Hukum Inseminasi Buatan pada Hewan

0
21

BincangSyariah.Com – Semakin berkembangnya zaman menyebabkan kemajuan di berbagai aspek kehidupan. Dalam bidang peternakan, zaman sekarang sudah mengenal inseminasi buatan. Inseminasi buatan dapat dilakukan pada setiap hewan peliharaan. Namun, pada masyarakat Indonesia inseminasi buatan hanya populer dalam perternakan sapi saja, karena masih belum ada permintaan inseminasi pada hewan lainnya. Bagaimanakah hukum inseminasi buatan pada hewan dalam Islam?

Inseminasi Menurut Dinas Perikanan dan Peternakan

Sebagaimana penulis kutip dari situs resmi Dinas Perikanan dan Peternakan Kabupaten Temanggung, inseminasi buatan pada sapi (kawin suntik) adalah  suatu cara atau teknik untuk memasukkan mani (spermatozoa atau semen) yang telah dicairkan dan telah diproses terlebih dahulu yang berasal dari ternak jantan ke dalam saluran alat kelamin betina dengan menggunakan metode dan alat khusus yang disebut ‘insemination gun.

Inseminasi buatan ini memiliki beberapa kelebihan daripada perkawinan secara alami sebagai berikut:

Pertama, menghemat biaya pemeliharaan ternak jantan. Kedua, dapat mengatur jarak kelahiran ternak dengan baik. Ketiga, mencegah terjadinya kawin sedarah pada sapi betina (inbreeding). Keempat, dengan peralatan dan teknologi yang baik spermatozoa dapat simpan dalam jangka waktu yang lama.

Kelima, semen beku masih dapat dipakai untuk beberapa tahun kemudian walaupun pejantan telah mati. Keenam, menghindari kecelakaan yang sering terjadi pada saat perkawinan karena fisik pejantan terlalu besar. Ketujuh, menghindari ternak dari penularan penyakit terutama penyakit yang ditularkan dengan hubungan kelamin.

Proses inseminasi buatan dilakukan dengan jual beli sperma yang dilakukan dari penjual dan pemilik sapi betina yang ingin dibuahi. Harga setiap sperma berbeda-beda sesuai dengan jenis pejantannya.

Inseminasi Buatan pada Hewan Menurut Islam

Nabi Muhammad saw. melarang melakukan asbu al-fahli yakni jual beli yang dilakukan dengan meminjamkan pejantan untuk membuahi betina. Hal ini dapat kita temukan dalam kitab sunan al-daramy juz 2 halaman 352 berikut,

عن أبي هريرة قال : نهى رسول الله صلى الله عليه و سلم عن ثمن عسب الفحل

Artinya: “Dari Abu Hurairah berkata ‘Rasulullah saw. telah melarang dari harga ‘asbul fahli

Praktik pembuahan yang dilakukan di masa Nabi tidak diperbolehkan karena pada masa itu pembuahan dilakukan secara langsung dengan memasukan sperma pejantan kepada betina tanpa mengetahui berapa kadar sperma yang masuk. Praktik pembuahan ini masuk dalam jual beli barang majhul (tidak diketahui kadarnya) yang mengandung ngarar (ketidak jelasan).

Hal ini berbeda dengan praktik inseminasi buatan, di mana sperma pejantan ditaruh dalam botol yang telah diketahui kadar ukurannya sehingga aman dari adanya unsur penipuan.

Dalam kitab Fathul bari juz 1 halaman 126, Imam Ibnu Hajar menyebutkan bahwa apabila pejantan disewakan dalam kurun waktu tertentu maka diperbolehkan.

وَفِي وَجْه لِلشَّافِعِيَّةِ وَالْحَنَابِلَة تَجُوز الْإِجَارَة مُدَّة مَعْلُومَة ، وَهُوَ قَوْل الْحَسَن وَابْن سِيرِينَ وَرِوَايَة عَنْ مَالِك قَوَّاهَا الْأَبْهَرِيُّ وَغَيْره ، وَحَمَلَ النَّهْي عَلَى مَا إِذَا وَقَعَ لِأَمَدٍ مَجْهُول ، وَأَمَّا إِذَا اِسْتَأْجَرَهُ مُدَّة مَعْلُومَة فَلَا بَأْس كَمَا يَجُوز الِاسْتِئْجَار لِتَلْقِيحِ النَّخْل

Artinya, “Menurut aspek pendapat dari kalangan Syafi’iyah dan Hanabilah, boleh hukumnya menyewakan pejantan selama kurun waktu tertentu. Hal ini selaras dengan pendapat al-Hasan, Ibnu Sirin dan satu riwayat dari Imam Malik yang dikuatkan oleh al-Abhary dan lainnya. Sementara larangan yang termuat dalam hadis itu diarahkan  pada kasus sewa dengan waktu yang tidak diketahui. Apabila menyewakan dengan batas waktu yang diketahui, maka tidak ada masalah sebagaimana kebolehan mengambil ongkos pemetikan benang sari untuk mengawinkan pohon kurma .”

Redaksi ini memberikan indikasi adanya kebolehan melakukan pembuahan apabila telah diketahui kadar ukurannya seperti dalam kasus penjualan benang sari untuk mengawinkan pohon kurma.

Untuk zaman sekarang, menentukan kadar sperma bukan perkara sulit sehingga illat (alasan) keharaman sudah tidak ditemukan. Apabila illat ketidak jelasan tidak dijumpai di zaman sekarang ini, maka begitu pula hukum keharaman melakukan pembuahan. Sebagaimana dalam kaidah fikih,

الْحُكْم يَدُور مَعَ عِلَّته وُجُودًا وَعَدَمًا

“Hukum memandang dari ada atau tidaknya illat (alasan)”

Dari penjelasan di atas dapat diketahui bahwa proses inseminasi buatan diperbolehkan karena adanya kejelasan serta jaminan terhadap sperma dalam proses inseminasi buatan.

Demikian. Wallhu a’lam

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here