Hukum Bisnis Penukaran Uang THR Lebaran

0
635

BincangSyariah.Com – Lebaran tak lengkap rasanya tanpa bagi-bagi tunjangan hari raya atau kita sering sebut THR. Istilah THR yang awalnya merupakan nama program pemerintah, sekarang maknanya meluas menjadi segala macam hadiah di sekitar hari raya. Seorang paman misalnya, pasti akan mempersiapkan THR terbaiknya untuk para keponakannya. Biasanya mereka diminta untuk berbaris dan sang paman membagi-bagikan uang THR ke masing-masing anak. Semakin tua usianya semakin besar pula uang THR yang akan diterima. 

Uang THR yang dibagi biasanya dalam bentuk pecahan mulai dari logam sampai uang kertas. Pertanyaannya adalah bagaimana hukum menukarkan uang untuk keperluan THR?

Dalam Islam tukar-menukar uang diperbolehkan atau mubah. Tukar-menukar uang disebut al-sharf. Menukar uang dapat dilakukan antara uang dalam bentuk rupiah ke rupiah dalam pecahan tertentu atau dari rupiah ke mata uang lainnya.

Al-sharf atau pertukaran mata uang untuk mata uang yang sama mesti dilakukan dengan jumlah yang sama dan tunai. Misalnya pecahan uang Rp. 100.000 ditukar menjadi pencahan Rp. 20.000 maka jumlah yang diterima harus Rp. 20.000 sebanyak 5 (lima) lembar tidak boleh kurang atau lebih.

Apabila menukarkan uang di pinggir jalan, misalnya, jumlah uang yang diberikan untuk ditukarkan tidak sesuai dengan yang diterima maka jatuh pada perbuatan riba, haram. Untuk itu baiknya apabila ingin menukar uang dengan pecahan tertentu baiknya dilakukan di bank.

Rasulullah saw. bersabda sebagaimana diriwayatkan oleh imam Bukhari

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم الذهب بالذهب ربا إلا هاء وهاء

Artinya: Rasulullah saw bersabda, pertukaran emas dengan emas adalah riba kecuali dengan tunai.

Riba dapat diartikan sebagai perolehan tidak sah, yang diperoleh dari ketidakserataan kuantitatif nilai-nilai yang dipertukarkan di dalam transaksi apa pun, yang bertujuan memengaruhi pertukaran dua atau lebih jenis barang yang termasuk dalam jenis yang sama, serta diatur menurut sebab efisien yang sama.

Baca Juga :  Apakah Biaya Administrasi Kredit di Pegadaian Termasuk Riba?

Sedangkan untuk pertukarang mata uang yang berbeda seperti Rupiah ke Dolar maka yang harus diperhatikan adalah transaksi harus dilakukan secara tunai tidak boleh ditunda. Karena belum tentu nilai rupiah saat ini sama dengan nilai rupiah nanti yang akan datang. Untuk itu pertukaran mata uang yang berbeda harus dilakukan di tempat dan tunai.

Rasulullah saw bersabda sebagaimana diriwayatkan oleh imam Abu Daud:

عمر بن الخطاب رضي الله عنه قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم الذهب بالورق ربا ، إلا هاء وهاء

Artinya: Dari Umar ibn Khaththab Ra, Rasulullah saw bersabda pertukaran emas dengan perak adalah riba kecuali tunai.

Dari penjelasan di atas dapat dipahami bahwa penukaran uang antar satu mata uang yang sama atau antarmata uang yang berbeda diperbolehkan, selama dilakukan tunai. Yang menjadi catatan penting adalah ketika ingin menukarkan uang adalah tidak boleh untuk tujuan spekulasi, ada kebutuhan untuk melakukan transaksi tersebut, apabila antarmata uang yang sama maka harus tunai dan nilainya sama, dan apabila antarmata uang yang berbeda harus mengikuti kurs yang ada dan dilakukan tunai.

Adapun jika transaksi antar mata uang yang memerlukan waktu karena persoalan administrasi sehingga tidak dapat diserahterimakan secara langsung maka itu diperbolehkan.

Wallahu’alam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here