Hukum Jual Beli Buku yang Masih Disegel

0
16

BincangSyariah.Com – Kebanyakan buku-buku yang dijual di toko-toko disegel dengan bungkusan plastik. Alasannya karena dari sekian banyak pengunjung yang datang, hanya segelintir yang benar-benar membeli buku-buku tersebut. Kebanyakan pengunjung hanya membaca dan melihat-lihat tanpa membelinya. Oleh karena itu, buku-buku tersebut disegel sebagai bentuk dari perawatan inventaris untuk meminimalisasi kerusakan yang akan mengurangi nilai jual buku tersebut. Dilihat dari kacamata fikih, bagaimana hukum jual beli buku yang masih disegel tersebut?

Syariat Islam mengatur tata cara jual beli yang wajib diikuti dalam usaha perdagangan agar terhindar dari penipuan, pemalsuan, atau pemaksaan. Oleh karena itu, Islam tidak membenarkan upaya kecurangan dalam transaksi jual beli yang berbentuk eksploitasi, pemerasan, monopoli, serta penipuan dalam segala bentuk. Salah satu bentuk kecurangan dalam transaksi jual beli adalah jual beli yang mengandung gharar.

Secara umum, jual beli gharar adalah jual beli yang mengandung ketidakjelasan, pertaruhan, spekulasi, atau perjudian.  Rasulullah sendiri melarang jual beli gharar dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra:

نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ بَيْعِ الْحَصَاةِ وَعَنْ بَيْعِ الْغَرَرِ

“ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang jual beli al-hashah ( dengan melempar batu ) dan jual beli gharar.” (HR Muslim)

Tak semua praktek gharar diharamkan dalam Islam. Sebab gharar sendiri secara kuantitas terbagi menjadi dua; pertama, gharar berkuantitas ringan ( yasir) yang oleh ahli fikih dihukumi mubah dan transaksi jual belinya dihukumi sah. Kedua, gharar yang berkuantitas banyak (fahisy) yang hukumnya haram dan membatalkan pada akad.

Salah satu yang menyebabkan terjadinya gharar adalah objek jual belinya (mabi’) tidak diketahui kualitas dan kuantitasnya. Ketidakjelasam obyek jual beli rawan menimbulkan perselisihan dan sengketa di kemudian hari. Hal ini terlihat dalam praktek jual beli buku yang masih disegel (wraping).

Buku bersegel yang akan dibeli tersebut masih tidak jelas. Ketidakjelasan ini disebabkan antara lain oleh ketidaktahuan (jahl) dalam sifat objek akad (kualitas buku) serta ketidaktahuan dalam ukuran  dan takaran objek akad (kuantitas buku).

Ketidakjelasan ini menyebabkan calon pembeli tidak bisa mengetahui kondisi buku secara jelas dan pasti. Demikian bisa disimpulkan bahwa transaksi jual beli buku bersegel mengandung praktek gharar.

Namun, gharar yang terdapat dalam jual beli buku bersegel masih tergolong gharar yang berkuantitas ringan (yasir). Sebab ketidaktahuan pembeli pada buku tersebut masih bisa diminimilisir dengan unsur-unsur berikut: judul dan pengarang buku, penerbit buku, sinopsis buku (biasanya ada di cover belakang), adanya ISBN (International Standard Book Number), dan tentunya harga yang tertera jelas. Dengan adanya unsur-unsur tersebut, calon pembeli bisa mengetahui secara sekilas. Jadi bisa disimpulkan bahwa transaksi jual beli buku yang masih disegel hukumnya tetap sah menurut syariat.

Selain itu, pembeli masih memiliki hak khiyar ru’yah. Hak ini merupakan hak opsional bagi pembeli untuk membeli atau membatalkan pembelian suatu barang yang belum ia lihat ketika akad berlangsung. Hal ini sebagaimana dijelaskan oleh Syekh Zakariya al-Anshari dalam kitab Asna al-Mathalib (2/20):

(وَفِيْ الكُتُبِ) كَالـمُصْحَفِ تُشْتَرَطُ (رُؤْيَةُ جَمِيْعِ أَوْرَاقِ الـمَكْتُوْبِ وَالْبَيَاضِ)

Dan dalam jual beli buku, seperti mushaf al-Qur’an, disyaratkan untuk melihat semua halaman-halamannya,  baik halaman yang tertulis maupun halaman yang kosong”. Wallahu a’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here