Hukum Hibah Tanpa Persetujuan Ahli Waris

0
607

BincangSyariah.Com – Pernah ada seseorang yang menghibahkan sebagian hartanya pada anak angkatnya, namun hibah tanpa persetujuan ahli waris, seperti anak-anak kandungnya. Untuk menghindarkan perselisihan, maka akhirnya hibah tersebut dibatalkan. Sebenarnya, apakah hibah harus minta persetujuan ahli waris? Lalu bagaimana jika hibah tanpa persetujuan ahli waris, apakah sah? (Baca: Apakah Anak Tiri Berhak Mendapatkan Warisan dari Ayah Tirinya?)

Ketika seseorang hendak menghibahkan harta miliknya kepada orang lain, seperti anak angkat atau lainnya, maka ia tidak harus minta persetujuan dari ahli warisnya, baik anak-anak kandungnya atau lainnya. Ia boleh menghibahkan hartanya kepada siapa saja, tanpa persetujuan dan sepengetahuan dari ahli warisnya.

Selama ia menghibahkan hartanya di waktu dalam keadaan sehat, maka ia tidak perlu minta persetujuan dan pemberitahuan kepada ahli warisnya. Namun jika ia menghibahkan hartanya di waktu dalam keadaan sakit yang mendekati kematian, maka ia boleh menghibahkan dari sepertiga hartanya. Jika lebih dari sepertiga hartanya, maka harus mendapatkan persetujuan dari ahli warisnya.

Hal ini sebagaimana disebutkan dalam kitab Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyah berikut;

أَمَّا الْمَرِيضُ مَرَضَ الْمَوْتِ فَإِنَّ حُكْمَ هِبَتِهِ حُكْمُ وَصِيَّتِهِ، فَلَهُ هِبَةُ ثُلُثِ أَمْوَالِهِ، وَفِيمَا زَادَ لاَ يَجُوزُ إِلاَّ بِمُوَافَقَةِ الْوَرَثَةِ.

Adapun orang yang sakit dengan sakit kematian, maka hukum hibahnya dihukumi seperti hukum wasiatnya. Ia boleh menghibahkan sepertiga dari hartanya, dan yang lebih dari sepertiga hukumnya tidak boleh kecuali ada persetujuan dari ahli waris.

Adapun dalil bahwa hibah tidak harus minta persetujuan dari ahli waris adalah riwayat Imam Malik dari Sayidah Aisyah, dia berkata;

إِنَّ أَبَا بَكْرٍ الصِّدِّيقَ كَانَ نَحَلَهَا جَادَّ عِشْرِينَ وَسْقًا مِنْ مَالِهِ بِالْغَابَةِ فَلَمَّا حَضَرَتْهُ الْوَفَاةُ قَالَ وَاللَّهِ يَا بُنَيَّةُ مَا مِنْ النَّاسِ أَحَدٌ أَحَبُّ إِلَيَّ غِنًى بَعْدِي مِنْكِ وَلَا أَعَزُّ عَلَيَّ فَقْرًا بَعْدِي مِنْكِ وَإِنِّي كُنْتُ نَحَلْتُكِ جَادَّ عِشْرِينَ وَسْقًا فَلَوْ كُنْتِ جَدَدْتِيهِ وَاحْتَزْتِيهِ كَانَ لَكِ وَإِنَّمَا هُوَ الْيَوْمَ مَالُ وَارِثٍ وَإِنَّمَا هُمَا أَخَوَاكِ وَأُخْتَاكِ فَاقْتَسِمُوهُ عَلَى كِتَابِ اللَّهِ قَالَتْ عَائِشَةُ فَقُلْتُ يَا أَبَتِ وَاللَّهِ لَوْ كَانَ كَذَا وَكَذَا لَتَرَكْتُهُ إِنَّمَا هِيَ أَسْمَاءُ فَمَنْ الْأُخْرَى فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ ذُو بَطْنِ بِنْتِ خَارِجَةَ أُرَاهَا جَارِيَةً

Baca Juga :  Dua Macam Penghalang Hak Waris

Artinya:

Abu Bakar telah memberi Aisyah dua puluh wasaq dari dari harta miliknya di wilayah Ghabah. Ketika Abu Bakar mendekati ajalnya, dia berkata; Wahai anakku, demi Allah, tidak ada seorangpun yang saya senangi untuk menjadi kaya setelahku kecuali dirimu.

Tidak ada orang yang menyusakanku kefakirannya setelahku dari kamu. Saya telah memberimu dua puluh wasaq (kurma) dari hartaku, sekiranya kamu telah memanen dan mengumpulkannya, maka itu menjadi milikmu.

Namun hari ini, harta itu menjadi harta warisan. Berilah dua saudara laki-lakimu dan dua saudarimu, bagilah atas dasar Kitabullah. Aisyah berkata; Wahai ayahku, demi Allah, jika terjadi ini dan itu (kematianmu), sungguh aku akan meninggalkan kepemnilikanku itu.

Saudaraku adalah Asma, lalu siapa lagi yang harus aku perhatikan? Abu Bakar berkata; Kandungan yang ada dalam perut binti Kharijah, saya lihat dia seorang budak wanita (tanggunganku).

Dalam riwayat ini, Abu Bakar telah menghibahkan hartanya yang ada di Ghabah kepada Aisyah tanpa persetujuan dari anak-anak Abu Bakar yang lain sebelum akhirnya harta itu diminta pada Aisyah untuk dijadikan harta waris. Ini menunjukkan bahwa hibah tanpa persetujuan ahli waris itu boleh.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here