Hukum Berwudu dan Mandi Junub Menggunakan Air yang Tercampur Sabun

2
3875

BincangSyariah.Com – Berwudu menggunakan air yang suci dan menyucikan merupakan kewajiban agar salat dianggap sah. Dalam istilah fikih, air itu disebut dengan air mutlak. Sementara itu, air yang berubah dengan sebab tercampur benda suci, seperti sabun, itu disebut dengan air mutaghayyir. Terkait air mutaghayyir, Syekh al-Hishni dalam Kifayatul Akhyar menyatakan demikian:

وَالْمَاء الْمُتَغَيّر بِشَيْء من الطاهرات طَاهِر فِي نَفسه غير مطهر كَالْمَاءِ الْمُسْتَعْمل وضابطه أَن كل تغير يمْنَع اسْم المَاء الْمُطلق يسلب الطّهُورِيَّة وَإِلَّا فَلَا فَلَو تغير تغيراً يَسِيرا فَالْأَصَحّ أَنه طهُور لبَقَاء الِاسْم

Air yang berubah sebab tercampur benda suci itu hanya suci namun tidak dapat menyucikan sebagaimana air mustakmal. Batasan air dikategorikan demikian ialah setiap perubahan yang dapat menghilangkan kemutlakan air, maka itu dapat menghilangkan sifat menyucikannya. Jika tidak demikian, maka air itu tetap menyucikan, seperti halnya perubahan air hanya sedikit, maka itu tetap suci dan menyucikan, karena sifat kemutlakan airnya masih ada.

Oleh karena itu, air di ember, bak, dan lain sebagainya yang sudah tercampur dengan sabun, sampai bau sabunnya tercium menyengat, maka itu tidak boleh digunakan untuk berwudu, mandi junub, dan menghilangkan najis. Hal ini karena air tersebut hanya suci, namun tidak menyucikan. Air seperti itu boleh digunakan untuk mencuci pakaian yang tidak ada najisnya.

Selain itu, perubahan yang tidak mempengaruhi sifat menyucikannya air itu adalah bila benda terkait memang berkaitan erat dengan air, misalnya air berubah warnanya sebab serpihan-serpihan semen bak sebagaimana penjelasan Syekh al-Hishni berikut:

أما إِذا كَانَ التَّغَيُّر بِمَا لَا يَسْتَغْنِي المَاء عَنهُ كالطين والطحلب والنورة والزرنيخ وَغَيرهمَا فِي مقرّ المَاء وممره والمتغير بطول الْمكْث فَإِنَّهُ طهُور للعسر وَبَقَاء اسْم المَاء.

Baca Juga :  Hukum Berwudu dengan Mengobok Air di Gayung

Sementara itu, jika perubahan tersebut sebab benda yang berkaitan erat dengan air, seperti tanah, eceng gondok, semen, batu, dan lain sebagainya yang berada di tempat air menetap atau melewati benda itu, dan juga air yang berubah karena terlalu lama mengendap. Semuanya itu suci dan menyucikan, karena sulit untuk menghindarinya dan masih melekatnya kemutlakan air.

Terakhir, ada satu hal yang perlu dicatat. Perubahan air yang sampai dinyatakan tidak dapat menyucikan itu tidak harus berubah tiga sifat air, rasa, warna, dan bau, secara bersamaan. Artinya, bila air yang tercampur sabun itu tidak bau sabun, namun warnanya berubah butek seperti warna sabun, maka air tersebut tidak sah digunakan untuk bersuci. Hal ini sebagaimana penjelasan Syekh al-Hishni berikut:

وَيَكْفِي فِي التَّغَيُّر أحد الْأَوْصَاف الثَّلَاثَة الطّعْم أَو اللَّوْن أَو الرَّائِحَة على الصَّحِيح

Dalam perubahan (yang menghilangkan sifat menyucikan) cukup salah satu sifat air yang tiga, rasa, warna, atau bau itu berubah menurut pendapat yang sahih.



BincangSyariah.Com dikelola oleh jaringan penulis dan tim redaksi yang butuh dukungan untuk bisa menulis secara rutin. Jika kamu merasa kehadiran Bincangsyariah bermanfaat, dukung kami dengan cara download aplikasi Sahabat Berkah. Klik di sini untuk download aplikasinya. Semoga berkah.

2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here