Hukum Fotografi dalam Islam

0
76

BincangSyariah.Com Berfoto dengan menggunakan kamera, terutama kamera gawai, saat ini sudah dilakukan hampir semua orang. Bahkan saat ini berfoto sudah menjadi gaya hidup dalam kegiatan aktifitas sehari-hari. Dalam Islam, bagaimana hukum fotografi atau berfoto dalam Islam?

Dalam fikih, fotografi atau berfoto dengan menggunakan kamera disebut al-tashwirus syamsi, atau gambar yang dihasilkan melalui kamera. Menurut Syaikh Wahbah Al-Zuhaili, fotografi atau gambar yang dihasilkan melalui kamera hukumnya boleh, tidak dilarang dalam Islam.

Ini sebagaimana telah beliau sebutkan dalam kitab Al-Fiqhul Islami wa Adillatuhu berikut;

أما التصوير الشمسي أو الخيالي فهذا جائز، ولا مانع من تعليق الصور الخيالية في المنازل وغيرها، إذا لم تكن داعية للفتنة كصور النساء التي يظهر فيها شيء من جسدها غير الوجه والكفين، كالسواعد والسيقان والشعور، وهذا ينطبق أيضا على صور التلفاز

Adapun hukum gambar dari hasil kamera atau lukisan itu boleh, dan tidak ada larangan untuk menggantungkan gambar animasi di rumah dan lainnya selama tidak mendatangkan fitnah seperti gambar perempuan yang tampak sesuatu dari tubuhnya selain wajah dan kedua telapak tangan, seperti pergelangan tangan, betis dan rambut. Ini juga berlaku pada gambar televisi.

Di antara alasan mengapa fotografi atau gambar dari hasil kamera hukumnya boleh adalah karena gambar dari kamera bukanlah menghasilkan objek baru yang menyerupai ciptaan Allah, melainkan hanya merekam objek yang sudah ada. Gambar atau foto yang dihasilkan dari kamera ibarat gambar hasil cermin. Para ulama bersepakat mengenai bolehnya gambar yang ada di cermin.

Beliau berkata dalam kitab Al-Fiqhul Islami wa Adillatuhu sebagai berikut;

والسبب في إباحة الصور الخيالية: أن تصويرها لا يسمى تصويراً لغة ولاشرعاً، لما تقدم من بيان معنى التصوير في عهد النبوة، ولأن هذا التصوير يعد حبساً للظل أو الصورة، مثل الصورة في المرآة والصورة في الماء

Baca Juga :  Ngaji al-Hikam: Amalan Baik Tidak Menjamin Kita Selamat dari Siksa Api Neraka

Sebab kebolehan gambar kamera adalah karena proses menggambarnya tidak disebut menggambar secara bahasa maupun syariat, sebagaimana penjelasan mengenai menggambar di zaman kenabian. Juga karena gambar dari kamera hanya merekam bayangan atau gambar, sebagaimana gambar dalam cermin dan dalam air.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here