Hukum Jual Beli Barang KW dan Bajakan dalam Islam

0
40

BincangSyariah.Com – Umumnya, masyarakat memahami bahwa yang dimaksud dengan barang KW adalah barang tiruan, dengan kualitas yang tentu berbeda dengan kualitas barang merek aslinya. Barang KW merupakan barang dengan kualitas rendah, namun menembak terhadap kualitas barang yang terkenal.

Ada dua tipe peniruan sebagaimana diatur dalam hukum positif negara, yakni lewat UU Nomor 20 Tahun 2016 tentang Merek dan Indikasi Geografis. (Baca: Hukum Menonton Film Melalui Situs Streaming Ilegal Menurut Etika Bisnis Islam)

Pertama, maksud dari barang KW ini adalah barang yang tanpa hak diproduksi dengan menggunakan Merek yang sama pada keseluruhannya dengan Merek terdaftar milik pihak lain untuk barang dan/atau jasa sejenis yang diproduksi dan/atau diperdagangkan.

Kedua, setiap barang yang dengan tanpa hak, diproduksi dengan menggunakan Merek yang mempunyai persamaan pada pokoknya dengan Merek terdaftar milik pihak lain untuk barang dan/atau jasa sejenis, yang diproduksi dan/atau diperdagangkan.

Jika menilik dari dua ciri khas di atas, maka umumnya, kita memasukkan kategori barang KW itu adalah pada kelompok definisi yang pertama. Lebih tepatnya, kita istilahkan saja sebagai barang palsu.

Adapun pada definisi kelompok kedua, nampaknya hal tersebut lebih dekat dengan istilah barang identik. Identik tidak selalu menunjuk pada pengertian sama. Meski demikian, kedua praktik di atas adalah dilarang secara hukum positif negara.

Lantas, bagaimana menurut hukum Islam? Mari kita kaji bersama!

Aspek Pelanggaran dari Barang Palsu dan Barang Identik

Ada sisi yang membedakan antara kedua istilah barang palsu dan barang identik jika ditelaah dari sudut pandang aspek yang dilanggar.

Pelanggaran pengadaan barang kategori pertama (barang palsu), adalah penggunaan hak kekayaan intelektual milik orang lain secara tanpa ijin. Pelanggaran ini diperparah dengan penggunaan merek dan logo yang sama atas merek suatu produk dari perusahaan tertentu.

Adapun, bila kita berbicara mengenai barang identik, maka sisi pelanggaran dari pengadaan barang ini adalah aspek meniru. Meniru merupakan kondisi yang dekat dengan istilah adaptasi setelah mempelajari. Sudah barang tentu, setiap ada obyek yang dipelajari, maka obyek tersebut tidak jauh dari kondisi barang aslinya.

Baca Juga :  Tips Berpuasa Sehat Bagi Penderita Diabetes

Perbedaannya antara barang identik dengan barang asli adalah ada perbedaan kualitas yang sudah pasti tidak akan pernah sama persis, sebab dalam barang identik ada istilah memodifikasi barang aslinya.

Untuk memudahkan memahami makna kedua dari istilah terakhir ini, kita bisa memperhatikan dua marketplace yang ada di Indonesia.

Ada marketplace Bukalapak dan Tokopedia. Keduanya memiliki sisi perbedaan merek. Namun keduanya identik dari banyak sisi cara membuka lapaknya, cara membuka akun, sistem depositnya, dan lain sebagainya.

Apakah salah satunya, bisa kita sebut produk KW? Tentu tidak. Sebab ada sisi lain yang tidak sama dari keduanya, yaitu dari segi teknik penawaran dan pemasarannya.

Aspek Fikih Jual Beli Barang KW

Jadi, dalam kesempatan ini, ketika kita berbicara mengenai barang KW, maka pada dasarnya, alam bawah sadar kita menghendaki untuk digiring ke istilah pertama, yaitu jual beli barang palsu, yaitu suatu barang yang diproduksi dengan mengatasnamakan merek dagang tertentu yang terkenal dengan tanpa ijin, sehingga kualitas barang menjadi tidak sama dengan barang merek aslinya.

Akibat dari produksi barang  palsu ini, sudah barang tentu, produsen asli pemilik merek dagang dirugikan (dlarar)  baik secara reputasi (jah), maupun secara finansial (maliyah).

Dalam pandangan Syekh Wahbah Al-Zuhaily, dalam kitabnya Nadhariyatu al-Dlamman, setiap kerugian yang bisa dinyatakan dalam bentuk kalkulasi materiil, maka hasil kalkulasi kerugian dapat dipergunakan untuk meminta ganti rugi, baik kepada pihak yang menjadi penyebab langsung (mubasyir) atau tak langsung (mutasabbib) timbulnya kerugian (dlarar). Hal ini berangkat dari kaidah la dlarara wa la dlirara (tidak boleh bertindak merugikan atau berbuat saling merugikan dengan pihak lain).

Sahkah akad jual beli terhadap barang KW?

