَا وَزِينَةً وَيَخْلُقُ مَا لَا تَعْلَمُونَ

“dan (Dia telah menciptakan) kuda, bagal, dan keledai, untuk kamu tunggangi dan (menjadi) perhiasan. Allah menciptakan apa yang tidak kamu ketahui.”

Imam Ar-Rafi’i dalam Fath Al-’Aziz mengklasifikasikan hewan yang suci ke dalam dua macam; hewan suci yang dapat dimanfaatkan (termasuk manfaat keindahan suara dan warnanya), dan yang tidak dapat dimanfaatkan. Hewan kiteria pertama boleh diperjualbelikan, sedangkan hewan kriteria kedua tidak.

Baca Juga :  Bolehkah Membayangkan Wanita Lain, Ketika Bercinta Dengan Istri?

Adapun kucing peliharaan, telah mencukupi kriteria-kriteria hewan yang boleh untuk diperjualbelikan. Diantara kriteria itu adalah suci dan bermanfaat, dan kucing adalah hewan yang suci dan bermanfaat. Diantara bentuk manfaat tersebut adalah keindahannya yang membuat pemiliknya senang dan terhibur, bisa menangkap tikus dan binatang-binatang kecil lainnya.

Pendapat mengenai bolehnya jual-beli kucing peliharaan ini adalah pendapat mayoritas ulama, termasuk imam Abu Hanifah, Imam Syafi’i, dan Imam Ahmad bin Hanbal.

Meskipun begitu, ada kalangan ulama yang memakruhkan jual beli kucing, berdasarkan hadis berikut:

عَنْ أَبِي الزُّبَيْرِ، قَالَ: سَأَلْتُ جَابِرًا، عَنْ ثَمَنِ الْكَلْبِ وَالسِّنَّوْرِ؟ قَالَ: «زَجَرَ النَّبِيُّ ﷺ عَنْ ذَلِكَ»

Dari Abu Zubair dia berkata, ‘saya bertanya kepada Jabir mengenai uang hasil usaha jual-beli anjing dan kucing, dia menjawab: “nabi Saw. melarang perbuatan seperti itu.”’ H.R. Muslim

Argumen yang dikemukakan ulama yang melarang jual-beli kucing ini kemudian dibantah oleh Jumhur ulama, bahwasanya kucing yang dimaksudkan dalam hadis tersebut adalah kucing liar, karena tidak memiliki manfaat.

Ada juga yang berpendapat bahwa kucing yang dilarang untuk diperjualbelikan dalam hadis tersebut adalah kucing yang bukan milik penjual, atau kucing yang tidak ada manfaatnya bagi pembeli.

Berdasarkan uraian di atas, jual-beli kucing peliharaan hukumnya boleh, sebagaimana pendapat Jumhur Ulama. Akan tetapi, bila pemilik kucing rela memberikan kucing peliharaannya kepada orang lain secara cuma-cuma, hal tersebut adalah lebih baik, agar keluar dari perbedaan pendapat ulama yang melarang jual-beli kucing. Wallahu a’lam.

9 KOMENTAR

  1. Klo sudah dilarang dengan jelas dalam hadist … Ya harus di patuhi … Jangan di cari dengan dalil yang tidak searti dengan maksud larangan tersebut … Misal kucing … Ya harus dengan dalil yang menunjukkan makna kucing …

  2. Nggak bisa gitu juga…
    Ada larangan yang mutlak haram, ada larangan yg bersifat makruh.
    Jadi hal ini harus diperjelas dulu, arah larangannya kemana….

  3. Jadi saya masih bingung ,yang ga boleh di jual belikan hanya kucing liar kan ?? Maaf apakah ada yang bisa memberi kejelasannya utk kucing piaraan boleh apa tidak ??? Meskipun sy sudah membaca di atas .

  4. Mayoritas ulama menghalalkan…dan hadist pun mengatakan yg dimaksud adalah sinnur…dlm bahasa arab itu kucing liar….jelas tak ada manfaat’a….klw di indonesia nama’a macan akar…..jgn ikut ulsma salafi…mereka2 itu tidak jelas keilmuan’a….bnyak pake hafist dhaif….selalu mengambil keputusan berdasarkan kemauan mereka sendiri…karna mencerna hadist gk pake otak….syafei..hanafi..hanbali…itu bkan ulama kaleng2…hadist2 yg kita pakek pun
    Semua rujukan berdasarkan kitab2 mereka….klw salafi…ada gk mereka ngumpulkN hadist….gk ada…tpi heran’a mereka pula lah yg paling tau…..otak2 mereka sesat dlm berfikir..

  5. Jangan menghina orang lain, kalau salah ya dinasehati yang baik. Mau atau tidak itu Allah yang kasih hidayah. Anda menilai orang lain dengan kalimat yang sebenarnya masih banyak kalimat yang lebih santu.

  6. Yg saya aneh pada nanya dalil, trs ada yg bilgang sudah jelas dg hadist dilarang. Pertanyaannya lbh jelas hadist apa ayat Al Quran? Itu kan uda di kasih ayat Al Quran yg menerangkan boleh jual beli Segala jenis, jgn bilang pada nentang tp kalian pada beli motor, mobil, hp dg cara kredit yg sudah jelas itu masuk ke riba..

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here