Hukum Ganti Nama Setelah Pulang Haji

0
281

BincangSyariah.Com – Harapan haji yang dilaksanakan oleh setiap muslim adalah menjadi haji yang mabrur. Ketika ibadah tersebut menjadi haji yang mabrur, kepulangan ke kampung halaman seyogyanya membawa perubahan yang positif dan terlihat menjadi lebih baik. Perubahan tersebut bisa berbentuk baik dalam hal ibadah, perilaku, ataupun hanya perubahan nama yang lebih baik lagi. Misalnya nama pemberian orang tua memiliki konotasi yang negatif, maka langkah yang diambil adalah mengganti nama tersebut.

Penggantian nama setelah haji sudah menjadi sesuatu yang lumrah di Indonesia. Misalnya di Kebumen, mengganti nama setelah menyelesaikan ibadah haji justru menjadi tradisi yang masih dipertahankan hingga kini. Mengganti nama baru yang lebih baik lagi bukan hanya untuk gaya-gayaan atau faktor yang lain, melainkan untuk memiki nama yang baik dan kebaikan dalam nama tersebut bisa kembali kepadanya. Yang demikian berdasarkan keterangan Nabi dalam hadis di bawah ini:

عن أبى الدرداء قال قال رسول الله -صلى الله عليه وسلم- إنكم تدعون يوم القيامة بأسمائكم وأسماء آبائكم فأحسنوا أسماءكم.  قال أبو داود ابن أبى زكرياء لم يدرك أبا الدرداء

Dari Abu Ad-Darda’ beliau berkata: Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pernah bersabda: “Sesungguhnya kalian dipanggil pada hari kiamat dengan nama-nama kalian dan nama-nama bapak bapak kalian maka baguskanlah nama-nama kalian.” (HR Abu Daud)

Mengganti nama yang berkonotasi jelek hukumnya boleh, kapan saja. Termasuk dalam waktu setelah menyempurnakan ibadah haji. Mengganti nama setelah haji dengan niat yang optimis dan berharap serta berdoa dengan nama yang lebih baik menjadikan Allah memberikan kebaikan dan keberkahan sebagaimana doa yang ada dalam nama tersebut. Harapannya, orang tersebut akan menjadi insan yang semakin baik lagi sehabis melaksanakan ibadah dan mengganti namanya.

Baca Juga :  Doa Berada di Multazam

Mengganti nama tidak harus melulu setelah melakukan ibadah haji saja. Jika memang nama yang disematkan merupakan nama yang bermakna jelek dan tidak pantas, boleh mengubah nama tersebut kapan saja. Sebab nama yang demikian adalah makruh.  Dalam kitab Hasyiyah Al Bajuri, Burhanuddin Ibrahim Al Bajuri memaparkan:

و تكره الأسماء القبيحة كحمار وكل ما يتطير نفيه او إثباته وتحرم التسمية بعبد الكعبة أو عبد الحسن أو عبد علي ويجب تغيير الإسم الحرام على الأقرب لأنه من إزالة المنكر

Dimakruhkan nama-nama yang memiliki arti yang buruk, seperti “keledai” dan setiap nama yang tidak jelas eksistensinya. Haram pula memberi nama Abdul Ka’bah, Abdul Hasan, Abdul Ali. Maka wajib mengubah nama-nama yang memiliki unsur haram semacam itu dalam rangka menghilangkan kemungkaran

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here