Baca Juga :  Hijrah Bukan Sinonim Menikah

Karena ada unsur tadlis (pemalsuan) terhadap merek dagang yang asli, maka ada dua pandangan dari para ulama’.

Menurut Syeikh Ibnu Hajar al-Asyqalani, hukum menjualbelikan barang KW adalah haram disebabkan adanya hadits yang secara tegas menyatakan larangan melakukan  praktik khadi’ah (penipuan), yang mana praktik ini ditengarai lewat praktik bai’ najasy.

Bai’ najasy merupakan istilah dari jual beli yang direncanakan dalam bentuk menipu calon konsumen. Alhasil, praktik ini sama illatnya dengan jual beli barang KW.

Terhadap praktik bai’ najasy ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إن البيع مردود ، وإن البيع لا يحل

Sesungguhnya jual beli najasy (tipu-tipu) ini adalah tertolak, dan praktik jual belinya tidak halal.” [Fathu al-Bari Syarah Shahih Bukhari li Ibn Hajar al-Asqalani, juz 4, halaman 417)

Adapun menurut pandangan Imam al-Rafii, sebagaimana beliau menukil pendapatnya Imam Al-Syafii rahimahullah ta’ala, batasan keharaman itu tidak berlaku apabila pihak produsen tidak mengetahui bahwa praktik yang ia lakukan adalah dilarang.

Jadi, apabila pihak produsen produk KW itu tidak tahu bahwa memproduksi barang KW adalah dilarang karena illat penipuannya (khadiah), maka hukum jual beli produk KW tersebut hukumnya adalah tetap sah, namun pelakunya dihukumi ma’shiyat sehingga berdosa. Imam al-Rafii menyampaikan sebuah nukilan:

أطلق الشافعي في ” المختصر ” تعصية الناجش، وشرط في تعصية من باع على بيع أخيه أن يكون عالما بالنهي

“Imamuna Al-Syafi’i dalam Kitab al-Mukhtashar telah menyampaikan akan status maksiatnya pelaku najasy (pemalsuan), dengan takhsish berdasar dalil status maksiatnya orang yang menjual barang yang ditawar oleh saudaranya, khususnya bila orang tersebut tahu bahwa praktik itu dilarang syara’” (Fathu al-Bari Syarah Shahih Bukhari li Ibn Hajar al-Asqalani, juz 4, halaman 417)

Pertanyaannya kemudian adalah apakah larangan ini disebabkan karena semata illat khadi’ah-kah? Atau karena alasan yang lain?

Baca Juga :  Menurut Imam Abu Hanifah, Semua Komoditas Agraria Mesti Dizakati

Dalam hal ini, kita bisa kembali melakukan kilas balik terhadap dampak dari produksi barang KW atau barang palsu. Sudah pasti, produsen asli menjadi rugi (dlarar) karena hadirnya  pihak pemalsu produk tersebut. Kerugian inilah yang menjadi illat sebenarnya dari dilarangnya praktik jual beli barang KW itu. Hal ini sebagaimana disampaikan oleh Al-Rafii dalam kesempatan berikut:

واستشكل الرافعي الفرق بأن البيع على بيع أخيه إضرار، والإضرار يشترك في علم تحريمه كل أحد

“Imam Al-Rafii menganggap sulit untuk memerinci mengenai illat yang menyebabka dilarangnya jual beli najasy adalah karena adanya unsur idlrar (niat merugikan) terhadap jual beli saudaranya. Keharaman berlaku idlrar (merugikan pihak lain) adalah sama, baik seseorang mengetahui dalil keharaman atau tidak.” (Fathu al-Bari Syarah Shahih Bukhari li Ibn Hajar al-Asqalani, Juz 4, halaman 418)

Alhasil, dalil asal jual beli barang palsu adalah terlarang disebabkan karena adanya unsur idlrar. Dan keberadaan idlrar ini ditengarai dengan adanya tindakan khadi’ah.

Namun, para ulama ahli penyarah kitab menegaskan lain, yaitu bahwa semata karena praktik khadi’ahnya itu, praktik jual beli barang KW inni dilarang.

وأجاب الشارحون بأن النجش خديعة، وتحريم الخديعة واضح لكل أحد، وإن لم يعلم هذا الحديث بخصوصه

“Para penyarah kitab menjawab bahwa praktik najsy (praktik pemalsuan dalam jual beli) adalah dilarang sebab unsur khadi’ah (pengelabuannya). Keharaman khadi’ah (kamuflase / KW-isasi) ini merupakan yang jelas bagi setiap orang, kendati ia belum mengetahui penjelasan hadits yang menunjukkan larangan tersebut secara khusus. Lain halnya, dengan jual belinya seseorang terhadap barang yang masih ditawar oleh saudaranya, maka larangan itu tidak diketahui oleh setiap orang, (melainkan yang bersangkutan semata),” (Fathu al-Bari Syarah Shahih Bukhari li Ibn Hajar al-Asqalani, Juz 4, halaman 417)

Wallahu a’lam bi al-shawab

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here